Lha iya toh...jadinya serba susah. ABRI (yang diatas dan sudah enak) udah merasa keenakan dengan segala macam hak istimewa yang di dapatkan selama ini, sedangkan rakyat yang memang sebagian besar kurang ngerti, juga ikut2an salah kaprah. Jadi ya memang agak ruwet kalo mau merubah, tapi bukannya nggak bisa dirubah lho... Seharusnya sih udah dari dulu2 ABRI bersama para tekhnokrat atau kalangan universitas dan lembaga2 tekhnologi mengembangkan perlengkapan dan persenjataan, sehingga kita tidak terlalu bergantung pada negara lain. Lha wong india ama pakistan aja berani kok ngembangin senjata nuklir, masa kita masih pake senjata2 sisa PD I, ya udah berkarat dong. Sebagian besar persenjataan ABRI yang pada umumnya sisa dari PD I dan PD II yang di beli dari buangan negara2 yang udah nggak pake lagi, hanya nongkrong aja, di elus2, dan nggak berfungsi sebagai mana mestinya. Akhirnya ya, anggota ABRI kita seperti "kehilangan mainan" dan lari kesana kemari cari kesibukan dan seperti anak yang ngerepotin ibunya. Saya juga setuju dengan pendapat bahwa istilah2 yang di pake oleh ABRI selama ini terlalu di besar besarkan sehingga menimbulkan kesan seolah2 ABRI itu paling pinter, paling tahu, paling wibawa, dan paling2 lainnya deh...padahal kenyataannya kan ndak gitu tho.. Nah kalo saya sih nggak menyalahkan ABRI secara keseluruhan, karena kenyataannya mereka yang berada di bawah (pama, bintara dan tamtama) sendiripun sering ndak ngerti dengan istilah istilah itu. Semuanya di manipulasi oleh yang di atas dan udah enak, kemudian di jadikan doktrin yang diajarkan turun temurun tanpa pemahaman akan hakekat yang sebenarnya dari istilah semacam "pengayom" "dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat" dsb. Jadi ini bukan kesalahan ABRI secara keseluruhan deh kalo menurut saya. Permasalahannya sekarang, para penentu kebijaksanaan ABRI saat ini masih sebagian besar adalah sisa2 ORANG LAMA (pinjem istilahnya bung Ridwan). Mungkin ada satu dua yang sadar, dan berpikiran jauh ke depan, tapi ruang geraknya sangat sempit karena terbentur masalah hirarki dan loyalitas yang kaku dalam organisasi. Dari kelompok menengah mungkin akan bisa muncul lebih banyak perwira ABRI yang punya wawasan bersih dan maju ke depan. Tapi mereka terbentur halangan yang lebih susah lagi. Loyalitas dan hirarki yang kaku membuat kelompok ini tidak punya kesempatan sama sekali untuk come up with new ideas. Sedangkan kelompok paling bawah hanya bertindak sebagai eksekutor lapangan, tanggung jawab ada di pundak para atasannya. Jadi kan susah... Mudah2an aja deh orang semacam Bambang Yudhoyono bisa mendapat kesempatan lebih luas untuk membangun ABRI menuju kepada suatu organisasi mliter yang lebih professional di masa depan. Saya kuatir kalo orang2 yang seperti itu justru dianggap berbahaya bagi kepentingan individu dan kelompok yang mengatas namakan kepentingan ABRI dan negara, terus di kotakkan...ya semakin sempit kesempatan untuk mengadakan reformasi di tubuh ABRI. Atau mungkin ada pendapat dan masukan dari rekan2 yang lain....??? ---FNU Brawijaya <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Saya sangat setuju tuh. Memang perlu diciptakan mainan-mainan yang > dapat bikin sibuk sekaligus bikin perut nggak keroncongan. Contoh konkrit > kenapa Pindad nggak dikembangkan lebih lanjut. Itu pabrik peluru juga > ditingkatkan produksinya untuk keperluan ekspor. Juga berbagai SS-SS itu. > Mungkin perlu perluasan paten untuk keperluan ekspor juga. Kan banyak > negara-negara asia yang juga butuh. Bila perlu bikin inovasi sana-sini > sehingga nggak perlu minta paten sama negara asal, dengan kerja sama > dg perguruan tinggi. Misal dengan ITB untuk material science-nya. Lha > wong orang ndeso di Cipacing sana yg nggak jauh-jauh amat dari Pindad > bisa bikin segala macam pestol dan senapan malah dengan model pistol > mainan kok. Mosok Pindad nggak bisa bikin R&D buat pestol dan > senapan versi sendiri. Bukannya lalu jadi lurah, camat, bupati, > gubernur,dan presiden. Buanyak celah mainan sendiri kok. Kalau sudah > purnawirawan lalu mau jadi politisi sih boleh. Atau harus keluar > dulu dari ABRI baru jadi bupati misale. Contoh lain lagi, kenapa nggak > ngembangin roket bareng LAPAN. Dulu kita sudah bisa ngeluncurin > itu roket, mbok ya diteruskan secara intensif dan ekstensif. Lha wong > teknologi sudah punya kok nggak diaplikasikan secara benar. Kalau > sekedar roket-roket yg dapat dikendalikan kan mestinya sudah gampang > ngembanginnya. Apalagi roket yg asal njeblug. Wong bikin pesawat > mini dg remote control aja udah bisa kok. > > Makanya "kembali ke barak" kayaknya sudah merupakan keharusan. > Soalnya istilah "dwi fungsi ABRI" diterjemahkan terlalu jauh. Kalau perlu > itu sapta marga diubah bunyinya. Katanya