Pesan yang sangat bagus, mengingatkan saya pada tulisan almarhum Romomangun. Mudah-mudahan semangat perdamaian terus menular diantara kia semua. peace. http://suarapembaruan.com/News/1999/04/030499/Headline/hl09/hl09.htmlTitle: Refleksi Paskah 1999: Hidup Itu Abadi, Mati Itu Mimpi SUARA PEMBARUAN DAILY
Refleksi Paskah 1999: Hidup Itu Abadi, Mati Itu Mimpi
Oleh: Eka Darmaputera
Paskah tahun ini bagi banyak rekan penulis, para pendeta, barangkali sekadar bagian dari rutinitas yang tidak banyak beda dengan tahun-tahun sebelumnya. Bagi banyak kantor swasta atau pemerintah, Paskah tahun ini berarti membentuk panitia, mengumpulkan dana, menyusun acara, memesan tempat, mencari pembicara dan sebagainya, persis seperti tahun-tahun sebelumnya.
Paskah tahun ini bagi penulis, sungguh amat berbeda. Ada begitu banyak permohonan untuk menyampaikan kotbah Paskah yang, dengan hati berat, terpaksa penulis tolak. Ada begitu banyak permintaan untuk menulis artikel mengenai Paskah, yang tidak dapat penulis penuhi. Tahun ini, alangkah sulit berbicara secara bermakna mengenai Paskah!
Kata ''paskah'', seperti Anda mafhum, berarti "sudah lewat". Bahwa keadaan yang terburuk sudah berlalu. Bahwa saat-saat yang paling kritis telah terlampaui. Istilah ini terpatri sejak malam terakhir, ketika Bani Israel masih berada di Mesir sebagai budak. Keadaan waktu itu genting benar. Malaikat maut ditugaskan Tuhan berkunjung secara door to door, menjemput setiap anak sulung yang ada di rumah. Semua anak sulung. Kecuali yang berada di rumah-rumah yang berlabur darah kambing domba di ambang pintu.
Karena itu, bayangkan sekiranya Anda berada di sana saat itu! Ketika dari kejauhan Anda mulai mendengar bunyi ketuk-ketuk langkah kaki sang malaikat maut. Tok...tok...tok. Semakin lama, semakin jelas. Lalu Anda mendengar malaikat maut itu mengetuk pintu rumah sebelah. Tak lama kemudian, terdengar jeritan panjang. Seorang ibu, tetangga sebelah rumah, kehilangan anak sulung. Seperti ibu-ibu sebelumnya. Bulu roma Anda berdiri. Sebab setelah rumah sebelah, itu berarti giliran rumah Anda. Benar saja. Ketuk-ketuk langkah kaki itu kian mendekat. Tok...tok...tok, lalu berhenti tepat di depan pintu rumah Anda. Astaga!
Tetapi tak lama. Kemudian Anda mendengar bunyi ketuk-ketuk langkah kaki. Cuma saja, bunyi itu kini semakin jauh, semakin jauh, semakin jauh. O... Anda menarik napas lega amat panjang. Anda berlutut, berdoa, bersyukur kepada Allah. Dengan bibir gemetar Anda mengucapkan, ''Paskah!''. Sudah lewat! Keadaan yang terburuk, sudah berlalu! Saat-saat paling kritis, telah terlampaui! Aleluya!
Itu dulu. Di sana. Sekarang, April 1999, keadaan kita jauh berbeda. Bagi mereka yang pesimis, yang terburuk belum berlalu, tetapi masih akan datang. Keadaan yang sudah amat buruk sekarang ini, bagi mereka, tetap masih belum yang terburuk. Sedangkan bagi yang paling optimis, yang terburuk juga belum berlalu. Ia masih begitu betah bertengger di halaman rumah kita. Belum ''paskah''! Sebab itu, penulis tadi mengatakan, ber-''bla bla bla'' tentang Paskah, memang apa susahnya.
Namun berbicara dengan bermakna, mengenai Paskah untuk Indonesia tahun 1999, wow, alangkah sulitnya! Masih ada lagi.
