Assalamu�alaikum, Saudara-saudara sekalian, Sejak bergulirnya agenda reformasi sampai dengan saat ini dimana situasi politik dan stabilitas keamanan nasional masih belum pulih dan belum bisa dikendalikan seperti apa yang diharapkan oleh seluruh masyarakat, ABRI selalu mendapat sorotan tajam. ABRI telah dinilai oleh masyarakat sebagai belum berpihak kepada rakyat dan belum berhasil melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai kekuatan pertahanan dan keamanan. Berbagai kerusuhan yang terjadi sejak bergulirnya agenda reformasi sampai dengan tragedi yang saat ini masih berlangsung di Ambon masih belum bisa di selesaikan dan diungkap penyebabnya secara transparan oleh ABRI. Sebagian besar masyarakatpun masih bertanya tanya, ada apa sebenarnya di balik semua kekacauan yang terjadi selama ini? Berbagai dugaanpun lantas bermunculan dan tentu saja, sebagian besar opini masyarakat yang dipelopori oleh kaum intelektual dan mahasiswa ramai ramai berasumsi bahwa kekacauan yang terjadi selama ini memang sengaja ditimbulkan dengan berbagai alasan. Saya menangkap ada dua anggapan pokok dalam melihat penyebab kekacauan yang sampai saat ini masih terus berlangsung. Yang pertama adalah adanya usaha salah satu kelompok untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari tuntutan tuntutan terhadap pemerintahan Habibie seperti tuntutan untuk mengadili mantan presiden Soeharto dan kroni2nya. Yang kedua, dan masih berhubungan dengan yang pertama, adalah sebagai usaha untuk menciptakan kesan di masyarakat bawah bahwa ternyata reformasi tidak membuahkan hasil yang baik, bahwa ternyata sistem pemerintahan yang lama lebih memberikan kestabilan politik dan ekonimi, serta ketenteraman kepada masyarakat, dengan demikian masyarakat mungkin akan memilih untuk kembali ke tatanan lama, dan status quo dapat di pertahankan. Di lain pihak, pemerintah dan aparat keamanan selalu berusaha menolak anggapan anggapan tersebut dengan mengatakan bahwa kerusuhan kerusuhan yang terjadi dilatar belakangi oleh tindak kriminal murni, dan tidak ada unsur politik maupun SARA dibelakangnya. Namun mereka seperti kurang menyadari bahwa masyarakat sekarang tidak bisa "dibohongi" begitu saja. Masyarakat sudah menjadi sangat kritis dan jeli melihat situasi yang berkembang secara dinamis di sekitarnya, sehingga pada titik titik tertentu, pemerintah dan aparat keamanan tidak bisa lagi menutup nutupi adanya permainan politik dibalik berbagai peristiwa yang mengorbankan nyawa ribuan rakyat Indonesia. Walaupun dalam berbagai hal, pemerintah dan aparat keamanan sudah mengakui adanya hal ini, tapi tindakan nyata yang di tunggu tunggu oleh masyarakat untuk mengakhiri semua itu, masih belum nampak ditunjukkan oleh pemerintah maupun aparat keamanan (ABRI). Masih terlihat kesan bahwa pemerintah dan ABRI bertindak lamban, dan ini mengesankan pula bahwa pemerintah dan ABRI masih belum bisa sepenuhnya berpihak kepada rakyat. Lambatnya tindakan ABRI sebagai aparat keamanan dalam menangani berbagai peristiwa, dan belum berpihaknya ABRI secara penuh kepada rakyat, dinilai sebagai akibat dari terlalu lamanya ABRI berkecimpung dalam politik praktis, sehingga tugas utamanya sebagai kekuatan hankam justru terabaikan. Selama puluhan tahun berkecimpung di dalam politik dan pemerintahan, telah menyebabkan orientasi para perwira ABRI terhadap kekuasaan dan materi mengalahkan orientasi mereka sebagai prajurit yang seharusnya lebih professional di bidangnya. Akhir akhir ini masyarakat yang dipelopori oleh mahasiswa menuntut agar ABRI mundur secara total dari gelanggang politik praktis, dan kembali ke "fitrahnya" sebagai militer yang professional, terpisah dari urusan sosial politik. Walaupun hal ini mutlak harus dilaksanakan untuk bisa mewujudkan negara yang benar benar demokrasi, tapi pelaksanaannya tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, hal ini memerlukan proses yang bertahap, sistematis dan berkesinambungan. Kita, masyarakat dan mahasiswa berhak dan harus terus menerus menyerukan agar ABRI mereformasi dirinya dan mengaktualisasikan kembali fungsinya sebagai kekuatan hankam yang professional. Tapi alangkah lebih baik kalau kita juga bisa memberikan kontribusi dan masukan kepada ABRI dan pemerintah yang berupa solusi untuk membentuk kembali ABRI kita sebagai organisasi yang professional, karena bagaimanapun ABRI adalah milik kita bersama, dan merupakan unsur yang harus dimiliki oleh suatu negara. Saya secara pribadi mengusulkan beberapa hal yang perlu untuk di lakukan oleh ABRI dan pemerintah serta rakyat. 1. ABRI harus secara sadar dan bertahap mundur dari arena politik praktis dan kemudian kembali kepada hakekatnya sebagai prajurit rakyat, prajurit pejuang dan prajurit nasional. ABRI adalah prajurit dari rakyat, yang berjuang bersama sama rakyat dan untuk kepentingan rakyat, sehingga ABRI juga harus berpihak kepada rakyat. 2. ABRI (dan pemerintah) harus lebih tanggap terhadap permasalahan keamanan yang timbul di tengah tengah masyarakat serta harus bertindak cepat dan tepat untuk mengatasinya. Dalam hal ini ABRI juga harus transparan dan netral serta berpijak kepada hukum. 3. ABRI, sebagai bagian dari masyarakat, tidak berada diatas hukum, tapi harus menegakkan hukum. 4. Supremasi sipil terhadap ABRI mutlak diperlukan untuk mengontrol setiap langkah yang diambil oleh ABRI, sehingga keberpihakan ABRI terhadap rakyat bisa tetap di pelihara. 5. Rakyat juga harus secara konsisten memberikan masukan kepada ABRI demi kebaikan bersama. Berikan kesempatan kepada ABRI untuk membenahi dirinya secara bertahap sambil memberikan masukan, kritik, dan saran secara kontinyu. 6. Pemerintah (dan rakyat) juga harus lebih memperhatikan kesejahteraan anggota ABRI, sehingga mereka bisa lebih konsentrasi kepada tugasnya, tanpa harus memikirkan ekonomi keluarga dan sekolah anak anaknya. Seseorang tidak akan bisa menjadi professional jika konsentrasinya kepada tugas masih harus terpecah dengan masalah lain (khususnya masalah perut). 7. Sediakan mainan mainan baru (persenjataan dan perlengkapan yang mumpuni) bagi ABRI, sehingga mereka akan disibukkan dengan pengembangan dan penyesuaian dirinya dengan tekhnologi. Ibarat seorang anak kecil, kalau diberikan mainan yang mengasyikkan, dia cenderung untuk tidak mengganggu ibunya. 8. Karena anggaran kita untuk ABRI (militer) masih sangat kecil dibanding dengan jumlah personelnya (dan ini adalah yang terkecil dibandingkan dengan negara2 tetangga seperti Singapore dan Malaysia), maka pemerintah dan masyarakat juga harus sadar untuk meningkatkannya. Itu saja usulan dari saya, mungkin ada usulan2 lain dari rekan rekan Wassalam _________________________________________________________ DO YOU YAHOO!? Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com