ABRI kan lahir dari rakyat, > lha kok dalam perjalanannya ABRI mau menuntun rakyat. Lho, yang > nglairin siapa yg dilahirkan siapa. Apa rakyatnya sudah nenek-nenek > sehingga perlu dituntun, atau anak-anak yg perlu tuntunan. Kan nggak? > Pada prinsipnya kesejajaran sipil dan militer harus ditanamkan di kepala > setiap insan militer. Jangan lalu sok pinter lalu menganggap diri sesepuh. > Coba lihat di setiap lingkungan, nanti kan kita lihat para personil ABRI > kan bertindak sebagai SESEPUH. Kalau tidak ya sebagai PENGAYOM. > Lho kok pengayom. ABRI itu ada ya sebagai penegak, penjaga > keamanan atau pengamanan, tapi bukan sebagai tempat berlindung. > Tidak gitu tho.... Emangnya gardu buat tempat berlindung dari hujan. > > Kelihatannya selintas sepele, tapi istilah pengayom atau tempat berlindung > mempunyai makna yang dapat membuat personil ABRI keblinger dan jadi > linglung. Repotnya masyarakat sipil jadi ikut-ikutan salah kaprah sebentar- > sebentar mengangkat anggota masyarakat dari ABRI untuk jadi pemimpinnya. > Yang jadi masalah, dasarnya/alasannya adalah wibawa. Ini lagi yang repot. > Wibawa mestinya bukan dilahirkan dari punya atau tidak punya pestol. > Tapi mesti dilandasi keinginan untuk memperbaiki lingkungannya itu. > Nah, misal jadi lurah. Jangan sampai hanya bermodalkan pestol dan kumis > melintang itu. Saat ini benangnya sih udah kadung ruwet. Daripada > pusing mending fungsi ABRI dikembalikan seperti semula. Kalau mau jadi > pejabat dari tingkat kampung sampai nasional that's fine, tapi mesti > keluar dulu dari kedinasan. Itu Dephankam dan personilnya juga mesti > orang sipil, atau orang militer yang sudah keluar. Jadi nggak ada itu > istilah ABRI aktif merasa direndahkan bila diperintah oleh bekas ABRI. > > Ya moga-moga saja semua bisa berjalan ke arah kebaikan. Nggak cuma > pengen menange dewe semua. Kalau gini-gini aja ya Indonesia siap-siap > saingan jadi ketua GNTMT (gerakan negara-negara terbelakang yg makin > terbelakang) dg negara-negara Afrika sana. > > Salam, > Jaya > > > > > Saya rasa 75% anggota seragam ijo (tamtama, bintara, pama dan pamen > > yang nggak sempat dapet jabatan sipil) akan sangat setuju bila diminta > > untuk "kembali ke barak" saja, tanpa dipusingkan dengan urusan sipil. > > Kalau kita mau melihat si seragam ijo dari sudut pandang bawah (bukan > > para pati yang jadi gubernur dan menteri), kita mungkin akan bisa > > melihat kejenuhan dan rasa frustasi yang dialami sebagai bawahan yang > > sering terpaksa untuk harus berhadapan dengan masyarakat, dengan > > keluarga mereka sendiri, dengan teman2 serta saudara saudara mereka > > hanya untuk mengikuti ambisi pribadi mereka yang diatas. Mungkin > > mereka tidak banyak yang tahu, untuk apa harus bercapek2 jaga di pos2 > > pinggir jalan, nginep, ngadepin rakyat dengan tujuan yang mereka > > sendiri tidak mengerti. > > > > Jadi saya yakin bahwa apabila mereka disuruh kembali ke barak, > > sebagian besar akan sangat setuju, karena kehidupan mereka sendiri > > akan bisa lebih tenang dan teratur, hanya disibukkan dengan urusan > > latihan militer yang memang sudah seharusnya menjadi profesi mereka. > > > > Tapi kita semua juga harus menyadari bahwa untuk mempunyai seragam ijo > > yang professional, kita juga harus menyediakan "mainan" yang memadai > > buat mereka agar profesinya tidak terpecah. Selain itu, perlu juga > > diperhatikan kesejahteraan mereka (khususnya lapisan bawah) sehingga > > profesinya tidak terganggu juga dengan urusan perut dan ekonomi > > keluarga. > > > > Mudah2an semua menyadari.. > > > > ---FNU Brawijaya <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > > > Menanggapi keinginan untuk menghidupkan Kodam Iskandarmuda Aceh, > > > lebih baik lagi kalau bukan hanya 17 lagi, kalau perlu 170 kodam. Biar > > > lowongan kerja para sragam ijo lebih terbuka dan tidak lagi ngrusuhi > > posisi > > > sipil. > > > > > > -- > > > \\\|/// > > > \\ - - // > > > ( @ @ ) > > > ------------oOOo-(_)-oOOo----------- > > > FNU Brawijaya > > > Dept of Civil Engineering > > > Rensselaer Polytechnic Institute > > > mailto:[EMAIL PROTECTED] > > > --------------------Oooo------------ > > > oooO ( ) > > > ( ) ) / > > > \ ( (_/ > > > \_) > > > > > > > _________________________________________________________ > > DO YOU YAHOO!? > > Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com > > -- > \\\|/// > \\ - - // > ( @ @ ) > ------------oOOo-(_)-oOOo----------- > FNU Brawijaya > Dept of Civil Engineering > Rensselaer Polytechnic Institute > mailto:[EMAIL PROTECTED] > --------------------Oooo------------ > oooO ( ) > ( ) ) / > \ ( (_/ > \_) > _________________________________________________________ DO YOU YAHOO!? Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com
