Suatu artikel yang sangat menyejukan dan sarat akan pertimbangan rohani.
Menurut persepsi awam saya, pandangan yang diberikan oleh penulis (KH
Agoes Ali Masyhuri) adalah pengertian yang mendalam atas esensi agama,
yaitu berlomba-lombalah dalam kebaikan. Jika anda berlomba-lomba dengan
nafsu dan kebencian, apa kelebihan anda dari seorang atheis dan
penyembah berhala (setan).
peace.
> Ichwan Ramli. wrote:
>
> Maaf, kalau belakangan ini saya jadi rajin memforward berita/artikel
> serupa ini.
> Ini mungkin mengganggu mereka yang sudah membaca dan memperpanjang
> akses time. Tapi untuk sementara, hanya ini yang bisa saya lakukan,
> agar bangsa ini tidak tercabik-cabik oleh sentimen SARA.
> Sekali lagi mohon pengertian anda.
>
> Salam,
> [jp2hit.gif (1735 bytes)]
> koran online
> dari Surabaya
> bebas kertas, tak Minggu,14 Maret
> terbatas, tampil tuntas 1999 PROMOSI DI SINI
> Limbah Politik Merobek Indonesia
> [partai]
> Oleh KH Agoes Ali Masyhuri
>
> Di saat pudarnya nilai kemanusiaan, gagalnya [Promosi.]
> pemerintah dalam usaha memberikan jalan keluar
> tentang peristiwa kerusuhan Ambon menggugah [klik_saja.]
> hati seorang dokter warga Ambon untuk datang
> ke klinik moral Bumi Sholawat guna berdialog BERITA UTAMA
> langsung dengan Kang Djais, dengan satu METROPOLIS
> harapan mendapatkan siraman rohani yang mampu OLAHRAGA
> membentuk wacana berpikir, bertindak, dan NASIONAL
> bersikap objektif dalam memandang kerusuhan INTERNASIONAL
> Ambon yang multidimensional. HIBURAN
> TOKOH
> Satu pertanyaan diajukan sang dokter kepada BUDAYA
> Kang Djais, ’’Apa yang PEMBACA
> melatarbelakangi kerusuhan
> Ambon?’’ Dengan nada polos, Kang EDISI LALU
> Djais menjawab, ’’Kerusuhan Ambon
> merupakan bentuk rekayasa sistematis yang ___________
> dilakukan oleh elite politik yang haus dan CERPEN, CERBER, CERITA
> dahaga kekuasaan atau oleh orang-orang yang WAYANG,
> mempertahankan kekuasaan. Sikap mental ini BINTANG, KARTUN,
> sangat bertentangan dengan standar moral yang KARIKATUR,
> berlaku bagi bangsa yang mengaku ber-Ketuhanan MODE, RESEP
> Yang Mahaesa.’’ MASAKAN,
> KONSULTASI
> ’’Benar kiai, saya mempunyai bukti SEMUA ADA DI
> yang kuat dan mendukung, di saat umat Islam [jp_plus]
> merayakan Idul Fitri, bersilaturahim dengan
> sanak keluarga dan handai taulan, tiba-tiba ___________
> datanglah serangan yang mendadak dengan
> senjata yang sama, dengan atribut yang sama, JP-ONLINE
> meletus secara serentak dengan sistem komando. phone:
> Hal ini mustahil terjadi secara tiba-tiba 62-31-8202212
> tanpa direncanakan dengan fax:
> matang,’’ kata sang dokter. 62-31-8285555
> Mendengar jawaban yang demikian, Kang Djais e-mail
> mencucurkan air mata sambil spontan berdiri
> dengan pandangan yang tajam kepada para santri Nomor Dial:
> sambil membaca Laa haula walaa quwwata illa 8287777
> billah.
>
> Tiadanya tiang penyangga kerukunan pada
> masyarakat majemuk, redupnya sinar penerangan
> yang mampu membentuk pribadi yang dapat
> menerima keragaman agama, budaya, sosial, dan
> ekonomi merupakan faktor penunjang timbulnya
> beberapa kerusuhan yang ada di republik
> tercinta, termasuk Ambon.
