Salut buat Habibie.......
Harus kita akui, tidak semua orang bisa berbuat seperti ini. Kali ini
tindakan beliau patut kita beri ancungan jempol. Tinggal kita tunggu
saja realisasi dari ucapan-ucapannya tersebut. Semoga saja kehidupan
rakyat aceh dimasa mendatang menjadi jauh lebih baik,tentram, dan
sejahtera, serta aman...(amiennnnnn!)
Wassalam
Mohamad Rosadi
======================================================================Berita
dari Republika....
Presiden Minta Maaf pada Rakyat Aceh
BANDA ACEH -- Takbir bergema di Masjid Baiturrahman Banda Aceh, kemarin.
Itu tidak saja dari sekitar 3.000 jamaah masjid, tapi juga berkali-kali
digemakan Presiden BJ Habibie.
Pada awal pidatonya, Presiden berseru: Allahu Akbar, Allahu
Akbar, Allahu Akbar! Presiden Habibie memenuhi janjinya.
Dalam silaturahmi usai shalat Jumat, Presiden menampung semua
uneg-uneg dan aspirasi masyarakat Aceh, kecuali suatu hal yakni
soal referendum. ''Masalah itu sepenuhnya merupakan
wewenang MPR,'' tegas Presiden, menjawab usul seorang
mahasiswa agar Pemerintah Pusat melaksanakan referendum.
Sebelum dialog -- yang berlangsung agak panas dengan
lontaran-lontaran pertanyaan cukup kritis dari masyarakat Aceh
Presiden Habibie lebih dahulu membacakan pidato tertulisnya.
Dalam pidato itu, Presiden atas nama pemerintah menyampaikan
permohonan maaf kepada rakyat Aceh.
"Pemerintah memaklumi jika masyarakat Aceh merasa pedih
dan kecewa serta traumatis terhadap ekses dari operasi
keamanan yang terjadi selama ini. Atas nama pemerintah dan
ABRI, saya sangat menyesalkan segala ekses yang terjadi,''
tandas Kepala Negara yang disambut takbir Allahu Akbar
jamaah masjid.
Mengulangi apa yang telah disampaikankan dalam pidato
Kenegaraan 15 Agustus lalu, Habibie menyatakan, ''Dari tempat
yang suci di Masjid Baiturrahman ini, saya sekali lagi
menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh bangsa
Indonesia atas segala tindakan dan kesalahan yang dilakukan
aparat dalam menjalankan tugasnya, sehingga -- baik secara
sadar atau tidak sadar, sengaja atau tidak sengaja -- menyakiti
dan melukai hati rakyat.''
Melalui forum silaturahmi ini, lanjut Presiden, permintaan maaf
juga disampaikan kepada seluruh rakyat Aceh, khususnya para
keluarga korban atas ekses yang terjadi dan sama-sama tidak
dikehendaki tersebut. ''Saya intruksikan [kepada] aparat
keamanan untuk menghentikan semua tindakan kekerasan dan
pertumbahan darah. Saya juga minta diambil tindakan terhadap
oknum ABRI, birokrat dan masyarakat yang melaksanakan
perbuatan melanggar hukum dan melanggar hak asasi manusia,''
tegasnya.
Presiden juga mengatakan, pemerintah sekarang ini amat
menyadari bahwa kebijaksanaan pada masa lalu ada yang tidak
cocok bagi masyarakat Aceh. Kebijaksanaan itu mungkin terjadi
karena langkah yang sentralistik dan penyeragaman.
Kemudian, secara pribadi, Habibie menyatakan menjadi orang
tua asuh bagi anak-anak berbakat korban operasi keamanan.
''Saya pribadi Bacharuddin Jusuf Habibie dan istri Hajjah Ainun
Habibie telah mengambil kebijaksanaan dan jika diterima
bersedia menjadi orang tua asuh dari anak-anak yang berbakat.
Caranya saya serahkan kepada para tokoh masyarakat,'' ujar
Presiden.
Presiden bersama Ny Hasri Ainun Habibie tiba di bandara
Sultan Iskandar Muda Aceh Jumat pukul 11.30. Di bandara,
Kepala Negara disambut Gubernur Aceh Syamsuddin Mahmud,
Pangdam I/Bukit Barisan Mayjen TNI Rachman Gaffar, tokoh
ulama Teungku Muhibbudin Wali dan Teungku Ahmad Dahlan,
serta Rektor IAIN Ar Raniriy Dr Sofwan Idris. Presiden
didampingi sejumlah menteri, termasuk Menhankam/Pangab
Jenderal TNI Wiranto.
Kedatangan Presiden juga disambut unjuk rasa mahasiswa.
