Saya sangat setuju dengan paragragh terakhir bahwa rakyat di Ambon
adalah saudara-saudara kita baik Islam maupun Kristen. Sebaiknya ini
juga jadi patokan berpikir kita untuk saudara-saudara kita dilokasi yang
berbeda. Saya mengamati banyak pihak yang hanya menganggap kelompok
seagama saja yang menjadi saudara, sedangkan kelompok lain tidak perlu
diperhatikan. Pendapat semacam inilah yang ditunggu-tunggu para
provokator dan pemicu kerusuhan, yaitu memperuncing masalah antar
kelompok agama.
Mudah-mudahan kita semua dapat berpikir jernih bahwa sebenarnya kita
sedang diadu domba, dan sifat chauvinistis serta pemahaman agama yang
tanggung-tanggung menjadi senjata untuk memperburuk kondisi ini.
peace.

Dodo D. wrote:
>
> Sdr Andrew,
>
> Usulan anda sangat bagus, tapi saya rasa, sebagian sudah dilaksanakan
> oleh berbagai pihak, baik ABRI, Pemerintah pusat dan daerah, tokoh2
> agama, dan organisasi2 independen lainnya.
> 1. Usulan anda yang pertama ini sedang dilaksanakan oleh ABRI, dengan
> mengirimkan satu batalyon TNI-AD dari Jatim, satu detasemen ZIPUR
> Marinir, dan satu batalyon TNI-AD dari Jateng. Ini pertandaa niat baik
> dari ABRI untuk bertindak netral.
> 2. Usulan kedua dan seterusnya sebenarnya sudah dilaksanakan di Ambon,
> tapi belum mampu menyelesaikan masalah.
> Kalau menurut saya, yang paling penting sekarang justru saran anda di
> akhir posting, yaitu pendekatan moral dan agama oleh pihak2 yang bisa
> di dengar oleh masyarakat, baik itu para pemuka agama dan adat,
> organisasi2 HAM yang independen, maupun tokoh2 nasional yang punya
> potensi untuk bisa di dengar suaranya oleh masyarakat Ambon. MS pernah
> di minta untuk kesana karena di percaya bisa menyelesaikan masalah,
> tapi sampai sekarangpun kelihatan masih pasif.
>
> Saya cuman bisa ikut berdoa saja deh supaya tragedi nasional yang
> menimpa saudara2 kita di Ambon baik yang muslim maupun yang kristen
> segera bisa diselesaikan dan dikembalikan seperti dahulu dimana
> kerukunan menjadi simbol dan kebanggaan masyarakat Maluku.
>
> ---Andrew G Pattiwael <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > Pendekatan secara militer/polisi:
> >
> > 1.  Mengirimkan atau mengaktifkan kesatuan yang netral atau tidak
> > mempunyai latar belakang dalam kerusuhan di Ambon, contohnya, jangan
> > mengirimkan kesatuan dari Wirabuana yang anggotanya kebanyakan dari
> suku
> > Makassar-Buton-Bugis. Jangan pula mengirimkan kesatuan yang anggotanya
> > kebanyakan berasal dari Ambon Kristen, Kesatuan Trikora (terutama
> > Indonesia Kristen-nya)
> >  Hal ini untuk mencegah agar tidak terjadinya pihak memihak dari pada
> > para penjaga keamanan
> >  kepada salah satu golongan.
> >
> > 2. Demiliterisasi Kota Ambon ( Perlucutan Senjata )
> >  Menganjurkan kepada  para masyarakat umum, untuk menyerahkan
> > senjata-senjata tajam atau
> >  bahan peledak yang dapat digunakan untuk tindakan anarki secara
> damai.
> > Phase ini adalah
> >  phase pertama dari demiliterisasasi kota Ambon
> >
> > Phase kedua adalah Perintah untuk gencatan senjata dan penyerahan
> > alat-alat kekerasan kepada kantor polisi dan militer di kota Ambon.
> >
> > Phase ketiga adalah Pengeledahan rumah-rumah penduduk atau razia
> > ditempat-tempat umum kepada tersangka (bukan pengeledahan dan razia
> > massal) untuk meranjau senjata-senjata, alat-alat tajam dan bahan
> peledak
> > yang tidak dapat dipertanggung jawabkan keberadaannya.
> >
> > Phase keempat, penggeledahan dan perazian massal di kantong-kantong
> yang
> > rawan dengan kerusuhan.
> >
> > Pemberlakuan Jam Malam bagi tempat-tempat tertentu, dan dapat
> > ditingkatkan untuk seluruh kota Ambon.
> >
> > Tentu semua ini harus mendapat konsent dari para pemuka agama, tetua
> > adat, dan berdasarkan keinginan sebagian besar warga kota Ambon,
> supaya
> > tidak terjadi perasaan dirampasnya hak asasi manusia oleh pihak
> keamanan.
> >
> > 3.  Penempatan Satuan-satuan keamanan secara menyeluruh dan berada
> > dibawah kesiagaan yang tinggi.
> >  Penerapan zona-zona keamanan yang akan memisahkan sementara kantong
> > Kristen dan kantong
> >  Muslim yang pernah berseteru selama kerusuhan ini, dan tidak bisa
> > didamaikan dalam waktu yang
> >  singkat. Penempatan pasukan yang cukup bagi kantong-kantong yang
> menjadi
> > minoritas dan lemah,
> >  terutama kantong-kantong Muslimnya.
> >
> > 3.  Perlindungan bagi perumahan para minoritas dengan penempatan
> satuan
> > keamanan dan diberlakukannya pemeriksaan diri pada unsur-unsur luar
> yang
> > ingin memasuki wilayah tersebut.
> >  Pemeriksaan KTP atau sejenisnya.
> >
> > 4.  Koordinasi 24 jam antar pihak Gubernur, Kapolda, Pemuka Agama,
> Wakil
> > Operasi ABRI di Ambon, yang dapat melerai kerusuhan sewaktu-waktu
> diperlukan.
> >
> > 5.  Perlindungan thd setiap rumah ibadah, agar tidak ada lagi isu-isu
> > yang mengatakan bahwa telah terjadi pembakaran thd gereja atau mesjid.
> > Ini dapat dilakukan oleh para anggota jemaat masing-masing rumah
> ibadah,
> > dapat dihubungi lewat telepon sewaktu-waktu diperlukan untuk
> kejelasannya.
> >
> > 6.  Pertemuan rutin antar pemeluk beragama, yang dapat dilakukan untuk
> > mengadakan koordinasi dan kesepakatan berdamai atau kerjasama. Aparat
> > Pemda, Pemuka Agama, keamanan diharapkan dapat hadir untuk memantau
> > jalannya pertemuan.
> >
> > 7.  Dibutuhkannya Tim dari luar yang dapat memantau hasil kesepakatan
> > damai yang telah disetujui oleh bersama. Tim Komnas Ham atau Tim
> > Independent harus segera dibentuk dan diberangkatkan ke  Ambon guna
> > menjadi penengah dalam dialog damai ini.
> >
> >
> > Setelah Pendekatan secara Militer/polisi ini,  baru diadakan dialog
> atau
> > pendekatan secara keagamaan dan kebersamaan antar warga Ambon.
> >
> > Tolong ditambahkan kalau ada masukan selanjutnya..
> >
> > andrew pattiwael
> >
>
> _________________________________________________________
> DO YOU YAHOO!?
> Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com

Kirim email ke