Bahu-Membahu Muslim-Kristiani (sumber : TEMPO no. 23/XXVII/99)

Suatu sore di sebuah warung kopi di Kota Ambon. Belasan orang terlihat
memenuhi warung kopi�sebutan untuk restoran di sana�yang terbesar di kota
itu. Sejumlah laki-laki berkulit gelap, dengan rambut bergelombang, duduk
melingkari meja. Sedangkan lelaki berkulit agak terang, dengan rambut lurus,
mengikuti berita di pesawat televisi. Di dekat pintu masuk, terlihat seorang
lelaki berkulit kuning, dengan mata sipit, asyik menikmati makannya.
Masing-masing sibuk dengan keperluan mereka.

Mestinya tak ada yang istimewa dari pemandangan itu, sebagaimana dituturkan
seorang periset yang baru saja balik dari sana. Tapi setting biasa tadi
berlangsung di sebuah kedai kopi yang terletak di Jalan Sultan Babulah,
kurang lebih 300 meter dari Masjid Alfatah, tempat konsentrasi masyarakat
muslim Ambon.

Dan yang menarik, "potret" tersebut berlangsung di awal bulan ini, ketika
kerusuhan atas nama suku yang berlanjut dengan perseteruan atas nama agama
masih meminta korban. "Tak ada Islam, tak ada Kristen, tak ada soal suku,
kami makan dengan tenang," kata mereka, seperti direkam sumber TEMPO itu.

Apakah penggalan "adegan" di atas cermin pela gandong yang kabarnya mulai
rontok? Mungkin ya, mungkin tidak. Tapi ada sederet cerita yang mengungkap
sisi lain dari peristiwa kekerasan yang sedang mengharubirukan masyarakat
yang menghuni kawasan dengan sebutan seribu kepulauan tersebut. Tak banyak
pihak yang memberikan perhatian khusus terhadap sisi plus yang perlu dijaga.
Tak percaya?

Coba simak kejadian di Desa Poka, di Leihitu, di bagian barat Pulau Ambon,
yang mayoritas penduduknya beragama Kristen. Ada beberapa penduduk Islam
tinggal di sana. Tapi di desa ini tak pernah terjadi bentrokan. Kalaupun ada
orang Kristen dari desa lain yang hendak menyerang warga muslim Desa Poka,
penduduk Kristen di desa itulah yang maju menghadang mereka. Hingga kini pun
beberapa masjid dan gereja di desa ini masih tegak berdiri.

Unik juga yang tercatat di Desa Larike, di ujung barat Pulau Ambon. Jumlah
penduduk Islam dan Kristennya hampir berimbang. Ketika peristiwa Ambon
pecah, penduduk desa itu saling melindungi. Jika ada orang Kristen yang
datang untuk menyerang warga pemeluk Islam, warga desa yang beragama
Kristenlah yang maju menghadang penyerang. Ketika giliran ada orang Islam
yang akan menyerang, warga Islamlah yang menghadangnya. Alhasil, bentrokan
tak terjadi di desa ini. Masjid dan gereja tak diusik.

Contoh lain terjadi pada 20 Februari lalu di Kampung Air Besar, di Kota
Ambon. Warga Kristen yang ada di kampung tersebut tiba-tiba diserbu oleh
warga Islam yang datang dari kampung tetangga. Tapi rombongan penyerbu ini
akhirnya bisa dihalau karena kedatangan mereka sudah ditunggu oleh
sekelompok warga Islam Air Besar di sebuah jembatan yang tak jauh dari
kampung itu. Serangan pun urung dilakukan.

Begitu pula masyarakat di Desa Wakal, yang komposisi penduduk Islam dan
Kristennya hampir sama. Mereka saling melindungi. Kalau ada serbuan yang
dilakukan oleh pihak Kristen, yang menghadang adalah orang Kristen. Dan
kalau ada serbuan yang dilakukan orang Islam, yang menghadang adalah orang
Islam. Masjid dan gereja di tempat ini pun tak tersentuh bara kemarahan.

