Point yang Bung Sanit sampaikan adalah jangan sampai negara kita terbawa
kembali kepada sistem fasisme dan otoriter yang sangat besar. Itu sebabnya
dia mengingatkam masyarakat agar mencermati kemungkinan berkoalisinya
partai-partai: PKB-PKP-PDI Mega. Saya kira pendapatnya cukup menarik untuk
dicermati.
Selamat menyimak,
Endra Susila
---------------------------------------------------------------------
http://www.jawapos.co.id/
Cermati Koalisi PKB-PKP-PDI Mega
Jakarta, JP.-
Pengamat politik dari UI Drs Arbi Sanit mengingatkan masyarakat agar
mencermati kemungkinan tiga partai, seperti PKB, PKP, dan PDI Perjuangan,
membangun koalisi. Jika ketiga parpol tersebut serius membangun koalisi,
peluang untuk membangun kepemimpinan fasisme dan otoriter sangat besar.
"Bibit fasisme dan otoriter ada pada ketiga partai itu", kata Arbi Sanit
kepada wartawan dalam diskusi jajak pendapat pemilu di Gedung Serba Guna
Senayan kemarin.
Dia menilai, bibit kepemimpinan yang berbau fasisme dan otoriterisme
ditengarai ada di PKB (Partai Kebangkitan Bangsa), PKP (Partai Keadilan
dan Persatuan), dan PDI Perjuangan. PKP yang didominasi para purnawirawan
jenderal, katanya, cenderung bergaya kepemimpinan militeristik, tidak ada
ruang gerak bagi demokrasi. Purnawirawan yang bisa berdemokrasi saya lihat
hanya Ali Sadikin, cetus Arbi.
Selain itu, ada kecenderungan purnawirawan mempertahankan dwifungsi ABRI.
Padahal, lanjut Arbi, syarat penegakan demokrasi harus bisa menghilangkan
dwifungsi ABRI dalam perpolitikan Indonesia. Namun, masyarakat sempat
terkecoh isu seputar jatah kursi 38 ABRI di DPR dan masalah kekaryaaan
ABRI. Padahal, persoalan mendasar sebenarnya dwifungsi ABRI. Itu yang
harus dihapus karena menjadi kunci menegakkan demokrasi, tandasnya.
PDI Perjuangan, lanjut Arbi, sangat mengultuskan kepemimpinan Megawati
Soekarnoputri dan Bung Karno. Bahayanya, jika Mega benar-benar naik, bisa
menyuburkan kepemimpinan otoriter. Kalau bawahannya tidak berani
mengkritik atasannya, pasti muncul kepemimpinan otoriter. Itu sangat
berbahaya, jelasnya.
PKB, kata Arbi, memiliki tradisi pola kepemimpinan yang kurang demokratis.
Suara kiai dan ulama sebagai panutan umat dianggap paling benar. Dengan
demikian, jarang ada yang berani mengkritik keputusan mereka.
Nah, pola kepemimpinan militerisme, chauvinisme sempit, ditambah
pengultusan individu dan kepemimpinan paternalistik dari atas (kiai) ya
bisa berbahaya. Kalau itu digabung, lalu apa jadinya. Itu sudah pasti
melahirkan kepemimpinan fasisme yang otoriter, ingat Arbi.
Kepemimpinan fasisme dan otoriter itu terjadi, lanjut Arbi, jika ketiga
partai melakukan koalisi, lalu membangun pemerintah bersama. Ini harus
dihindarkan kalau kita tidak mau terperosok lagi dalam kepemimpinan Bung
Karno dan Soeharto yang sentralistik, jelasnya.
...................... dihapus ...................