Hush, Ghaib DIAM KAU, jangan banyak omong !

Ini Perintah ! Cam-kan itu

Wiranto
JENDRIL

-----Original Message-----
From: Pungkas Bahjuri Ali <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 11 Maret 1999 5:09
Subject: Wawancara Andi Ghaib dengan Provokator


>Wawancara Andi Ghaib dengan Provokator
>
>Cilincung, 30 February 99
>(Mingguan TEMPE, Enak Dibacem dan Perlu)
>
>Berikut ini adalah wawancara Andi Gaib, seorang responden TEMPE, dengan
>seorang provokator yang belakangan selalu menjadi cover story sebagai
>Biang Kerok (huruf e dibaca seperti "keok" bukan "ketok").
>
>Wawancara berlangsung pukul 10.00 WIB di sebuah toko di pasar Cilincung,
>Jakarta Utara. Ketika sedang rame-ramenya orang belanja. Namun wawancara
>tidak terganggu sama sekali, karena berlangsung di sebuah ruangan
>tertutup, terjaga oleh dua orang Dalmas sewaaan. Wawancara berlangsung
>unik karena sang provokator tidak mau menampakkan dirinya, sehingga di
>antara kami dipasang sebuah tirai kelabu dengan sebuah lubang sebesar
>telunjuk.
>
>Berikut ini petikan wawancara kami:
>
>AG: (Andi Ghoib): Siapa nama Anda?
>Prov(Provokator): Hari ini S. Doger
>
>AG: Hari ini?
>Prov: Ya ...saya sedang menggarap Cilincung. Kemarin di Ambon nama saya
>Brigjen eh... Mayjen K(unyuk), dulu ketika di Banyuwangi... nama saya
>Oknum, di Tasikmalaya nama saya Aktor Intelektual, di Medan Kambing
>Hitam.
>
>AG: Di KTP anda?
>Prov. KTP yang mana? Saya punya banyak KTP, kecuali KTP Jakarta. Maaf
>....habis mahal biayanya.
>
>AG: Di mana anda lahir? Apakah masa kecil Anda kurang bahagia?
>Prov: Saya adalah produk bayi tabung . Konon,  kata orangtua saya, bayi
>tabung mempunyai daya hidup yang luar biasa, sangat flexible dan makan
>cukup pake sedotan. Masa kecil......ah masa kecil saya normal-normal
>saja dan cukup bahagia. Tetapi sedari kecil saya sudah jadi pemimpin.
>(provokator ini agak plin-plan, baca pengakuan berikutnya)
>
>(lalu AG terpikir untuk menanyakan tentang tirai kelabu..)
>AG:  Mengapa anda menggunakan tirai ini, apa anda takut dipotret?
>Prov. Walaupun kalian bisa memotret saya, kalian tak akan mengenal saya.
>Saya selalu ber-undercover (menyamar, red), kadang sebagai menteri,
>kadang tukang becak, kadang artis dangdut malah pernah jadi tukang
>melon. Sudah takdir saya ini maya. Dalam bentuk asli, saya  tak terlihat
>oleh mata, tak  tercium hidung, tak tertusuk duri, tak terinjak kaki,
>tak terdeteksi McAfee virus scan 4.02 terbaru.
>
>AG. Lalu kenapa anda tampakkan telunjuk anda? (dari lubang kecil di
>tirai pemisah, terlihat sebuah telunjuk bergerak-gerak)
>Prov: Bagian dari taktik dasar provokator, agar orang-orang berkata "Itu
>dia sang provokator, lihat telunjuknya mengarah ke sana..."
>
>AG:  Mengapa anda mau menjadi provokator, berapa bayaran per order?
>Prov:  Percayalah... saya sangat kaya. Tapi  adakalanya saya tidak
>mendapat order. Kalau begini, saya menyamar menjadi pelayan restoran....
>makan gratis.  Tuhan mentakdirkan saya menjadi provokator, maka saya
>jalani dengan sukarela dan sepenuh jiwa. Sekedar kepatuhan belaka
>Bayarannya hanyalah kepuasan melihat mayat bergelimpangan,
>senapan-senapan dikokang, mulut-mulut berkoar-koar dan dada-dada di
>busungkan.
>
>AG: Apa agama Anda?
>Prov:  Agama saya adalah Kepatuhan alias "Eling".
>
>AG: Baiklah. Nama anda selalu disebut setiap ada kerusuhan. Apakah benar
>anda pelakunya?
>Prov:  Ooo benar itu. Tanya ke Pak Pangab atau Pak Presiden kalau nggak
>percaya. Sudah saya katakan tadi... itu tugas saya.
>
>AG: Apa ya anda membawa senjata ketika bertugas?
>Prov: Ya... korek api. Bukan  untuk bangunan, tapi yang paling penting
>adalah untuk membakar hati-hati yang hampa agar membara, membakar mata
>agar merah menyala, membakar hati para pemimpin kalian dan orang-orang
>(yang merasa) besar agar hangus dan menguap itu yang namanya
>kemanusiaan. Kalau sudah begitu, ruko, mesjid dan gereja serta kendaraan
>menyala dengan sendirinya.
>
>AG. Bagaimana anda bisa melakukan tugas di mana-mana bahkan dalam waktu
>bersamaan?
>Prov: Hua...ha..ha...! Pertanyaan bodoh. Jangan heran lho.. saya juga
>bisa menelusup ke komputer di ruangan berkomputer dalam bentuk binary
>walaupun di dalamnya ada Intel
>
>AG. Apa sih sebenarnya pekerjaan asli Anda?
>Prov. Ini baru pertanyaan bagus.......orang menyangka bahwa tugas saya
>hanya membuat hura-hura,  demon strasi, menyebarkan is(y)u kos(y)ong,
>merayu para pemimpin dan mencekik rakyat kecil
>
>AG. Bukannya memang itu tugas anda?
>Prov. Kalian manusia memang culas. Tadinya saya sering memprovokasi
>orang-orang untuk berbuat baik, menyumbang, bicara jujur, tersenyum.
>Namun kalau berhasil, kalian lantas mengklaim " Ini lho aku!" Baru kalau
>ada kerusuhan kalian tunjukkan jari kalian ke kami.
>
>AG. Dimana sebenarnya anda tinggal?
>Prov.. Di Batu Merah
>
>AG. Di mana itu...
>Prov. Di dalam dada kalian....
>
>Wawancara diteruskan, namun tidak bisa dituliskan di sini karena
>menyangkut cara kerja provokator (off the record katanya, kecuali ada
>yang mampu menyadap)
>catatan: kesamaan nama dan tempat tidak di sengaja. Itu ulah
>provokator!!!
>
>Pungkas B. Ali
>Troy, March 9, 99
>

Kirim email ke