Kalem Mas Patiwael
Saya tidak tahu pasti siapa AS, dan saya tidak ingin mengaitkan dengan
agama (terlalu kompleks). Cuma saya sering membaca misinya terutama di
dalam membela ekonomi rakyat. Apa yang saya tahu tentang AS adalah tidak
lebih sebagai pemilik LSM (kalau tidak salah LP3ES) yang memperjuangkan
perkembangan ekonomi orang-orang awak (terlepas dari masalah agama).

Menurut saya dugaan anda bahwa AS cuma memperjuangkan ummat Islam itu
adalah salah, dari mana dugaan anda itu timbul?.
Perlu diketahui bahwa Adi S tidak langsung memberikan kredit lunak
kepada nasabah. Pemberian kredit lunak tetap melalui mekanisme kredit
yang sehat (perbankan), yang dalam hal ini mempertimbangkan 5C dan
terlepas dari agama yang dianut. Sepanjang penerima kredit layak, ya di
ACC apapun Agamanya dan Tuhannya.
Sekali lagi AS tidak berhak memberikan kredit, apalagi memakai uang
negara.
Dan saya berani menjamin bahwa didalam pemberian kredit lunak KKPA, KUT,
KKUD, KPIR, KDBUMN diberikan atas dasar kelayakan dan bukan agama yang
dianut.

Note : - Saya sudah nonton film Malcom X (2x), saya kira ybs tidak
se-ekstrim yang sdr gambarkan.
         Malcom X hanya dendam kepada orang Putih (KKK), yang
nyata-nyata menganiaya kaumnya, termasuk membunuh bapaknya.
Salam Hormat,
Tuan Joko he..he..






