>Silakan baca paragraph yang saya cuplik dari kompas ini, dan silakan
>kasih komentar:
>..............
>  Gus Dur menyatakan keberatan jika para pendukung parpol
>  tertentu yang menyerang Golkar dicap sebagai pengganggu. ��Itu
>  kan timbal balik saja. Nyatanya, parpol lain kan nggak diganggu,��
>  tegas cucu salah seorang pendiri NU ini.
>.............

Yw: Kondisi di jalanan sekarang, menunjukkan bahwa koalisi (informal)
    sekarang ini sudah terbentuk. Walopun golkar diganggu, tapi
    kalo dilihat secara jernih, itu bukan merepresentasikan
    situasi 'saling mengganggu' sama sekali. Kata lain: yg diganggu
    (oleh oknum/massa partai lain) hanya golkar.

    Karena menyadari adanya koalisi yg kuat besar dan raksasa
    sekali, sejumlah partai (yg takut diasosiasikan sbg antek
    golkar atau antek cendana), tidak punya nyali/power utk
    turun ke jalan. Lalu, partai-partai gurem, juga tidak
    berani pawai di jalan (kecuali dapat restu dari koalisi).

    Koalisi raksasa yg saya maksud ini meliputi:
    Partai-partai yg berafiliasi dg NU, PAN, dan PDI-Mega.
    Dg tokoh sentralnya: (semua sudah tahu) Gus Dur, A. Rais,
    dan Megawati. Tokoh-tokoh sentral ini juga rasanya sudah
    bukan rahasia umum lagi, sudah berada pada kesepahaman.
    Bukan kesepahaman aliansi (persekutuan), tapi lebih pada
    kesepahaman koalisi. PPP, saya tidak tahu, tapi tampaknya
    mendapat restu juga (utk bergabung dalam koalisi).

    Di jalan-jalan, bendera ketiga kelompok besar itu
    sering bersanding. Massa besar dari mereka juga sempat
    berhadapan fisik (di Semarang, etc), dan tidak bentrok,
    melainkan malah berada dalam situasi 'kompak ni ye'.
    Yg mengamati perkembangan mungkin mendengar juga,
    bahwa massa PDI-perjuangan di semarang kemarin itu,
    malah sempat dikomando oleh Matori Abdul Jalil
    (utk menghindari kemacetan lalu lintas), dan patuh!

    Fakta lain: PAN tidak pernah menghujat Gus Dur dan
    afiliasinya, tidak pernah menghujat Mega dan afiliasinya
    juga, dan seterusnya; dan demikian pula PDI-P dan
    grup Gus Dur. Sementara thd golkar dan afiliasinya,
    komentar mereka senantiasa pedas (kalo tidak bisa
    disebut menghujat).

    Begitulah pengamatan beberapa bulan ini dari jalanan.
    Ada pendapat lain?

Kirim email ke