> ’’Merupakan analisis yang sangat
> dangkal dan gegabah bila kerusuhan tersebut
> ada campur tangan dari pihak asing, terutama
> Amerika. Pula, tidak lucu bila Amien Rais
> minta bantuan kepada Amerika, walaupun bukan
> merupakan bantuan material.’’
> Demikian analisis Kang Djais.
>
> Berdasarkan analisis ini, ada gambaran umum
> adanya saling curiga antara elite politik yang
> satu dengan yang lain. Dibutuhkan format untuk
> meminimalkan konflik, guna menghindari
> sejauh-jauhnya ketegangan, permusuhan di
> tengah-tengah masyarakat yang sangat rawan
> konflik, mengingat sejelek-jelek tokoh, pasti
> mempunyai pengikut. Bukan pabrik kertas saja
> yang mengandung polusi dan limbah yang
> membutuhkan AMDAL, politik pun mempunyai
> limbah yang sangat berbahaya karena politik
> itu sarat kepentingan, bahkan tidak ada rumus
> langgeng, hari ini teman, esok bisa jadi
> lawan.
>
> Merupakan satu kebutuhan mendesak, para alite
> politik mampu menciptakan iklim yang kondusif,
> sehat, dan harmonis pada setiap kebijakan
> politik yang ditawarkan kepada masyarakat
> dengan sikap arif dan bijak yang tidak keluar
> dari bingkai moral dalam usaha mewujudkan
> demokrasi dan mampu mengembalikan kedaulatan
> rakyat yang selama ini pergi belum kembali.
>
> Rekayasa politik yang bersifat membodohi
> masyarakat harus benar-benar dimusnahkan dan
> dihindari untuk menuju Indonesia baru, bebas
> dari limbah politik dengan satu semboyan,
> jangan sampai kegagalan pemerintah Orde Baru
> terulang. Seorang penyair besar sufi yang
> bernama Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin
> Hasin al-Khattabi al-Bakri berpuisi sebagai
> berikut:
>
>
>
> Hawa nafsumu adalah ibu semua berkata; berhala
> benda adalah ular, berhala rohani adalah naga.
>
> Menghancurkan berhala itu mudah, mudah sekali,
> namun menganggap mudah mengalahkan hawa nafsu
> adalah tolol.
>
> O Anakku, jika bentuk-bentuk nafsu ingin kau
> kenali, bacalah uraian tentang neraka dengan
> tujuh pintunya.
>
> Dari hawa nafsu setiap saat bermunculan tipu
> muslihat, dan dari setiap tipu muslihat
> seratus Fir’aun dan bala tentaranya
> terjerumus.
>
> Dengan tenang, Kang Djais membaca puisi Rumi
> di depan sang dokter dan para santrinya dengan
> penuh penghayatan bak seorang penyair yang
> sebenarnya. Dasar hari ini banyak orang
> kehilangan akal sehat dalam memandang masalah,
> senantiasa mengedepankan hawa nafsu dan emosi,
> bukan akal dan budi yang luhur. Kenyataan ini
> membuat situasi semakin rawan kerusuhan,
> kekerasan, karena mayoritas masyarakat belum
> siap beda pendapat dengan orang lain, kurang
> memahami kemajemukan, dan sering memaksakan
> kehendak, serta merasa paling benar sendiri.
>
> Allah SWT berfirman dalam QS Al Baqarah ayat
> 148, yang artinya: Dan bagi tiap-tiap umat ada
> kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap
> kepada-Nya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam
> membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada
> pasti Allah akan mengumpulkaan kamu sekalian
> pada hari kiamat. Sesungguhnya Allah Maha
> Kuasa atas segala sesuatu.’’ Dari
> ayat ini dapat diambil pelajaran yang sangat
> berharga bagi kehidupan bermasyarakat,
> berbangsa, dan bernegara. Bahwa kita harus
> menyadari masyarakat terdiri atas beberapa
> komunitas yang memiliki tujuan kehidupan
> sendiri-sendiri. Kita harus menyadari
> kemajemukan yang ada dan memberikan toleransi
> kepada masing-masing komunitas untuk
> melaksanakan ibadah menurut kepercayaan
> masing-masing. Penemuan finalnya di tangan
> Allah SWT. Kalau hal ini benar-benar dihayati
> dan diterapkan dalam praktik hidup dan
> kehidupan, penulis mempunyai keyakinan bahwa
> konflik antaragama tidak akan terjadi, dengan
> catatan, bila umat beragama konsekuen dan
> tidak memaksakan kehendak terhadap orang yang
> beragama lain.
