| bebas kertas, tak terbatas, tampil tuntas |
Minggu,14 Maret 1999 |
PROMOSI DI SINI |
|
Limbah Politik Merobek Indonesia Oleh KH Agoes Ali Masyhuri Di saat pudarnya nilai kemanusiaan, gagalnya pemerintah dalam usaha memberikan jalan keluar tentang peristiwa kerusuhan Ambon menggugah hati seorang dokter warga Ambon untuk datang ke klinik moral Bumi Sholawat guna berdialog langsung dengan Kang Djais, dengan satu harapan mendapatkan siraman rohani yang mampu membentuk wacana berpikir, bertindak, dan bersikap objektif dalam memandang kerusuhan Ambon yang multidimensional. Satu pertanyaan diajukan sang dokter kepada Kang Djais, ’’Apa yang melatarbelakangi kerusuhan Ambon?’’ Dengan nada polos, Kang Djais menjawab, ’’Kerusuhan Ambon merupakan bentuk rekayasa sistematis yang dilakukan oleh elite politik yang haus dan dahaga kekuasaan atau oleh orang-orang yang mempertahankan kekuasaan. Sikap mental ini sangat bertentangan dengan standar moral yang berlaku bagi bangsa yang mengaku ber-Ketuhanan Yang Mahaesa.’’ ’’Benar kiai, saya mempunyai bukti yang kuat dan mendukung, di saat umat Islam merayakan Idul Fitri, bersilaturahim dengan sanak keluarga dan handai taulan, tiba-tiba datanglah serangan yang mendadak dengan senjata yang sama, dengan atribut yang sama, meletus secara serentak dengan sistem komando. Hal ini mustahil terjadi secara tiba-tiba tanpa direncanakan dengan matang,’’ kata sang dokter. Mendengar jawaban yang demikian, Kang Djais mencucurkan air mata sambil spontan berdiri dengan pandangan yang tajam kepada para santri sambil membaca Laa haula walaa quwwata illa billah. Tiadanya tiang penyangga kerukunan pada masyarakat majemuk, redupnya sinar penerangan yang mampu membentuk pribadi yang dapat menerima keragaman agama, budaya, sosial, dan ekonomi merupakan faktor penunjang timbulnya beberapa kerusuhan yang ada di republik tercinta, termasuk Ambon. ’’Merupakan analisis yang sangat dangkal dan gegabah bila kerusuhan tersebut ada campur tangan dari pihak asing, terutama Amerika. Pula, tidak lucu bila Amien Rais minta bantuan kepada Amerika, walaupun bukan merupakan bantuan material.’’ Demikian analisis Kang Djais. Berdasarkan analisis ini, ada gambaran umum adanya saling curiga antara elite politik yang satu dengan yang lain. Dibutuhkan format untuk meminimalkan konflik, guna menghindari sejauh-jauhnya ketegangan, permusuhan di tengah-tengah masyarakat yang sangat rawan konflik, mengingat sejelek-jelek tokoh, pasti mempunyai pengikut. Bukan pabrik kertas saja yang mengandung polusi dan limbah yang membutuhkan AMDAL, politik pun mempunyai limbah yang sangat berbahaya karena politik itu sarat kepentingan, bahkan tidak ada rumus langgeng, hari ini teman, esok bisa jadi lawan. Merupakan satu kebutuhan mendesak, para alite politik mampu menciptakan iklim yang kondusif, sehat, dan harmonis pada setiap kebijakan politik yang ditawarkan kepada masyarakat dengan sikap arif dan bijak yang tidak keluar dari bingkai moral dalam usaha mewujudkan demokrasi dan mampu mengembalikan kedaulatan rakyat yang selama ini pergi belum kembali. Rekayasa politik yang bersifat membodohi masyarakat harus benar-benar dimusnahkan dan dihindari untuk menuju Indonesia baru, bebas dari limbah politik dengan satu semboyan, jangan sampai kegagalan pemerintah Orde Baru terulang. Seorang penyair besar sufi yang bernama Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al-Khattabi al-Bakri berpuisi sebagai berikut:
