In a message dated 12/26/98 9:30:07 PM Eastern Standard Time,
[EMAIL PROTECTED] writes:

> Nasrullah Idris
>  --------------------
>  Bukankah ini terjadi pada sepasang suami (artis) di Indonesia di mana
>  setelah berapa lama tidak mempunyai anak. Tetapi setelah keduanya
>  bercerai, kemudian kawin lain dengan pasangan baru, eh akhirnya bisa
>  juga mempunyai anak,

Irwan:
Waduh, kalau laki2 dengan laki2 ya sampai kapan pun ngga bisa
punya anak dong. Sepasang suami walau artis sekalipun paling
banter hanya bisa main anggar saja tuh....:)

Nasrullah:
>  Beberapa hari sejak memperoleh kabar itu, saya merenung, "Kalau
>  manusia saja bisa menciptakan karya yang spektakuler tentang
>  reproduksi manusia, tentu Tuhan pasti bisa menciptakan yang jauh
>  lebih lebih spektakulter lagi tentang hal yang sama". Ketika itu
>  bergetarlah hati saya, "Ya Allah SWT, Engkau Maha Kuasa".

Irwan:
Betul, Tuhan itu maha kuasa. Seringkali saya temui orang
yg membatasi kemahakuasaan Tuhan dengan logika pribadinya.
Padahal kalau Tuhan itu kita yakini yang maha kuasa, maha bisa,
tak ada yang tak mungkin dihadapan Tuhan. Orang sering  kali
lupa akan keterbatasan logikanya, keterbatasan kemampuan
berpikirnya sehingga acap kali mensyaratkan bahwa Tuhan itu
harus A tidak boleh B. Padahal dengan kemahakuasaan Tuhan,
sebenarnya Tuhan itu bisa A dan B bila Dia berkehendak.
Pembatasan logika terhadap keberadaan Tuhan bagi saya hanyalah
cerminan sikap penyangkalan terhadap kemahakuasaan Tuhan.
Memaksakan logika kita yg jelas2 terbatas sebagai suatu ukuran dan
batasan akan keberadaan dan kemampuan Tuhan sama saja
dengan men-Tuhan-kan diri sendiri, menganggap dirinya lebih dari
Tuhan.

Nasrullah:
>  Jadi secara tidak langsung, ilmuwan beragama Kristen itu
>  sedikit-banyak telah membantu saya untuk meningkatkan keimanan kepada
>  Allah SWT. Dengan kata lain, adanya bayi Tabung merupakan tanda
>  kekuasaan
>  Allah SWT.

Irwan:
Tidak hanya bayi tabung. Mobil, telpon, komputer, internet, sinar
matahari, kicauan burung, petir, hujan, semuanya saya syukuri
sebagai rahmat Tuhan. Bahkan rasa kecewa, rasa marah, rasa
sedih, yang saya miliki saya syukuri sebagai berkat dari Tuhan.
Kalau kita mau lebih peka terhadap sekeliling kita, banyak sekali
sebenarnya berkat-berkat Tuhan yang telah diberikan kepada kita.
Hanya saja mungkin karena rutinitas, kepekaan tersebut jadi berkurang.


>  Nasrullah Idris
>  --------------------
>          Ya saya pernah mendengar.
>          Sebagian orang Jepang pun ketika untuk pertama kali melihat pesawat
>  yang terbang merasa heran, kok bisa terbang. Lalu diselidikinya
>  berdasarkan urutan riset dan development.
>          Lain dengan segelintir orang Papua Nugini. Ketika untuk pertama
>  melihat pesawat terbang muncul pikiran, "Wah itu Dewa Kayangan".

Irwan:
Apakah anda yakin tidak ada segelintir orang Jepang yg punya
sikap sama yaitu menganggap kapal terbang adalah
Dewa Kayangan?....:)
Ngomong2 sudah ada ngga orang2 kita yang menyelidiki
keberadaan sejumlah keris yang diyakini sebagai keris
keramat yang setiap jangka waktu tertentu harus dimandikan.
Tentunya penelitian atau riset berdasarkan ilmu pengetahuan,
kenapa sampai dianggap keramat, kekuatan apa saja yang ada
dalam keris tersebut, dst.

Ada yang mau mulai?....:)

>  Irwan Ariston Napitupulu
>  -----------------------------------
>          Kalau 2000 tahun yg lalu mereka sudah bisa menemukan bayi tabung.
>  tentunya akan banyak bayi tabung-bayi tabung setelah lahirnya
>  bayi tabung yang pertama tersebut. Tentunya akan ada juga lahir
>  bayi tabung 1999 tahun yang lalu. Bisa juga lahir kemudian 10 bayi
>  tabung sekitar 1998 tahun yang lalu.
>
>  Nasrullah Idris
>  ---------------------
>          Tetapi bagaimana kalau bayi tabung kedua itu datangnya baru lima
>  abad kemudian. Taroklah karena si penemu setelah berhasil merekayasa
>  Bayi Tabung Pertama, keburu meninggal. Sehingga nggak sempat lagi
>  memberikan ilmunya.

Irwan:
Lho, alat2nya serta coretan2 teori/perhitungannya waktu itu apa juga
ikut lenyap seiring dengan meninggalnya penemu tersebut?....:)


jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu

Kirim email ke