"Winters sebagai jaksa agung yang digaji rakyat sudah seharusnya kamu
membuktikan bahwa Ginanjar terlibat kkn difreeport atau tidak", kata
seorang pengamat politik Indonesia dari 'negeri sableng', Andi ghalib.
Dunia sudah terbalik, hak dan kewajiban dibolak-balik. Hanya mangkok
baso yang masih penuh saja yang tidak dibalik.
Memang pepatah lama sungguh benar: sekali ayam betina, tetap ayam
betina.
peace.
http://kompas.com/kompas-cetak/9903/27/UTAMA/ghal01.htm
Title: Ghalib Minta Winters yang Buktikan -- Sabtu, 27 Maret 1999

KOMPAS Online
 
News on East Timor
Political Parties
Koran Daerah
English Nederlands
Sabtu, 27 Maret 1999

Soal Dugaan KKN di Freeport Indonesia
Ghalib Minta Winters yang Buktikan

Jakarta, Kompas

Jaksa Agung AM Ghalib meminta Guru Besar Northwestern University, Chicago, Amerika Serikat (AS), Prof Jeffrey Winters membuktikan adanya praktik korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) dalam kontrak karya generasi kedua PT Freeport Indonesia seperti yang dilontarkan sebelumnya. "Ia harus menunjukkan di mana korupsinya, gitu aja," kata Ghalib kepada pers di Jakarta, Jumat (26/3).

Sebaliknya, Winters kepada pers, mengatakan, Jaksa Agung AM Ghalib harus melakukan investigasi untuk menindaklanjuti temuan dugaan KKN yang ditemukan pihak lain. "Saya bukan Jaksa Agung. Jaksa Agung yang harus menindaklanjuti investigasi kasus KKN yang dilakukan pihak lain," ujar Winters.

Menurut Ghalib, Winters harus mencocokkan keterangannya dengan keterangan James Moffet (Chief Executive Officer Freeport McMoran). "Moffet 'kan mengatakan tidak ada (praktik KKN dalam kontrak karya Freeport -Red). Dia mengatakan ada. Keterangan kedua orang itu 'kan harus dicocokkan," jelas Ghalib.

Jawab semua

Winters disertai penasihat hukumnya Todung Mulya Lubis memenuhi panggilan Kejagung. Ia diperiksa dari pukul 08.15 hingga pukul 12.00 oleh tim jaksa yang dipimpin Kepala Pusat Pengendalian Operasi Intelijen (Kapusopsin) Sudibyo Saleh. Tim jaksa menanyakan dugaan adanya praktik KKN dalam kontrak karya kedua PT Freeport Indonesia yang pernah dilontarkan Winters.

"Saya sudah menjawab semua pertanyaan berkaitan dengan dugaan adanya praktik KKN dalam kontrak karya kedua Freeport. Pernyataan saya itu sebenarnya sudah dituliskan di The Asian Wall Street Journal maupun Econit. Jaksa Agung semestinya melakukan investigasi menindaklanjuti investigasi masalah KKN dari pihak luar. Bukan saya yang menjadi fokusnya," tutur Winters lagi.

Kepala Humas Kejagung R Jogi Soehandoyo mengemukakan, pemeriksaan terhadap Winters baru merupakan tahap awal. Di depan tim jaksa, Winters mengakui tidak pernah menyebutkan nama Menko Ekuin Ginandjar Kartasasmita sebagai orang yang disangka melakukan praktik KKN dalam kontrak karya PT Freeport Indonesia.

Soehandoyo menambahkan, dari pemeriksaan terhadap Winters ternyata tidak ditemukan data potensial untuk melanjutkan penyelidikan dugaan KKN Freeport. "Ia sekadar menggabung-gabungkan berita dan menganalisanya," jelasnya.

Kejanggalan

Sementara itu, ketika ditemui di Bandara Soekarno-Hatta, sesaat sebelum bertolak ke Chicago melalui Taipei-dengan pesawat EVA Air nomor penerbangan 328, pukul 14.15-Winters mengungkapkan beberapa kejanggalan dalam proses pelepasan saham di PT Freeport Indonesia yang diduga mengandung unsur KKN.

Kejanggalan yang dimaksud Winters, pertama, adanya kejanggalan perpanjangan kontrak karya (KK) generasi II, 13 tahun di muka sebelum kontrak terkait berakhir. Kedua, kejanggalan pelepasan saham dari PT Freeport yang tidak transparan dan tak melalui proses tender. Ketiga, pelepasan saham tidak jatuh ke tangan Pemerintah Indonesia/badan hukum Indonesia, tetapi ke perusahaan asing milik pengusaha lokal, berkedudukan di British Virgin Island.

Sebelumnya sekitar pukul 13.00, setibanya dari Kejagung, Winters yang dikawal sejumlah petugas reserse Mabes Polri dan petugas dari Kedubes AS, dijemput Kepala Humas Imigrasi MA Ghani. Ia mendapat perlakuan istimewa dengan mendapatkan izin keberangkatan dari petugas keimigrasian di ruang Kepala Unit Imigrasi Bandara Soekarno-Hatta dan tidak melalui counter imigrasi layaknya penumpang biasa.

Merasa ditekan

Mengenai pemeriksaan yang lebih dari tiga jam itu, baik Winters dan penasihat hukumnya Mulya Lubis mengakui, hal itu karena banyak waktu terbuang. Ini karena tim jaksa pemeriksa-Muzammi Merah Hakim, Charles Mouw, dan Rahardjo- berulang kali harus berkomunikasi dan berkoordinasi dengan Kepala Pusat Operasi Intelijen Sudibyo Saleh dan diteruskan ke Jaksa Agung AM Ghalib. "Pemeriksaan sebenarnya tidak lama. Banyak buang waktu karena tim jaksa sebentar-sebentar harus berkomunikasi dengan Kapusopsin yang selanjutnya diteruskan ke Jaksa Agung," papar Lubis.

Winters mengaku, saat memberikan keterangan, tim jaksa pemeriksa tampaknya mengejar sebuah skenario yang sudah disiapkan sebelumnya dengan terus menekan dengan pertanyaan seputar adanya praktik KKN yang dilakukan Menko Ekuin Ginandjar Kartasasmita.

"Pertanyaan ini diulang-ulang terus. Untuk itu, Winters menyatakan tidak menyimpulkan demikian. Tetapi ada dugaan Menko Ekuin melakukan praktik KKN berdasarkan data yang dimuat harian The Asian Wall Street Journal (AWSJ) dan data dari Econit itu saja. Dan fotokopi dari artikel di AWSJ itu diserahkan Winters ke tim jaksa," kata Lubis.

Kepada Kompas dan SCTV, Winters mengungkapkan, orang yang mengancam akan menembaknya dan telah menyiapkan sekitar 20 hunters (penembak tepat) mengaku bernama Samsudin. Menurut keterangan Kedubes AS, seseorang yang mengaku bernama Samsudin pada Kamis (25/3) pukul 07.45 mene-lepon ke Kedubes AS melalui nomor telepon yang tidak banyak diketahui umum. "Dari situlah diketahui ia mengancam hendak menghabisi saya. Kemudian pada sore harinya sekitar pukul 17.30 kembali orang yang sama menelepon kembali dengan ancaman yang sama," papar Winters. (tra/bw)


Get The Latest News at Kompas Cyber Media
KOMPAS Online
© C o p y r i g h t   1 9 9 8   Harian KompasD e s i g n e d  b y  Agrakom

Kirim email ke