Setelah membaca artikel dibawah, boleh diakui bahwa Presiden kita cukup
berbobot juga.  Harapan saya apa yang dijanjikan bapak Presiden untuk
masyarakat Aceh akan segera terwujud.
Mungkinkah beliau berani untuk berkunjung ke Ambon and Kalimantan untuk
meredakan gejolak yang sedang berlangsung?

> -----Original Message-----
> From: Mohammad Rosadi [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Sent: Friday, March 26, 1999 6:41 PM
> To:   [EMAIL PROTECTED]
> Subject:      Habibie di Aceh...
>
> Salut buat Habibie.......
>
> Harus kita akui, tidak semua orang bisa berbuat seperti ini. Kali ini
> tindakan beliau patut kita beri ancungan jempol. Tinggal kita tunggu
> saja realisasi dari ucapan-ucapannya tersebut. Semoga saja kehidupan
> rakyat aceh dimasa mendatang menjadi jauh lebih baik,tentram, dan
> sejahtera, serta aman...(amiennnnnn!)
>
>
> Wassalam
> Mohamad Rosadi
>
>
> ======================================================================Beri
> ta
> dari Republika....
>
>
>               Presiden Minta Maaf pada Rakyat Aceh
>
> BANDA ACEH -- Takbir bergema di Masjid Baiturrahman Banda Aceh, kemarin.
> Itu tidak saja dari sekitar 3.000 jamaah masjid, tapi juga berkali-kali
> digemakan Presiden BJ Habibie.
>
> Pada awal pidatonya, Presiden berseru: Allahu Akbar, Allahu
> Akbar, Allahu Akbar! Presiden Habibie memenuhi janjinya.
> Dalam silaturahmi usai shalat Jumat, Presiden menampung semua
> uneg-uneg dan aspirasi masyarakat Aceh, kecuali suatu hal yakni
> soal referendum. ''Masalah itu sepenuhnya merupakan
> wewenang MPR,'' tegas Presiden, menjawab usul seorang
> mahasiswa agar Pemerintah Pusat melaksanakan referendum.
>
> Sebelum dialog -- yang berlangsung agak panas dengan
> lontaran-lontaran pertanyaan cukup kritis dari masyarakat Aceh
> Presiden Habibie lebih dahulu membacakan pidato tertulisnya.
> Dalam pidato itu, Presiden atas nama pemerintah menyampaikan
> permohonan maaf kepada rakyat Aceh.
>
> "Pemerintah memaklumi jika masyarakat Aceh merasa pedih
> dan kecewa serta traumatis terhadap ekses dari operasi
> keamanan yang terjadi selama ini. Atas nama pemerintah dan
> ABRI, saya sangat menyesalkan segala ekses yang terjadi,''
> tandas Kepala Negara yang disambut takbir Allahu Akbar
> jamaah masjid.
>
> Mengulangi apa yang telah disampaikankan dalam pidato
> Kenegaraan 15 Agustus lalu, Habibie menyatakan, ''Dari tempat
> yang suci di Masjid Baiturrahman ini, saya sekali lagi
> menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh bangsa
> Indonesia atas segala tindakan dan kesalahan yang dilakukan
> aparat dalam menjalankan tugasnya, sehingga -- baik secara
> sadar atau tidak sadar, sengaja atau tidak sengaja -- menyakiti
> dan melukai hati rakyat.''
>
> Melalui forum silaturahmi ini, lanjut Presiden, permintaan maaf
> juga disampaikan kepada seluruh rakyat Aceh, khususnya para
> keluarga korban atas ekses yang terjadi dan sama-sama tidak
> dikehendaki tersebut. ''Saya intruksikan [kepada] aparat
> keamanan untuk menghentikan semua tindakan kekerasan dan
> pertumbahan darah. Saya juga minta diambil tindakan terhadap
> oknum ABRI, birokrat dan masyarakat yang melaksanakan
> perbuatan melanggar hukum dan melanggar hak asasi manusia,''
> tegasnya.