Paskah yang sesungguhnya, seperti Anda maklumi, adalah pesta ''kehidupan''. Paskah adalah peristiwa ketika manusia diperkenankan memasuki awal sejarah dan realitas baru. Yaitu, ketika kehidupan berkuasa atas kematian. Bukan seperti sebelumnya, ketika seakan-akan kematianlah yang menguasai kehidupan.
Bagi yang sadar, ini adalah realitas yang dahsyat dan luar biasa. Begitu luar biasa, sehingga Paulus ketika menyadari hal ini, bagai pemain sepakbola yang baru saja mencetak gol yang amat menentukan, berlari kesetanan ke seputar lapangan, sambil berteriak-teriak, ''Hai maut, di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?''
Di Indonesia, tidak ada pesta itu. Tidak ada pesta kehidupan. Sebab di negeri kita sekarang ini, aroma kematian jauh lebih menyengat. Darah masih terus saja tertumpah sia-sia di mana-mana. Semakin tebal menggenangi persada, yang pernah begitu membanggakan kerukunan yang nyaris sempurna.
Sekarang orang tidak lagi bertempik sorak atas kehidupan. Mereka cuma bersorak kegirangan, ketika mereka berhasil membunuh atau menghancurkan. Di Aceh, di Kalimantan Barat, di Timor Timur, di Irian Jaya, di Maluku, di mana-mana. Bangsaku yang lembut dan santun, kini berubah menjadi ibarat binatang yang ganas, buas dan liar.
Kemudian, seperti Anda ketahui, Paskah adalah pesta ''kemenangan''. Christos Victor! Kemenangan Yesus adalah representasi kemenangan orang-orang kecil di mana-mana, yang teraniaya dengan semena-mena. Paskah adalah simbol kemenangan dari kehendak baik atas konspirasi jahat. Cermin kemenangan dari yang adil atas yang bathil. Bukti kemenangan dari kuasa kasih atas kekuatan dendam dan kebencian. Jaminan kemenangan dari kuasa yang menghidupkan atas ketakutan yang mematikan.
Namun, sekali lagi, itu dulu. Di sana. Sekarang, April 1999, keadaan kita begitu jauh berbeda. Pesta kemenangan itu -- bila ada -- masih harus kita tunda dulu, entah sampai kapan. Sebab, sekarang gedung tempat kita akan berpesta kemenangan itu masih ditempati orang lain untuk pesta yang lain.
Bila Anda adalah rakyat kecil yang kelaparan atau mahasiswa yang menghendaki proses reformasi dilanjutkan, atau bagian masyarakat yang menuntut pemerintahan yang bersih dan transparan, atau cendekiawan yang mengutamakan kebenaran dan kejujuran, atau agamawan yang menghendaki perdamaian -- Anda masih harus menanti lama, jauh di luar pintu gerbang.
Sekarang pagar-pagarnya masih dijaga rapat oleh pasukan pengendali huru-hara. Ironis bukan, belum cukup reformasi ini berusia setahun, kekuatan rakyat yang dulu pernah disanjung sebagai pahlawan reformasi, kini berganti sebutan menjadi ekstremis dan pembuat huru-hara. Sementara itu, si pembuat huru-hara yang sebenarnya, bebas berkeliaran ke mana saja. Bukan tidak mungkin dengan penjagaan keamanan yang berlapis-lapis.
Sekiranya Anda bertanya-tanya -- entah dalam terang, entah dalam gelap -- mengapa jalan sejarah harus begitu dan mengapa Tuhan seakan-akan membiarkan orang-orang yang berniat baik bernasib malang, Anda tidak sendirian. Pemazmur juga pernah merasakan hal yang sama dan mencurahkan rasa frustrasinya.
Sesungguhnya itulah orang-orang fasik: mereka menambah harta benda dan senang selamanya! Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah (Mazmur, 73:12).