Berbagai spanduk terlihat di beberapa tempat, yang antara lain
bertuliskan Status Daerah Istimewa Aceh Jangan Basa-Basi
Tolong Realisasinya, Kodam Iskandar Muda Oke, Tapi
Harus Memihak Kepada Rakyat!.
Di Masjid Baiturrahman, kaum wanita yang biasanya jarang
shalat Jumat, kemarin mereka terlihat ikut shalat. Bahkan di
antara mereka, usai shalat, menyampaikan uneg-uneg. Perhatian
media pun, termasuk media asing, cukup tinggi.
Dalam sambutannya, Habibie menjelaskan, pemerintah tengah
mengembangkan sebuah kerangka penyelesaian masalah Aceh
yang adil, komprehensif dan berorientasi ke depan. ''Adil bagi
semua pihak, komprehensif dalam segala aspeknya dan
berorientasi ke depan untuk membangun masa depan Aceh yang
lebih tenteram dan sejahtera.''
Ia menambahkan, ''Yang ingin kita bawa dan wujudkan di masa
depan adalah kehormatan, keberdayaan dan kehidupan
masyarakat Aceh yang sejati dan yang kita dambakan dan
bukan masa depan yang terbelenggu oleh trauma,'' paparnya.
Gubernur Syamsuddin Mahmud dalam sambutannya, sebelum
Presiden berpidato, secara terbuka menyatakan kekecewaan
masyarakat Aceh kepada Pemerintah Pusat. Dari mulai
dibubarkannya Provinsi Aceh dan ditetapkan sebagai salah satu
karesidenan dalam provinsi Sumatera Utara pada 23 Januari
1951, hingga dilikuidasinya Kodam Iskandar Muda.
Ia juga menyatakan, konflik Aceh tahun 1959 yang diselesaikan
oleh suatu missi yang dipimpin Wakil Perdana Menteri Mr Hardi
dengan menetapkan Aceh sebagai Daerah Istimewa Aceh dalam
bidang agama, adat dan pendidikan, ternyata terpasung dengan
keluarnya UU Nomor 5 Tahun 1974 tentang pemerintahan
daerah. ''Dampak dari Undang-Undang itu menekan kebebasan
berpolitik, berekonomi dan berbudaya, khususnya mengeluarkan
pendapat,'' tegasnya.
''Kritik terhadap kebijakan pusat dianggap pemberontakan.
Pemasungan ini menimbulkan gejolak, rasa tidak puas dan
mereka menyebutkan diri sebagai Gerakan Aceh Merdeka,
yang kemudian dikenal sebagai gerakan pengacau keamanan.
Pengacau-pengacau ini ditumpas oleh pemerintah melalui suatu
operasi militer dengan menjadikan Aceh sebagai daerah operasi
militer,'' ujarnya.
Akibat yang berlangsung selama lebih kurang sepuluh tahun
yakni sejak tahun 1989 sampai dengan tanggal 7 Agustus 1998,
terjadilan pelanggaran HAM yang menelan korban cukup besar
jiwa dan harta.
Dalam sambutan yang berkali-kali mendapat tepuk tangan
masyarakat Aceh itu, Gubernur meminta kepada Presiden
memikirkan kembali dibukanya pelabuhan laut Sabang sehingga
menjadi embarkasi dan debarkasi haji laut dan dibukanya jalur
kereta api di Aceh dan diperpanjangnya landasan bandara
Sulthan Iskandar Muda.
Permintaan Gubernur ini langsung dijawab Habibie dengan
sembilan program jangka pendek, sedang dan panjang yang
akan dilakukan untuk memperbaiki kehidupan masyarakat
Aceh. Di antara program itu adalah dibukanya kembali
pelabuhan Sabang dan diperpanjangnya landasan pacu bandara
sulthan Iskandar Muda (Lengkapnya baca: Praogram untuk
Aceh). Usai keduanya berpidato di mimbar masjid, dialog pun
dibuka. Dialog yang dijadwalkan sekitar 25 menit, akhirnya
molor hingga hampir satu jam. Ini antara lain karena banyaknya
masyarakat mengajukan pertanyaan. Habibie menjawab tuntas
pertanyaan itu, dari masalah perbaikan kehidupan anak-anak
yatim dan para janda akibat ekses operasional keamanan hingga
permintaan tentang referendum.
Fuadri, mahasiswa MIPA Universitas Syah Kualam Banda
Aceh dengan suara tegas menyampaikan uneg-unegnya. Sambil
berdiri dengan menggenggam mikropon dan hanya berjarak tak
lebih dua meter dari Kepala Negara, ia mengatakan, kami atas
nama rakyat Aceh tak perlu lagi menerima janji-janji dari
pemerintah pusat.
