cuma menjawab, kalo saya dikirimi parcel dari Bung Acu , dengan senang hati saya terima, dan pasti tidak ada KKN nya :-) karena saya nggak pernah ketemu dengan Bung Acu sebelumnya. tarolah Saya adalah bawahan Bung Acu atau saya adalah pihak swasta yang berhubungan dengan departemen dimana Bung Acu sebagai pemimpin, sangat tidak berdasar sekali bahwa saya kirimi parcel untuk Bung Acu, dan ini adalah salah satu bentuk "ikatan halus" antara saya dengan Bung Acu. Kalo ingin menjaga silaturahmi, ya caranya bersilaturahmi dengan tanpa embel-embel lain. ada alasan yang kuat dimana kita memberikan sesuatu kepada orang lain, dan itu yang disebut dengan niat. Makanya, luruskan dulu NIATnya. Bagi sipenerima, jelas harus tahu apa niat dari seorang memberikan sesuatu tersebut, jangan menerima (mampukah menolak?) pemberian yang tidak jelas juntrungannya. Yadi ------------ Laboratorium Telematika-Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung ------------ On Thu, 17 Dec 1998, Nasrullah Idris wrote: > Seperti kita ketahui bahwa pada setiap hari raya pada dekade ini, > bingkisan/hadiah dalam bentuk Parcel sudah menjadi trend di > Indonesia. > Sementara bukan rahasia lagi bahwa adakalanya Parcel itu bermuatan > "Udang di Balik Batu", yang di antaranya bisa menimbulkan/memancing > praktek KKN antara si penerima dan si pemberi. > Kira-kira bagaimana cara kita menyikapinya bila pemberian itu > dikhawatirkan bisa menimbulkan/memancing praktek KKN? Karena kalau > sampai kurang bijaksana dalam menyikapinya maka bisa-bisa pihak si > pemberi akan merasa tersinggung atau merasa dicurigai. Ini kan jelas > tidak baik juga karena bisa merusak hubungan silaturahmi. > > Salam, > > Nasrullah Idris >