Telah dikatakan bahwa baru beberapa bulan berlalu -- belum sampai setahun -- kita berpesta-pesta diliputi euphoria bahwa era reformasi telah tiba. Bahwa kita sedang memasuki era Indonesia baru yang adil, demokratis, bersih dari KKN dan menghormati kehendak serta kedaulatan rakyat. Kita tahu bahwa mustahil keadaan akan berubah dalam sekejap. Tetapi kita toh penuh dengan optimisme bahwa semua pasti mampu kita perbaiki sedikit demi sedikit, tahap demi tahap. Bahwa yang terburuk sudah berlalu. Paskah!
Namun, itukah yang terjadi? Samasekali tidak! Keadaan bukan bertambah baik, melainkan justru bertambah buruk. Indonesia kian terpuruk. Katakanlah oleh Anda, apa yang berbeda sekarang dibandingkan dengan era sebelumnya? Lebih adilkah pemerintah sekarang? Adilkah membiarkan demonstrasi yang satu aman terkawal, sedang yang lain diporak-porandakan dengan ganas dan beringas? Lebih bersihkah rezim sekarang?
Katakanlah, kasus KKN. Apa yang pernah dibawa ke Pengadilan dan diperlakukan, sesuai dengan perasaan keadilan masyarakat? Lebih rukun bersatukah Indonesia kita? Atau kian berdarah-darah?
Anda berhak memberikan jawaban Anda sendiri. Tetapi yang pasti, ''paskah'' yang sejati belum ada di sini. Yang terburuk masih belum berlalu. Krisis yang terhebat masih belum terlampaui. Amit-amit jabang bayi, semoga jangan sampai kita masih harus menanti yang lebih buruk lagi!
Penulis ingin membagikan sedikit pengharapan. Kemenangan Yesus di Paskah yang pertama itu, untuk Anda ketahui, memang bukan mewariskan suatu lampu wasiat. Yang cukup kita gosok dan jin penolong akan segera muncul memenuhi keinginan kita. Kemenangan Yesus -- walaupun sempurna -- lebih bersifat meletakkan awal dan dasar, untuk terus kita lanjutkan. Peperangan besar memang telah selesai, tetapi pertempuran-pertempuran kecil masih terus berlanjut. Paskah menyediakan modal awal yang mesti kita kembangkan dan amanat untuk kita emban.
Karena itu, jangan Anda menggerutu atau merajuk, bila pintu masuk ke gedung pesta masih belum dibukakan. Saat berpesta memang belum tiba. Sekarang adalah saat untuk berjuang. Namun berjuang dengan roh dan realitas baru. Bahwa kehidupan lebih digdaya ketimbang kematian.
Sedikit pun tidak perlu kita risau, taruh kata Paskah tahun ini tidak sanggup lagi kita rayakan dengan telur-telur berhias, karena mahalnya. Tuhan hanya akan kecewa, bila Anda memilih untuk mengeluh ketimbang berjuang. Padahal oleh roh Paskah, seperti kata Paulus, kita ''lebih daripada orang-orang yang menang'' (Roma, 8:38). We are winners, not losers. Pemenang, bukan pecundang.
Mudah-mudahan sajak sederhana di bawah ini dapat Anda nikmati, sebelum penulis mengucapkan SELAMAT HARI PASKAH, dan menutup refleksi ini.
Bila kita enggan memasuki malam
bagaimana mungkin kita bangun menatap menyingsingnya fajar.
Bila kita enggan terpejam dalam tidur dan terlena dalam mimpi
bagaimana mungkin kita menikmati suka cita mentari pagi.
Tidur adalah semacam
kematian mini
yang berakhir di nafas pagi.
Mati adalah semacam tidur yang panjang dan lama
dalam dekap hangat pelukan Allah.
Dan fajar menyeruak cakrawala
setiap jiwa
sebab janji Allah adalah kehidupan bukan kematian
sebab cuma melalui mati orang
mencicipi hidup abadi.***
Penulis adalah rohaniwan dan Wakil Ketua Wajelis Pertimbangan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI)
Last modified: 4/3/99