>
> Presiden juga mengatakan, pemerintah sekarang ini amat
> menyadari bahwa kebijaksanaan pada masa lalu ada yang tidak
> cocok bagi masyarakat Aceh. Kebijaksanaan itu mungkin terjadi
> karena langkah yang sentralistik dan penyeragaman.
>
> Kemudian, secara pribadi, Habibie menyatakan menjadi orang
> tua asuh bagi anak-anak berbakat korban operasi keamanan.
> ''Saya pribadi Bacharuddin Jusuf Habibie dan istri Hajjah Ainun
> Habibie telah mengambil kebijaksanaan dan jika diterima
> bersedia menjadi orang tua asuh dari anak-anak yang berbakat.
> Caranya saya serahkan kepada para tokoh masyarakat,'' ujar
> Presiden.
>
> Presiden bersama Ny Hasri Ainun Habibie tiba di bandara
> Sultan Iskandar Muda Aceh Jumat pukul 11.30. Di bandara,
> Kepala Negara disambut Gubernur Aceh Syamsuddin Mahmud,
> Pangdam I/Bukit Barisan Mayjen TNI Rachman Gaffar, tokoh
> ulama Teungku Muhibbudin Wali dan Teungku Ahmad Dahlan,
> serta Rektor IAIN Ar Raniriy Dr Sofwan Idris. Presiden
> didampingi sejumlah menteri, termasuk Menhankam/Pangab
> Jenderal TNI Wiranto.
>
> Kedatangan Presiden juga disambut unjuk rasa mahasiswa.
> Berbagai spanduk terlihat di beberapa tempat, yang antara lain
> bertuliskan Status Daerah Istimewa Aceh Jangan Basa-Basi
> Tolong Realisasinya, Kodam Iskandar Muda Oke, Tapi
> Harus Memihak Kepada Rakyat!.
>
> Di Masjid Baiturrahman, kaum wanita yang biasanya jarang
> shalat Jumat, kemarin mereka terlihat ikut shalat. Bahkan di
> antara mereka, usai shalat, menyampaikan uneg-uneg. Perhatian
> media pun, termasuk media asing, cukup tinggi.
>
> Dalam sambutannya, Habibie menjelaskan, pemerintah tengah
> mengembangkan sebuah kerangka penyelesaian masalah Aceh
> yang adil, komprehensif dan berorientasi ke depan. ''Adil bagi
> semua pihak, komprehensif dalam segala aspeknya dan
> berorientasi ke depan untuk membangun masa depan Aceh yang
> lebih tenteram dan sejahtera.''
>
> Ia menambahkan, ''Yang ingin kita bawa dan wujudkan di masa
> depan adalah kehormatan, keberdayaan dan kehidupan
> masyarakat Aceh yang sejati dan yang kita dambakan dan
> bukan masa depan yang terbelenggu oleh trauma,'' paparnya.
>
> Gubernur Syamsuddin Mahmud dalam sambutannya, sebelum
> Presiden berpidato, secara terbuka menyatakan kekecewaan
> masyarakat Aceh kepada Pemerintah Pusat. Dari mulai
> dibubarkannya Provinsi Aceh dan ditetapkan sebagai salah satu
> karesidenan dalam provinsi Sumatera Utara pada 23 Januari
> 1951, hingga dilikuidasinya Kodam Iskandar Muda.
> Ia juga menyatakan, konflik Aceh tahun 1959 yang diselesaikan
> oleh suatu missi yang dipimpin Wakil Perdana Menteri Mr Hardi
> dengan menetapkan Aceh sebagai Daerah Istimewa Aceh dalam
> bidang agama, adat dan pendidikan, ternyata terpasung dengan
> keluarnya UU Nomor 5 Tahun 1974 tentang pemerintahan
> daerah. ''Dampak dari Undang-Undang itu menekan kebebasan
> berpolitik, berekonomi dan berbudaya, khususnya mengeluarkan
> pendapat,'' tegasnya.
>
> ''Kritik terhadap kebijakan pusat dianggap pemberontakan.
> Pemasungan ini menimbulkan gejolak, rasa tidak puas dan
> mereka menyebutkan diri sebagai Gerakan Aceh Merdeka,
> yang kemudian dikenal sebagai gerakan pengacau keamanan.
> Pengacau-pengacau ini ditumpas oleh pemerintah melalui suatu
> operasi militer dengan menjadikan Aceh sebagai daerah operasi
> militer,'' ujarnya.
>
> Akibat yang berlangsung selama lebih kurang sepuluh tahun
> yakni sejak tahun 1989 sampai dengan tanggal 7 Agustus 1998,
> terjadilan pelanggaran HAM yang menelan korban cukup besar
> jiwa dan harta.
>
> Dalam sambutan yang berkali-kali mendapat tepuk tangan
> masyarakat Aceh itu, Gubernur meminta kepada Presiden
> memikirkan kembali dibukanya pelabuhan laut Sabang sehingga
> menjadi embarkasi dan debarkasi haji laut dan dibukanya jalur
> kereta api di Aceh dan diperpanjangnya landasan bandara
> Sulthan Iskandar Muda.
>
> Permintaan Gubernur ini langsung dijawab Habibie dengan
> sembilan program jangka pendek, sedang dan panjang yang
> akan dilakukan untuk memperbaiki kehidupan masyarakat
> Aceh. Di antara program itu adalah dibukanya kembali
> pelabuhan Sabang dan diperpanjangnya landasan pacu bandara
> sulthan Iskandar Muda (Lengkapnya baca: Praogram untuk
> Aceh). Usai keduanya berpidato di mimbar masjid, dialog pun
> dibuka. Dialog yang dijadwalkan sekitar 25 menit, akhirnya
> molor hingga hampir satu jam. Ini antara lain karena banyaknya
> masyarakat mengajukan pertanyaan. Habibie menjawab tuntas
> pertanyaan itu, dari masalah perbaikan kehidupan anak-anak
> yatim dan para janda akibat ekses operasional keamanan hingga
> permintaan tentang referendum.
>
> Fuadri, mahasiswa MIPA Universitas Syah Kualam Banda
> Aceh dengan suara tegas menyampaikan uneg-unegnya. Sambil
> berdiri dengan menggenggam mikropon dan hanya berjarak tak
> lebih dua meter dari Kepala Negara, ia mengatakan, kami atas
> nama rakyat Aceh tak perlu lagi menerima janji-janji dari
> pemerintah pusat.
>
> ''Kami ingin komitmen politik yang jelas, karena semua janji itu
> merupakan basa-basi pemerintah RI untuk memperpanjang
> penderitaan rakyat Aceh. Menurut kami, penyelesaian kasus
> Aceh secara komprehensif tidak lain adalah dengan
> referendum,'' tuturnya. Sebelum menguraikan uneg-unengnya,
> Fuadri sempat melontarkan ungkapan, ''kami anak-anak muda
> tak percaya lagi dengan orang tua yang sebentar lagi mati.''
>
> Mendengar ungkapan ini, Habibie langsung menjawab,''Ini di
> masjid, jangan melecehkan orang tua. Tanpa orang tua maka
> Anda tidak ada. Jangan takabur yang menentukan orang mati
> hanya Allah SWT,'' kata Presiden. Suasana menjadi hening.
>
> Habibie kemudian mencontohkan Ketua Umum GP Anshor
> Iqbal Assegaf, yang wafat dalam usia muda bulan lalu. Menurut
> Habibie, Iqbal adalah seorang dokter hewan yang pandai. Tutur
> katanya baik, sopan dan berakhlak mulia. Ia menilai anak muda
> ini kelak bisa menjadi seorang pemimpin yang baik, tapi Tuhan
> berkehendak lain dengan dicabutnya usianya dalam usia muda.