Hawa nafsumu adalah ibu semua berkata; berhala benda adalah ular, berhala rohani adalah naga. Menghancurkan berhala itu mudah, mudah sekali, namun menganggap mudah mengalahkan hawa nafsu adalah tolol. O Anakku, jika bentuk-bentuk nafsu ingin kau kenali, bacalah uraian tentang neraka dengan tujuh pintunya. Dari hawa nafsu setiap saat bermunculan tipu muslihat, dan dari setiap tipu muslihat seratus Fir’aun dan bala tentaranya terjerumus. Dengan tenang, Kang Djais membaca puisi Rumi di depan sang dokter dan para santrinya dengan penuh penghayatan bak seorang penyair yang sebenarnya. Dasar hari ini banyak orang kehilangan akal sehat dalam memandang masalah, senantiasa mengedepankan hawa nafsu dan emosi, bukan akal dan budi yang luhur. Kenyataan ini membuat situasi semakin rawan kerusuhan, kekerasan, karena mayoritas masyarakat belum siap beda pendapat dengan orang lain, kurang memahami kemajemukan, dan sering memaksakan kehendak, serta merasa paling benar sendiri. Allah SWT berfirman dalam QS Al Baqarah ayat 148, yang artinya: Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepada-Nya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkaan kamu sekalian pada hari kiamat. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.’’ Dari ayat ini dapat diambil pelajaran yang sangat berharga bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Bahwa kita harus menyadari masyarakat terdiri atas beberapa komunitas yang memiliki tujuan kehidupan sendiri-sendiri. Kita harus menyadari kemajemukan yang ada dan memberikan toleransi kepada masing-masing komunitas untuk melaksanakan ibadah menurut kepercayaan masing-masing. Penemuan finalnya di tangan Allah SWT. Kalau hal ini benar-benar dihayati dan diterapkan dalam praktik hidup dan kehidupan, penulis mempunyai keyakinan bahwa konflik antaragama tidak akan terjadi, dengan catatan, bila umat beragama konsekuen dan tidak memaksakan kehendak terhadap orang yang beragama lain. Menurut sosiologi, setiap himpunan manusia dapat dikatakan sebagai kelompok sosial. Syaratnya: setiap anggota kelompok harus sadar bahwa dia merupakan bagian dari kelompok yang bersangkutan, mempunyai hubungan timbal balik antara anggota yang satu dengan anggota lain, ada faktor yang dimiliki bersama, kesamaan kepentingan, nasib, tujuan yang sama, ideologi, dll, berstruktur, dan mempunyai pola perilaku. Sang Dokter bertanya lagi, ’’Mengapa kerusuhannya terjadi di Ambon, Pak Kiai?’’ ’’Agar dampak sosialnya lebih besar mengingat di Ambon, antara pemeluk Islam dan Nasraninya berimbang. Ini yang sengaja dibenturkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, ingin mengail di air yang keruh. Artinya, ingin mendapatkan keuntungan di tengah-tengah kehancuran rakyat yang cukup menyedihkan.’’ Sepanjang sejarah peradaban manusia, emosi dan kekerasan tidak pernah menyelesaikan masalah, bahkan menimbulkan masalah baru. Begitu juga dalam menyikapi masalah kerusuhan Ambon, sangat dibutuhkan sikap arif dan bijak seluruh komponen bangsa untuk mencarikan jalan keluar. Caranya, adakan dialog nasional, terutama para pemimpin bangsa dan tokoh-tokoh masyarakat dan agama. Ini tidak dapat ditunda lagi. Manakala mereka mau melepas baju egonya untuk duduk satu meja dengan saling percaya dan mengedepankan kepentingan bangsa dan negara, melihat sesama dengan hati nurani yang bersih atas penderitaan yang dialami rakyat Ambon, maka terbukalah akar persoalan yang sebenarnya. Ini sekaligus menghindari asumsi-asumsi yang salah dan saling tuduh antara yang satu dengan yang lain bisa dihindari. Situasi Ambon yang sangat mencekam dan parah butuh siraman air sejuk dan menyejukkan, bukan bensin yang malah membakar. Komentar-komentar yang bernada minor harus dibuang jauh-jauh agar tidak menimbulkan masalah baru dan kekacuan di tengah-tengah masyarakat. Kalau bukan kucing, jangan mengeong; kalau bukan dokter, jangan menyuntik; jangan sampai jenderal bicaranya seperti kopral. Kang Djais berpesan bahagialah orang-orang yang disibukkan oleh kekurangan dirinya, daripada memikirkan kekurangan orang lain. Semoga Indonesia senantiasa aman dan sejahtera mendapatkan curahan rahmat Allah dan dihantarkan oleh kebesaran Rasul-Nya. Penulis adalah pengasuh Pondok Pesantren Klinik Moral ’’Bumi Sholawat’’ Tulangan, Sidoarjo, Jawa Timur. |
BERITA
UTAMA ___________ ___________ Nomor
Dial: | |
| online sejak 29 Februari 1996, sekitar pukul
19.30 (ulang tahunnya setiap empat tahun sekali....ngirit..) |
GRAHA PENA
|
