: Di Jawa Tengah ada dua orang bocah berusia 10 tahun yang
: bertetangga.
: Yang satu berpredikat hidup sebatang kara, tetapi mempunyai harta
: yang melimpah dan tinggal di rumah yang mewah.
: Yang lain berpredikat Fakir Miskin, tetapi masih merasakan hidup
: bersama kedua orangtua dan sejumlah kakak kandung di rumah yang
: sumpek.
: Kalau kita menjadi tetangga kedua bocah itu, mana yang seharusnya
: lebih dulu kita perhatikan atau santuni?
:
: Salam,
:
: Nasrullah Idris
Bung NI, kalau pertanyaan "mana yang musti di dulukan?" bingung juga mana yang musti di dahulukan. Pertanyaan anda buat saya pribadi sangat serius (bagaimana rekan permias yang lain?). Andai saya adalah orang yang memiliki sedikit lebih dari penghasilan perbulan akan saya tolong anak yang berpredikat fakir miskin dalam pengertian ekonomi.
Tapi bagaimana dengan yang miskin kasih sayang? Ini juga problem banyak orang yang tak punya orang tua. Saya sejak kecil (umur 8 tahun) tidak punya ibu. Entah karena ayah saya orang minang, beliau akhirnya (1 tahun setelah ibu meninggal) kembali ke kampung halamannya. Saya tinggal dengan saudara perempuan satu-satunya dan hidup dalam lingkungan klan saya (Tjaniago). Ketika tamat SD saya ikut kakak perempuan ke Jakarta sampai sekarang.
Ketika mulai dewasa persaolan baru dapat saya pahami secara lebih gamblang bagaimana persoalan kurang kasih sayang menjadi kendala. Kurang percaya diri, tidak berani dekat-dekat dengan perempuan, tidak berani mengemukakan pendapat, kalau sedang punya masalah terpaksa telan sendiri, karena dari kecil tidak punya tempat berkeluh-kesah.
Rekan-rekan permias, ma'af kalau saya sedikit cerita pribadi dan mohon dipahami bahwa saya tidak dalam usaha untuk meminta belas kasihan atau pujian. Ini hanya sepenggal kisah dari masa lalu yang terus membekas. Maksud saya persoalan kekurangan (miskin kasih sayang) dari orang juga persoalan yang menjadi penghalang dalam perkembangan jiwa seseorang.
Menurut saya, kedua-duanya sama-sama harus ditolong. Yang satu kita beri bantuan ekonomi semampu kita dan yang lain kita beri perhatian yang tulus, meski tidak dapat menggantikan kasih saya ayah dan ibu.
Salam
Adri Amiruddin
- Anak Yatim Piatu & Anak Fakir Miskin Nasrullah Idris
- Adri Amiruddin