> ''Karena itu sekali lagi saya mengingatkan kita tidak boleh
> takabur sedikit pun,'' tegas Habibie.
>
> Pada acara dialog tersebut seorang penanya mempertanyakan
> ketatnya penjagaan saat Presiden berkunjung ke Aceh. ''Rakyat
> Aceh masih mampu menjaga keselamatan Bapak Presiden
> selama nawaitu (niat) Bapak Presiden tulus,'' kata penanya
> yang tidak menyebutkan identitasnya.
>
> Setelah menjawab pertanyaan, Presiden kemudian meninggalkan
> masjid menuju ke Bandara dan selanjutkan kembali ke Jakarta.
> Tokoh Malari Hariman Siregar, yang ikut serta dalam
> rombongan Kepala Negara mengaku sangat terkesan dengan
> gaya dan jawaban Presiden. ''Sikapnya sangat tenang sehingga
> dia bisa mengoreksi kesalahan mahasiswa tadi,'' jelas Hariman.
>
> Ketika dimintai pendapatnya tentang dialog itu, Hariman
> mengatakan, ''Inilah dialog yang sesungguhnya. Seorang Kepala
> Negara dengan tangan terbuka menerima masukan langsung dari
> masyarakat tanpa rasa takut sedikit pun. Kalau dialog gaya
> masa lalu, pasti sudah saya tinggalkan acara itu,'' tandasnya.
>
> Rektor IAIN Ar Raniry Dr Sofwan Idris menanggapi hal
> senada. Menurutnya, Presiden telah mendengarkan langsung apa
> yang menjadi keinginan masyarakat Aceh. ''Kunjungan ini
> sedikitnya memberkan angin segar bagi masyarakat Aceh bahwa
> pemerintah pusat memiliki perhatian yang sangat tinggi terhadap
> masyarakat Aceh,'' tuturnya.
>
> Dalam kunjungan Presiden itu, sekitar seribu mahasiswa yang
> melakukan demonstrasi, bentrok dengan aparat keamanan
> ketika mereka mencoba menerobos blokade petugas di ujung
> jembatan Pantee Pirak.
>
> Akibat bentrokan itu, puluhan mahasiswa mengalami luka-luka
> ringan tetapi seorang di antaranya dilarikan ke rumah sakit guna
> mendapat perawatan. Sementara itu dua petugas keamanan juga
> dilaporkan mengalami luka terkena lemparan demonstran.
>
> Insiden jembatan "Pantee Pirak" itu terjadi saat mahasiswa
> berupaya menerobos blokade aparat keamanan guna menuju
> Masjid Raya Baiturrahman, tempat digelarnya dialog. Bentrokan
> kecil di ujung jembatan mulai terjadi sebelum Presiden tiba di
> kota "Serambi Mekah" tersebut.
>
> Pasukan keamanan yang memblokade jembatan Pantee Pirak
> dengan menggunakan tameng dan beberapa truk diparkir
> sebagai pertahanan di tengah jembatan, berhasil menggagalkan
> keinginan mahasiswa untuk menuju Masjid Raya Baiturrahman.
>
> Akibat ketatnya penjagaan di jembatan tersebut, mahasiswa dari
> berbagai perguruan tinggi Aceh, terus berupaya menerobos
> barisan pertahanan keamanan, sehingga aparat terpaksa
> memberikan tembakan peringatan. Namun mahasiswa terus
> menekan, sehingga bentrokkan tidak dapat dihindari.
>
> Melihat para demontrans semakin beringas, pihak keamanan
> menembakkan gas air mata yang berhasil membubarkan
> mahasiswa. Pihak keamanan yang berada pada lapisan kedua di
> ujung jembatan Pantee Pirak --dekat Mesjid Raya
> Baiturrahman--- juga terkena gas air mata, karena embusan
> angin ke arah mereka. Memasuki waktu shalat Jumat, aksi
> mahasiswa berhenti.
>
>
>
>
>
>
>
> Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

Kirim email ke