Akh Djody, bukankah bung memang dekat dengan cendana. Kok begitu pak
harto turun jadi ketakutan bahwa bung memang pernah jadi kroni cendana.
Bung jangan coba-coba mengadu antar umat lagi, akh. Katanya bung Djodi
hobi paranormal/kepercayaan, kok sekarang mau menggunakan tangan umat
Islam untuk menghantam Kristen. Pake menjanjikan hasil kemenangan untuk
kepentingan agama lagi. Kalau memang mau membantu yach bantu, jangan
menggunakan hartanya Kompas untuk membantu.
Bagaimana soal lamborgini dengan tommy, belum yang lain-lain. Sudah akh,
biar bagaimana juga cendana memang banyak membantu pengumpulan harta
anda.
peace.


http://detik.com/berita/199904/990401-1918.html
Title: Setiawan Djody akan Somasi Kompas 200 Milyar Dolar


Kamis, 1 April 1999


Setiawan Djody akan Somasi
Kompas 200 Milyar Dolar
Reporter: Sigit Widodo

detikcom, Jakarta. Bos grup Setdco Setiawan Djody berencana melakukan somasi terhadap harian Kompas. Melalui kuasa hukumnya T Mulya Lubis, Djody juga bakal menuntut materi sebesar 200 milyar dolar AS.

Somasi itu dilakukan berkaitan dengan berita di harian Kompas edisi 1 April halaman pertama dengan judul "KPN Belanda Suap Kroni Soeharto". Di berita itu tertulis jelas bahwa yang dimaksud kroni Soeharto adalah Setiawan Djodi. Inilah yang membuat impresario kelompok Kantata Takwa Samsara itu berencana melakukan somasi.

Rencana somasi itu dibenarkan oleh Dono Baswardono, yang bertindak sebagai PR Setiawan Djody. "Memang SJ akan mensomasi Kompas, nilainya 200 Milyar Dolar US," kata Dono pada detikcom, Kamis (1/4/1999). SJ yang dimaksud adalah Setiawan dJody.

Sebenarnya berita itu bukan hanya dimuat Kompas. Sebab itu bersumber dari kantor berita dan media Belanda, serta AWSJ. Selain itu juga dimuat juga di harian Suara Pembaruan. Namun, menurut Dono pihak Kompas dianggap tidak melakukan cover both side, sedangkan Suara Pembaruan melaksanakan etika jurnalistik dengan melakukan cek ulang ke Telkomsel dan dirinya sendiri.

Berita Kompas itu sendiri menyebutkan, bahwa dalam tender PT Telkomsel tahun 1997, sebuah perusahaan telekomunikasi Belanda KPN NV yang 44 presen sahamnya milik pemerintah Belanda, mengaku mengeluarkan dana 91 juta dolar sebagai jaminan utang untuk kroni Soeharto agar bisa masuk dalam bisnis telekomunikasi di Indonesia. Dalam pernyataan yang merupakan konfirmasi terhadap laporan pers Belanda, juru bicara KPN mengatakan, pihaknya telah mengatur dan membantu menjamin utang perusahaan Setdco milik pengusaha Setiawan Djody kepada sebuah bank besar di Eropa tahun 1996.

Dikatakan, keharusan membantu Setiawan Djody ini merupakan salah satu syarat yang ditetapkan Indonesia dalam akuisisi 17 persen saham Telkomsel senilai 300 juta dollar AS oleh KPN Telecom. Pinjaman tersebut kemudian dipakai Djody untuk membeli 5 persen saham Telkomsel. Setiawan Djody disebut di situ sebagai mitra bisnis Tommy Soeharto. Jaminan atas utang Djody itu sendiri, menurut KPN, tidak menimbulkan risiko finansial apa pun terhadap pihaknya.

Dono mengelak memberi penjelasan lebih jauh tentang rencana somasi itu. Yang pasti, kata dia, PT Setdco memiliki pembiayaan sendiri untuk ikut tender Telkomsel, tidak ada hubungannya dengan KPN NV Belanda.

"Kalau ingin jelas, datang saja besok di rumah SJ," katanya. Dan memang, untuk mengklarifikasi dan rencana somasi itu, Djody bakal melakukan jumpa pers di kediamannya Jl. Kemanggisan Raya No. 3. Jumpa pers digelar hari Jumat, 2 April 1999 pukul 14.00 WIB.

Walaupun berita itu sebagian besar mengutip dari kantor berita dan media asing, tapi kubu Djody tampaknya tetap akan melakukan somasi. Alasannya, di situ disebut dengan jelas bahwa pihaknya adalah kroni Soeharto. Selain itu, sampai dengan kamis siang, Kompas tidak ada itikad untuk melakukan cek ulang ke pihaknya. Sehingga disimpulkan tidak ada itikad dari Kompas melakukan cover both side.

Bila somasi yang dilancarkan itu berhasil, Djody tidak akan mengambil sepeserpun dana tersebut karena akan disumbangkan ke organisasi Islam seluruh Indonesia. Mengapa demikian, karena menurut Dono pihak Djody menduga bahwa berita itu disengaja untuk mengekang aktivitas dirinya yang saat ini dekat dengan tokoh-tokoh Islam seperti Gus Dur, Amien Rais, Zainudin MA, dan lain-lain. Bahkan Djody juga tergabung di Yayasan Hira yang banyak melakukan kegiatan amal. Selain itu, yang menjadi pertanyaan mengapa berita itu justru dilansir oleh medai yang sahamnya milik orang non muslim. Kompas dan Surya misalnya afiliasinya ke Katolik, sedang Suara Pembaruan afiliasinya ke Kristen Protestan. Dan TV NOS Belanda yang melansir berita itu adalah milik gereja.

Djody memang memiliki saham sebesar 5 persen di Telkomsel. Saat itu, ketika dia memenangkan saham di telkomsel, keluarga Cendana malah memarahi rahardi Ramelan, yang waktu itu dianggap berpengaruh dalam soal penentuan tender. "Kok Djody yang dimenangkan?" komentar Soeharto waktu itu.

Tentu saja hal itu membuat geger. Sebab memang dalam tender itu, anak-anak Soeharto hampir semuanya ikut, tapi gagal. Namun, bahwa Djody prenah dekat dengan keluarga Soeharto, adalah rahasia umum. Itu terjadi sebelum tahun 1982. Sebab Djody memang secara langsung atau tidak banyak 'mengajari' anak-anak Soeharto melakukan bisnis.

Akan tetapi, selanjutnya Djody dianggap telah memberikan pengaruh buruk pada Sigit sehingga suka brejudi di luar negeri. Dengan alasan itulah maka Soeharto memerintahkan pada orang kepecayaannya waktu itu, Benny Moerdani agar mendatangi Djody dan memerintahkan untuk tidak lagi dekat-dekat dengan keluarga Cendana.

Apakah semuanya itu benar. Dan apakah Djody jadi melayangkan somasi? Barangkali semua itu akan coba dijawab di Kemanggisan Raya No 3, Jumat besok.

"Djody akan membongkar semua kasus di tender Telkomsel itu, siapa yang KKN, bagaimana bobroknya bisnis operator selulre dan lain-lain," tukas Dono dengan nada mengundang.

Hak Cipta © detikcom Digital Life 1999
In Association with Amazon.com


Kirim email ke