Cerita yang lebih dramatis terjadi di Dusun Wahatu, Desa Wakal, yang umumnya
dihuni masyarakat asal Buton yang beragama Islam. Di dusun ini bermukim tiga
keluarga beragama Kristen. Salah satu di antaranya guru SD di dusun itu.
Sebelum 20 Januari�tanggal penyerbuan balasan oleh warga Islam�keluarga
Kristen tadi diberi tahu bahwa mereka akan diserang. Karena itu, warga Buton
menganjurkan agar mereka mengungsi. Untuk sementara ketiga keluarga tadi
disembunyikan di rumah tiga orang Buton muslim.

Namun, sikap warga Wahatu asal Buton itu diketahui oleh para penyerang.
Karena itu, pihak penyerang, yang juga beragama Islam, mencaci-maki orang
Buton di Wahatu dan mengancam akan melanjutkan penyerangan. Khawatir ancaman
itu benar-benar dilakukan, beberapa warga dusun ini lalu memindahkan
keluarga Kristen itu ke rumah-rumah mereka yang ada di kebun-kebun di
perbukitan. Keluarga Kristen tadi akhirnya diselamatkan oleh petugas
keamanan yang datang setelah dipanggil oleh warga Buton itu.

Konflik yang terjadi di Ambon agaknya memang tak bisa dilukiskan secara
hitam-putih. Masih banyak sisi lain yang mungkin tak begitu digubris pers:
kerukunan warisan lama tradisi pela gandong yang tersisa di sudut-sudut
desa. Tapi tak ada seorang pun yang bisa meramal, akankah nilai-nilai luhur
tradisi ini bakal berumur panjang, meski cuma di secuil desa. Apalagi jika
sumbu konflik makin kerap dinyalakan dengan api kemarahan yang kian panas.

Situasi keseharian yang terus mencekam bisa jadi pertanda buruk. Sebut saja
peristiwa "Subuh Berdarah" tempo hari. Jika tak dijelaskan duduk perkara
sesungguhnya, itu niscaya bakal memperburuk keadaan.

Dari gerakan Islam, mereka masih saja ngotot bahwa penembakan terjadi "di
dalam masjid", meski dibantah berdasarkan keterangan resmi pemerintah
setempat. Di sisi lain, kalangan Kristen malah mengungkit betapa pihaknya
tak kalah menderita.

"Tapi jangan sampai kerusuhan di Ahuru-Rinjani itu didramatisasi untuk
kepentingan politik," kata Ketua Klasis Gereja Protestan Maluku (GPM) Kota
Ambon, Pdt. A.Z.E. Pattinaya. Ia menegaskan, warga jemaatnya tak pernah dan
tak akan menyerbu sesama bangsanya. "Peristiwa itu musibah yang tak
terpikirkan sebelumnya," kata Pattinaya.

Mungkin Pattinaya benar. Tapi di sejumlah desa yang sentimen suku dan
agamanya menggumpal, maut tetap saja menghadang. Pendatang masih kerap
ditanyai soal identitas agama dalam kartu penduduknya.

"Saya masih takut memasuki kawasan Kristen. Pernah saya masuk ke kantong
penduduk muslim, tapi mereka tak yakin, sampai saya disuruh membaca
syahadat," ujar seorang wartawan senior Antara yang telah bertahun-tahun
bertugas di Ambon.

Dari cerita di atas, tak mengherankan jika salah seorang anggota Kontras,
divisi antikekerasan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, yang dikirim
ke Ambon belum lama ini, berpendapat bahwa kekerasan yang terjadi bukanlah
perang agama, melainkan lebih merupakan frustrasi sosial yang menjadikan
agama sebagai identitas "pihak sana" lawan "pihak sini".

Rustam F. Mandayun dan Wenseslaus Manggut

Kirim email ke