>
> Menurut sosiologi, setiap himpunan manusia
> dapat dikatakan sebagai kelompok sosial.
> Syaratnya: setiap anggota kelompok harus sadar
> bahwa dia merupakan bagian dari kelompok yang
> bersangkutan, mempunyai hubungan timbal balik
> antara anggota yang satu dengan anggota lain,
> ada faktor yang dimiliki bersama, kesamaan
> kepentingan, nasib, tujuan yang sama,
> ideologi, dll, berstruktur, dan mempunyai pola
> perilaku.
>
> Sang Dokter bertanya lagi,
> ’’Mengapa kerusuhannya terjadi di
> Ambon, Pak Kiai?’’
> ’’Agar dampak sosialnya lebih
> besar mengingat di Ambon, antara pemeluk Islam
> dan Nasraninya berimbang. Ini yang sengaja
> dibenturkan oleh orang-orang yang tidak
> bertanggung jawab, ingin mengail di air yang
> keruh. Artinya, ingin mendapatkan keuntungan
> di tengah-tengah kehancuran rakyat yang cukup
> menyedihkan.’’
>
> Sepanjang sejarah peradaban manusia, emosi dan
> kekerasan tidak pernah menyelesaikan masalah,
> bahkan menimbulkan masalah baru. Begitu juga
> dalam menyikapi masalah kerusuhan Ambon,
> sangat dibutuhkan sikap arif dan bijak seluruh
> komponen bangsa untuk mencarikan jalan keluar.
> Caranya, adakan dialog nasional, terutama para
> pemimpin bangsa dan tokoh-tokoh masyarakat dan
> agama. Ini tidak dapat ditunda lagi. Manakala
> mereka mau melepas baju egonya untuk duduk
> satu meja dengan saling percaya dan
> mengedepankan kepentingan bangsa dan negara,
> melihat sesama dengan hati nurani yang bersih
> atas penderitaan yang dialami rakyat Ambon,
> maka terbukalah akar persoalan yang
> sebenarnya. Ini sekaligus menghindari
> asumsi-asumsi yang salah dan saling tuduh
> antara yang satu dengan yang lain bisa
> dihindari.
>
> Situasi Ambon yang sangat mencekam dan parah
> butuh siraman air sejuk dan menyejukkan, bukan
> bensin yang malah membakar. Komentar-komentar
> yang bernada minor harus dibuang jauh-jauh
> agar tidak menimbulkan masalah baru dan
> kekacuan di tengah-tengah masyarakat. Kalau
> bukan kucing, jangan mengeong; kalau bukan
> dokter, jangan menyuntik; jangan sampai
> jenderal bicaranya seperti kopral.
>
> Kang Djais berpesan bahagialah orang-orang
> yang disibukkan oleh kekurangan dirinya,
> daripada memikirkan kekurangan orang lain.
> Semoga Indonesia senantiasa aman dan sejahtera
> mendapatkan curahan rahmat Allah dan
> dihantarkan oleh kebesaran Rasul-Nya.
>
> Penulis adalah pengasuh Pondok Pesantren
> Klinik Moral ’’Bumi
> Sholawat’’ Tulangan, Sidoarjo,
> Jawa Timur.
> online sejak 29 Februari 1996, sekitar
> pukul 19.30 GRAHA PENA
> (ulang tahunnya setiap empat tahun Jalan A Yani No. 88, Surabaya -
> sekali....ngirit..) Indonesia