...

>Wah, mas Yusuf, saya tidak ingin berdebat apakah kebijakan "price ceiling"
>ini ada atau tidak, saya yakin ada. Buktinya dengan artikel di Kompas yang
>menyatakan bahwa tarif telepon lokal akan ditinjau kembali:
>
>http://www.kompas.com/kompas-cetak/9902/25/UTAMA/tari01.htm
>
>Namun, yang paling penting sekarang adalah "setting the price-right" dan itu
>adalah tugas yudikatif bersama dengan eksekutif.

Yw: Setuju. Sayang sekarang urgensinya agak tanda tanya.
    (Dalam arti: masih banyak urusan-urusan yg lebih gede
    belum beres).

>Kalau mas mengatakan bahwa
>dari indikator-indikator "investasi" tidak ada yang wah, well saya memang
>setuju. Namun sayang, saya bukan pemilik saham TELKOM, dan perspektif yg
>saya anut sekarang (saya akui idealis) adalah membantu menggerakkan
>pertumbuhan ekonomi Indonesia, dan mahalnya ongkos telekomunikasi akan
>menghambat proses "recovery" ekonomi nasional (referring to the dead weight
>loss to society's well being, and the ripple cost effect of an unregulated
>or minimally regulated utilities pricing)
>
>Henry

Yw: Ini juga saya setuju. Menurut saya, tingkat
    profitabilitas yg lebih tinggi bisa dicapai melalui pendekatan
    lain (tidak harus menaikkan rate/mengoptimalkan otot-monopoli).
    Yg sempat terpikir oleh saya: [1] Pengecilan organisasi
    (sehingga jadi lebih langsing); dan [2] Penjualan aset non
    produktif/non-prospektif (misalnya gedung/tanah tertentu,
    dan aset-aset begituanlah). Kendalanya: cuma soal waktu.

    Yg [1] & [2] itu kan nggak bisa cepet, sehingga pemerintah
    [ei. the acting owner of the company] cenderung mengeluarkan
    jurus kepepetisme [orang kepepet] [Kita tahu, orang kepepet
    kan biasanya kurang mikir panjang,... yg penting selamet
    dulu...].

    ;-)

Kirim email ke