: From: Andrew G Pattiwael <[EMAIL PROTECTED]>
: To: [EMAIL PROTECTED]
: Subject: Kenetralan Media Massa: (Re: DEMONSTRASI )
: Date: 27 Februari 1999 0:19
:
: Bung Nur,
:
: ngga usah bingung bung,
: jelas yang di Indonesia (Yg Mayoritas Muslim) pasti membela yang muslim
: sedangkan yang di Belanda (Yg Mayoritas Kristen) akan membela yang nasrani
: Sekarang tergantung dari kitanya sendiri, Darimana kita menerima sumber
: berita tersebut, kalau dari media yang memang berbau-bau keagamaan, jelas
: mereka tentu akan membela kaumnya.
: Kalau bung mencari berita di ummat, jelas bung melihat yang Islam telah
: didiskriminasi sedangkan kalau bung mencari berita di fica.net, jelas
: yang Kristen yang merasa didiskriminasi.
: Sekarang kan seharusnya ada penjelasan dari Aparat, yang seharusnya NETRAL
: dalam menengahi permasalahan keagamaan di Ambon ini, apakah mereka NETRAL
: atau bisa bersikap NETRAL dalam menyelesaikan permasalahan ini.
: Sekarang bagi kita, mari kita cari kebenaran dengan mencari berita-berita
: yang tidak miring sebelah, cari berita yang bersikap netral atau yang
: selama ini netral. Bolehlah kita membaca berita yang ditulis oleh media
: Islam maupun Kristen, namun kita harus tau bahwa tidak semua pemberitaan
: media-media tersebut NETRAL. Iya kan?

BAGIAN YANG INI SAYA SETUJU BUNG ANDREW. Enggak ada media yang netral, karena di dalamnya penuh atau sarat kepentingan. Mana mungkin netral. Yang mungkin dipertanyakan apakah kira-kira informasi yang diberikannya lebih banyak faktanya, atau lebih banyak opininya, atau lebih berat dan banyak tuduhannya? Saya kira ini yang harus diawasi. Kalau masalah kepentingan (there is no value free in this life), sama-sama kita maklumi saja sejauh tidak mengganggu kepentingan orang lain.

: Seperti yang kita ketahui kan, Suara pembaruan adalah media yang bermisi
: Kekristenan, jelas media suara pembaruan ini akan memberitakan
: pemberitaan yang akan membela Kristen Indonesia, sedangkan Republika yang
: adalah media bermisikan Keislaman tentu akan berbuat demikian juga.
:
: Carilah pemberitaan yang netral atau setidaknya cari berita yang asli
: dari Ambon, yang tentunya juga bersikap NETRAL.

YANG INI AGAK KURANG SETUJU. Anda seperti ajak saya bermimpi untuk memperoleh media yang netral atau bebas kepentingan (baca situsnya Jurgen Habermas dan mazhab Frankfurt yang banyak tersebar di internet), mana mungkin. Semua punya kepentingan, paling tidak (ini yang tidak anda sebutkan) mereka punya kepentingan bisnis alias cari untung. Judul berita harus seksi, mengundang atau menarik perhatian, dan kalau perlu menimbulkan polemik dan kontroversi. Dengan cara itu orang berebut beli koran. Coba bayangkan kalau berita di koran AS tentang Indonesia dengan judul yang tidak menarik, siapa mau beli (disamping juga jadi dagangan politik mereka).

Berita langsung dari Ambon sendiri pun tidak pernah netral. Data atau fakta kejadian pada dirinya sendiri (mungkin) netral. tapi ketika dibahasakan dia akan telak-telak mewakili kepentingan tertentu. Paling tidak dia mewakili kepentingan orang yang membahasakannya. Kalau ada laporan atau tulisan langsung dari Ambon (kalau tidak salah saya pernah forwardkan 2 kali), jelas dia mewakili kepentingan si pengirim. Yang kita tidak tahu adalah apa kepentingan orang tersebut. Apakah dia minta diberi perhatian, atau dia minta dilindungi oleh pemerintah pusat? Gimana?

: Semoga kita yang di permias@ selalu bersikap NETRAL,
:
Salam jumpa lagi. Lama saya tidak komentari tulisan anda. Pada hal anda salah satu yang bersemangat dan rajin serta optimis dalam milis ini.

Salam
[EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke