Seperti yang sudah-sudah, sebagai seorang perantauan dari Ambon, yang mempunyai tali ikatan darah, hidup dari tanah dan air yang sama, merasa Ambon dan Maluku sebagai tempat kelahiran dan kecintaan Beta, saya ingin mengajak para rekan-rekan permias@ baik yang berasal dari Maluku (Kristen dan Islam) maupun rekan-rekan yang ikut merasakan penderitaan yang telah menimpa para saudaras-saudara saya dari pulau ambon untuk mengadakan dialog penyelesaian yang hasilnya dapat kita kirimkan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Kalau bisa saya minta tolong, mungkin rumusan-rumusan yang akan kita dapati setelah dialog ini dapat dikirimkan kepada Gubenur Maluku, para Tetua Adat di Ambon, para Ulama-ulama, Pendeta-pendeta, serta Uskup di Ambon. Secara pribadi saya meminta tolong kepada Bung Ramadhan Pohan, yang mempunyai latar belakang jurnalistik, yang telah berpengalaman dalam mengirim masukan kepada New York Times waktu lalu. Lebih baik lagi, jika kita mendapat dukungan dari Masyarakat Maluku di LN, contohnya di Belanda, supaya terjadi keseragaman dan KEBERSAMAAN dalam mencari penyelesaian ini. Mungkin juga hasil ini dapat kita kirimkan melalui KBRI di washington dc., lewat bapak Dubes Dorodjatun, dengan penjelasan bahwa hasil ini adalah hasil kesepakatan dialog antar mahasiswa dan pelajar indonesia di AS. Dan saya berharap, hasil dialog kita TIDAK MENTOK lagi dalam kerumitan birokrasi pemerintah. Tidak tembus di pemerintah, cari jalan lain agar hasil dialog ini terekspos. Mungkin dapat melewati Majelis Ulama Indonesia, KWI/PGI, berita-berita asing, berita-berita dalam negeri. Kalau masih tidak tembus lagi, kita harus membicarakan langkah selanjutnya, mungkin dengan langkah drastis. Referensi kepada MEDIA-MEDIA di IBUKOTA maupun kepada Maluku Pos juga harus kita bicarakan, harus disinggung juga agar didapat KENETRALAN dalam memberitakan hasil dialog kita, dan tidak adanya lagi Kemiringan hanya untuk menyelamatkan muka para elitis seperti yang sering dilakukan oleh media-media affiliasi contohnya Kompas. Putih adalah Putih, dan Hitam adalah Hitam, kita harus siap menerima konsekwensinya. yang kita bicarakan adalah masa depan tempat saya berasal dan masa depan bangsa secara keseluruhan. Saya meminta tolong secara pribadi kepada rekan-rekan untuk bersungguh-sungguh dalam dialog ini. Saya tidak mau lihat tanah air saya hancur lebur seperti ini, mau bilang apa saya sama anak cucu, kalau sampai Maluku harus dipecah seperti Cyprus, hanya karena perbedaan agama, sehingga memisahkan anak basudara. Terima Kasih sekali atas bantuan saudara-saudara semua. Andrew Pattiwael