>
>Tuan Djoko,
>
>Apakah itu tokoh yang anda bela (Adi Sasono) boleh juga berbuat
>sekehendak hati, dengan membentuk istilahnya Black Extrimist contoh
>Pam Swakarsa, seperti di Amrik yang menghalalkan segala cara demi
membawa
>persamaan hak antara non pribumi dan pribumi? Atau teriak-teriak di
>media singapore menuduh cina-cina singapur tidak toleran thd perubahan
>ekonomi yang ceritanya harus sesuai dengan Adi punya keinginan?
>Atau ketidak pedulian adi thd permerkosaan thd kaum wanita etnis cina?
>dengan menuduh balik bahwa hal yang sama juga sering dilakukan oleh
>para tauke-tauke di singapur thd pembantu asal indonesia?
>
>Setahu saya Adi juga hanya mewakili satu golongan, yaitu golongan
>pedagang muslim? correct if i'm wrong...apakah tidak ada pedagang
>non muslim yang juga butuh bantuan?
>Saya melihat Adi hanya mewakili golongan yang saya sebut
>Syarikat Islam.
>
>Bukankah perjuangan melawan rasisme di Amerika saja, tidak bisa
>dilakukan dengan cara Extrimist macam Malcoml X (contoh Adi Sosono)
>tapi dibutuhkan juga cara Martin Luther King (kalau bisa sebutkan
>tokoh Islam yang dapat disamakan dengan Mr. King di Indonesia, yang
menurut
>saya sampai saat ini sulit ditemukan)
>
>
>
>Andrew Pattiwael
>The Military College of Vermont
>Norwich University Corps of Cadets
>
>On Thu, 24 Dec 1998, djoko raharto wrote:
>
>> boleh tahu nggak mana difinisi yang benar tentang racist :
>> menurut saya :
>>
>> Racist adalah klan atau kelompok suku bangsa tertentu yang menganggap
>> lebih tinggi kedudukannya dan menganggap klan lainnya lebih rendah.
>>
>> Kalau kasusnya orang/klan  yang menuntut keadilan terhadap
klan/kelompok
>> lain yang selama ini merasa lebih tinggi dan mengganggap klan yang
lain
>> lebih rendah, bahkan dalam banyak kasus mereka cenderung merugikan
>> klan/kelompok yang lain, apakah ini juga disebut racist?
>>
>>
>>
>> >
>> >Bacaan bagus, mungkin bisa kita pahami sedikit kehidupan menjadi
>> seorang
>> >keturunan, bukan dari kacamata ala Adi "Racis" Sasono, ala empunya
toko
>> di
>> >Glodok, Senen, Kelapa Gading, dan Pasar Mesteer, bukan dari
keglamoran
>> >keturunan macam Liem Sioe Liong di Gunung Sahari,
>> >Mari kita coba rasakan dan pahami, gimana sih jadi Cina itu
sebenarnya,
>> >jangan muluk-muluk, tinggal di Pondok Indah, pemilik perusahaan
>> >konglomelorot plus kkn dengan anak-cucu Soeharto, sekolah di pelita
>> >atau di Amerika sini,
>> >tapi cukup hanya dengan berdagang seadanya, tinggal membaur dengan
>> >sesama pribumi, menyekolahkan anak-anak di sekolah negeri, kendaraan
>> >transportasi hanyak mikrolet dan ojek.
>> >Kasihan mereka, yang cina kaya sih gampang, lari keluar negeri,
amerika
>> >juga mau terima, asal dollar nya mencukupi bayar pajak. lha
>> >yang cina miskin kebanyakan, malah di palakin, rumah dibakarin,
>> >anak perawannya di perkosaiin, keluar diteriakin atau diancam.
>> >coba bayangin sedetik deh...gimana sih jadi cina itu, atau gimana
sih
>> >jadi minoritas itu, sama seperti gimana jadi Arab Muslim di Amerika
>> >yang katanya mayoritas Kristen itu.
>> >
>> >Hanya sebuat renungan menjelang natal.
>> >
>> >
>> >Andrew Pattiwael
>> >The Military College of Vermont
>> >Norwich University Corps of Cadets
>> >
>> >
>> >Harassment of Spouse, Children Chills Jakarta Mixed Marriage
>> >
>> >By Keith B. Richburg
>> >Washington Post Foreign Service
>> >Wednesday, December 23, 1998; Page A19
>> >
>> >JAKARTA, Indonesia-Yunita L. Riana doesn't consider herself a
>> >revolutionary. But 11 years ago, she committed what for many in
>> >Indonesia's indigenous population might be considered an act of
>> >revolutionary proportions: She fell in love with, and married, an
>> >ethnic Chinese man.
>> >
>> >She was 17 when she became involved with Paul Tenggana, who is 10
>> >years her elder. Her relatives were aghast. His wealthy family was
not
>> >much better. They opposed the marriage, and still, she said, "I do
not
>> >get along with his family."
>> >
>> >But what has been worse for her has been the insults, the threats,
and
>> >the constant harassment she faces living as part of a mixed couple
in
>> >ethnically divided Indonesia. Every day, she said, she fears for the
>> >safety of her two young sons.
>> >
>> >She described how even driving down the street in the family car can
>> >be a traumatic experience. "Every time we go anywhere, and my
husband
>> >makes a little mistake driving, people say, 'Chinese! Stupid
Chinese!
>> >I'll burn down your house.' "
>> >
>> >"I get so depressed," she said. "Every time the same thing. 'I will
>> >burn down your house!' 'I will burn your car!' 'I will kidnap your
>> >children!' " She stopped briefly, tears welling in her eyes, her
voice
>> >softly breaking as she tried to continue.
>> >
>> >"I'm very upset," she said at last. "It's always been that way. But
>> >now, since May, it's become more frequent. If I have a problem with
>> >one of the housekeepers and I have to scold them, I think twice -- I
>> >don't want them to do anything stupid because this is a Chinese
house.
>> >They might burn the house or kidnap the children, because it's a
>> >Chinese house."
>> >
>> >Her story gets worse. Lately, since the riots of May, people have
been
>> >showing up at her front door every week, demanding money. And of
>> >course she gives the money, because she is afraid. "I've become like
>> >Santa Claus," she said.
>> >
>> >Not even the children are immune; young neighborhood toughs have
>> >showed up at the gates of her eldest son's Catholic junior high
>> >school, deriding the Chinese children for being rich in poor
>> >Indonesia, and demanding cash.
>> >
>> >She said it was love that drove her to marry Paul, when she was just
>> >21. But now at 32, what love there was has been worn down by the
>> >constant struggle. "If I had a second chance," she conceded, "I
>> >wouldn't marry a Chinese. No way. It's too much trouble. Right now,
I
>> >think love is stupid. I'm worried about my sons' safety."
>> >
>> >"I do have regrets," she said, gently weeping. "I cannot talk to
>> >anyone -- not my husband, not my sons, because I don't want them to
>> >feel bad about being Chinese. I keep it in my heart."
>> >
>> >She has applied for a job in Ireland, in the tourism industry. But
she
>> >knows her husband will not go, because even with the harassment and
>> >threats, he feels he belongs here.
>> >
>> >"He says, 'I was born here, my parents were born here. I don't even
>> >know where China is. I have an Indonesian passport,' " she said. But
>> >of her husband's patriotism, "It's crazy," she said, "stupid."
>>
>>
>> ______________________________________________________
>> Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
>>
>


______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

Kirim email ke