Itu kalau semua tergantung Mega.
Justru kalau PDI perjuangan ataupun PAN menang, kita tidak terjebak lagi
kepada figur presiden saja. Figur presiden yang cukup jujur dan punya
integritas tinggi seperti Mega dan Amien perlu untuk meluruskan UUD
serta TAP MPR lainnya yang banyak ditetapkan untuk melanggengkan jabatan
saja.
Secara pribadi siapapun yang menang tidak jadi masalah asalkan yang
menang ini konsekwen untuk perjuangan rakyat. Nach, siapa-siapa saja
yang konsekwen khan sebenarnya sudah kelihatan. Kalau masih ada aturan
yang belum membatasi jabatan presiden (maksimal 2 kali), itu namanya
belum konsekwen. Kalau masih ada anggota MPR yang diangkat, itu juga
namanya belum konsekwen.
Mengisi kemerdekaan itu bukan berarti membohongi rakyat, melainkan
mencoba untuk ikut berpartisipasi dalam proses mensejahterakan rakyat.
peace.

Pandir Ontohod wrote:
>
> Sedikit melenceng nih.
> Kalo, dan hanya kalau, Mega naik jadi presiden apa bisa ia menindak Soeharto?
> Kalo enggak salah nih, waktu bung Karno jatuh, dan ia tak meninggalkan warisan
> untuk anaknya.  Pak Harto menolong (atau menyogok?) lewat pemberian beberapa
> pompa bensin di daerah strategis di DKI Jaya.  Belum lagi beberapa kali
> perusahaan milik Mega, atau Guntur juga menang tender proyek yang lumayan
> besar.  Ketika itu selama anak-anak Bung Karno tidak terjun ke politik, maka
> ia mendapat "pesangon" tak langsung dari Soeharto.  Guntur mundur dari politik
> karena tekanan yang amat berat, kabarnya ia sampai keluar masuk RS karena
> depressi.  Guruh kurang memiliki kharisma pemimpin.  Akhirnya Mega lah yang
> maju, dan seketika itulah "pesangon" dari Soeharto berhenti!
> Lantas apa bisa ia menindak Soeharto, apa tidak akan berkata seperti soeharto,
> untuk tidak mengungkit apa-apa yang telah lewat?
> Mungkin untuk membuktikannya perlu waktu dan kesempatan, dimana Mega naik jadi
> presiden.  Kapan?
>
> Pandir,
> diem-diem jadi propokator!
>
> Blucer Rajagukguk <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Dari dulu yang namanya mau mencoreng organisasi lain itu gampang sekali.
> Apa sich sulitnya membayar beberapa orang untuk mengaku menjadi
> simpatisan suatu partai dan merusak nama partai itu. Apalagi dengan
> kondisi ekonomi susah seperti sekarang. Sekarang tergantung megawati dan
> tim untuk berbicara soal itu.
> Logikanya mudah sekali, kalau memang itu simpatisan PDI, sunguh tololnya
> mereka mau mencoreng pilihannya apalagi pada saat akbar tanjung disana.
> Drama dan sandiwara 'blue film' mulai dimainkan. Sekarang akan kembali
> rakyat lagi yang menjadi korban, paling tidak 'korban pikiran' yang akan
> selalu diombang-ambingkan para 'pemain watak' politik.
>
> mudah-mudahan rakyat tidak akan mudah termakan sandiwara 'sampah'.
> peace
>
> FNU Brawijaya wrote:
> >
> > Assalamu'alaikum wr wb.
> >
> > Ternyata alasan sebagai kaum tertindas dijadikan legitimasi
> > untuk menindas, memukul, mempermalukan wanita, dsb.
> > Kejadian di Purbalingga kemarin justru mencoreng wajah
> > organisasi ini. Lambang Banteng yg marah, merah menyala
> > seakan sanggup menaikkan tensi pendukungnya.
> >
> > Saya tidak menyesalkan bagaimana Akbar Tanjung gemetaran
> > dan menyesalkan aparat keamanan yg dianggapnya kurang sigap.
> > Karma ternyata ada. Bila dulu dia demonstrasi dan membuat
> > gemetaran orang ORBA, sekarang dia menjadi pihak yg gemetaran.
> > Ironisnya, AT gemetaran sebagai orang orba.
> >
> > Bagaimana dengan PDI-P? Well, menelanjangi kaum wanita
> > di stadion Purbalingga apakah dapat dimaafkan? Dimaafkan
> > oleh siapa ya? Saya kira partai-partai lain justru dapat mengambil
> > keuntungan dari kebrutalan simpatisan PDI-P. Mungkin PDI-P
> > dapat kehilangan suara dari kaum wanita. Bentuk harrassment
> > terhadap simpatisan wanita Golkar dapat terjadi pada wanita
> > pendukung PKB, PAN, PPP, dan puluhan P... yang lain. Kenapa
> > tidak?
> >
> > Hmm 50% pencoblos adalah wanita. total jendral 25% pencoblos
> > wanita ada di Jawa. Take advantage of this...really easy deh.
> > Konsentrasi perhatian di 3 prop ini saja sudah bisa meloloskan
> > orang masuk DPR. Gile..... Apakah PDI-P juga sadar? Juelas.
> > Lha posko-posko itu kan buktinya. Apakah fungsi sebenarnya dari
> > posko yang didirikan di seluruh Jawa tsb? Apakah untuk koordinasi?
> > Koordinasi apa ya? Koordinasi untuk menelanjangi wanita
> > supaya cuman ber-BH? Hehehe...ndak tahu juga.
> >
> > Yang memalukan adalah tanggapan dari pemimpin teras PDI-P.
> > Bila lepas tangan seperti itu, apanya yg lebih baik dari ORBA ya?
> > Hmmm...... I dunno.....
> >
> > Hmmm....lalu saya mesti milih apa ya? Di satu pihak, milih ndak milih
> > apa pengaruhnya? Cuman satu suara di antara 100 juta pencoblos.
> > Tapi berapa juta yang mikirnya sama seperti saya ya? Kalau gitu
> > nggak nyoblos bisa jadi dosa kolektif juga. Okay, bagaimana kalau
> > dicoblosin ke partai kecil aja. Ah, ndak bener juga. Banyak partai
> > yang sekedar satelit doang. Hmm....tahu ah.
> >
> > Ternyata oh ternyata, pesta demokrasi ternyata lebih sebagai
> > pesta penindasan, kekerasan, intimidasi, pelecehan. Lalu produk
> > apa yg dapat diharapkan dari pesta demokrasi macam ini?
> >
> > Wassalam,
> > Jaya
> >
> > --
> >                \\\|///
> >              \\  - -  //
> >               (  @ @  )
> > ------------oOOo-(_)-oOOo-----------
> > FNU Brawijaya
> > Dept of Civil Engineering
> > Rensselaer Polytechnic Institute
> > mailto:[EMAIL PROTECTED]
> > --------------------Oooo------------
> >            oooO     (   )
> >           (   )      ) /
> >            \ (      (_/
> >             \_)
>
> ____________________________________________________________________
> Get free e-mail and a permanent address at http://www.netaddress.com/?N=1

Kirim email ke