''Kami ingin komitmen politik yang jelas, karena semua janji itu
merupakan basa-basi pemerintah RI untuk memperpanjang
penderitaan rakyat Aceh. Menurut kami, penyelesaian kasus
Aceh secara komprehensif tidak lain adalah dengan
referendum,'' tuturnya. Sebelum menguraikan uneg-unengnya,
Fuadri sempat melontarkan ungkapan, ''kami anak-anak muda
tak percaya lagi dengan orang tua yang sebentar lagi mati.''
Mendengar ungkapan ini, Habibie langsung menjawab,''Ini di
masjid, jangan melecehkan orang tua. Tanpa orang tua maka
Anda tidak ada. Jangan takabur yang menentukan orang mati
hanya Allah SWT,'' kata Presiden. Suasana menjadi hening.
Habibie kemudian mencontohkan Ketua Umum GP Anshor
Iqbal Assegaf, yang wafat dalam usia muda bulan lalu. Menurut
Habibie, Iqbal adalah seorang dokter hewan yang pandai. Tutur
katanya baik, sopan dan berakhlak mulia. Ia menilai anak muda
ini kelak bisa menjadi seorang pemimpin yang baik, tapi Tuhan
berkehendak lain dengan dicabutnya usianya dalam usia muda.
''Karena itu sekali lagi saya mengingatkan kita tidak boleh
takabur sedikit pun,'' tegas Habibie.
Pada acara dialog tersebut seorang penanya mempertanyakan
ketatnya penjagaan saat Presiden berkunjung ke Aceh. ''Rakyat
Aceh masih mampu menjaga keselamatan Bapak Presiden
selama nawaitu (niat) Bapak Presiden tulus,'' kata penanya
yang tidak menyebutkan identitasnya.
Setelah menjawab pertanyaan, Presiden kemudian meninggalkan
masjid menuju ke Bandara dan selanjutkan kembali ke Jakarta.
Tokoh Malari Hariman Siregar, yang ikut serta dalam
rombongan Kepala Negara mengaku sangat terkesan dengan
gaya dan jawaban Presiden. ''Sikapnya sangat tenang sehingga
dia bisa mengoreksi kesalahan mahasiswa tadi,'' jelas Hariman.
Ketika dimintai pendapatnya tentang dialog itu, Hariman
mengatakan, ''Inilah dialog yang sesungguhnya. Seorang Kepala
Negara dengan tangan terbuka menerima masukan langsung dari
masyarakat tanpa rasa takut sedikit pun. Kalau dialog gaya
masa lalu, pasti sudah saya tinggalkan acara itu,'' tandasnya.
Rektor IAIN Ar Raniry Dr Sofwan Idris menanggapi hal
senada. Menurutnya, Presiden telah mendengarkan langsung apa
yang menjadi keinginan masyarakat Aceh. ''Kunjungan ini
sedikitnya memberkan angin segar bagi masyarakat Aceh bahwa
pemerintah pusat memiliki perhatian yang sangat tinggi terhadap
masyarakat Aceh,'' tuturnya.
Dalam kunjungan Presiden itu, sekitar seribu mahasiswa yang
melakukan demonstrasi, bentrok dengan aparat keamanan
ketika mereka mencoba menerobos blokade petugas di ujung
jembatan Pantee Pirak.
Akibat bentrokan itu, puluhan mahasiswa mengalami luka-luka
ringan tetapi seorang di antaranya dilarikan ke rumah sakit guna
mendapat perawatan. Sementara itu dua petugas keamanan juga
dilaporkan mengalami luka terkena lemparan demonstran.
Insiden jembatan "Pantee Pirak" itu terjadi saat mahasiswa
berupaya menerobos blokade aparat keamanan guna menuju
Masjid Raya Baiturrahman, tempat digelarnya dialog. Bentrokan
kecil di ujung jembatan mulai terjadi sebelum Presiden tiba di
kota "Serambi Mekah" tersebut.
Pasukan keamanan yang memblokade jembatan Pantee Pirak
dengan menggunakan tameng dan beberapa truk diparkir
sebagai pertahanan di tengah jembatan, berhasil menggagalkan
keinginan mahasiswa untuk menuju Masjid Raya Baiturrahman.
Akibat ketatnya penjagaan di jembatan tersebut, mahasiswa dari
berbagai perguruan tinggi Aceh, terus berupaya menerobos
barisan pertahanan keamanan, sehingga aparat terpaksa
memberikan tembakan peringatan. Namun mahasiswa terus
menekan, sehingga bentrokkan tidak dapat dihindari.
Melihat para demontrans semakin beringas, pihak keamanan
menembakkan gas air mata yang berhasil membubarkan
mahasiswa. Pihak keamanan yang berada pada lapisan kedua di
ujung jembatan Pantee Pirak --dekat Mesjid Raya
Baiturrahman--- juga terkena gas air mata, karena embusan
angin ke arah mereka. Memasuki waktu shalat Jumat, aksi
mahasiswa berhenti.
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com