La Vita e Bella Ari A. Perdana [EMAIL PROTECTED] Giosue kecil tidak bisa menahan diri untuk tidak mengerti, mengapa sebuah toko di kota Arezzo memasang pengumuman yang berbunyi, "Anjing dan Yahudi Dilarang Masuk!" Dijawab oleh Guido sang ayah, bahwa itu adalah hak si pemilik toko untuk tidak suka pada anjing maupun orang Yahudi. Orang lain pun punya hak yang sama untuk melarang, misalnya, "Kuda dan orang Spanyol", atau "Laba-laba dan orang Visigoth" masuk ke toko lain. Giosue tidak pernah tahu mengapa ia terlahir sebagai seorang Yahudi. Seperti halnya orang-orang yang ditemuinya di kamp konsentrasi yang bernama Elieser atau Bartolomeo. Yang ia tahu, ia dan ayahnya sedang megikuti sebuah permainan yang berhadiah utama satu tank sungguhan, bukan mainan. Ia tahu bahwa pamannya yang sudah tua tidak akan pernah kembali lagi untuk melanjutkan permainan. Ia tahu bahwa anak-anak lain seusianya suatu ketika digiring ke 'shower' tetapi tidak pernah terlihat lagi. Tetapi ia tetap tidak tahu mengapa harus begitu. La vita e bella. Life is beautiful, kata Roberto Benigni. Dan keindahan itu relatif, tergantung bagaimana persepsi masing-masing tentang keindahan. Sama relatifnya seperti konsep kebenaran yang dianut oleh penganut Sofisme, bahwa sesuatu menjadi benar atau salah karena persepsi. Ironisnya, bagi Benigni, atau lebih tepat bagi Guido, keindahan itu didapat justru setelah berbohong atas fakta yang terjadi. Dan bagi si kecil Giosue, keindahan pun merupakan fakta yang telah terdistorsi. Benigni memang kebetulan orang Italia, yang lebih dekat dengan sejarah kelam Eropa pada Perang Dunia II. Namun kalaupun ia ditakdirkan lahir di tempat lain, dan menjadi bagian dari bangsa lain, sangat mungkin akan lahir Giosue-Giosue lain, dengan cerita lain tetapi bertema seragam: kekejaman. Hak asasi manusia memang universal. Tetapi kekejaman manusia terhadap manusia, atas dasar dua hal yang paling prinsipil yaitu agama dan ras, ternyata juga berlaku secara universal. Andaikata Giosue adalah seorang bocah yang lahir di kawasan Balkan, keheranan serupa pun akan muncul. Mengapa ada orang-orang tertentu yang berhak mengambil keputusan atas kelanjutan hidup orang lain. Hanya karena orang-orang lain itu berdarah Bosnia. Karena mereka orang Kosovo. Dan karena mereka beragama Islam. Kalau ia lahir di Irlandia, keheranannya akan tetap muncul, hanya kali ini menyangkut orang Katolik dan Protestan. Terlahir sebagai orang Australia ia akan mengajukan pertanyaan 'mengapa' atas perlakuan pemerintah kolonial pada penduduk Aborigin, dan masih banyak kemungkinan lain. Mungkin kita juga bisa punya versi sendiri atas cerita Giosue. Pertanyaan yang akan keluar dari mulut Giosue versi Indonesia kira-kira seperti ini, "Mengapa pemilik toko memasang pengumuman 'Milik Pribumi Muslim' dan menyampirkan sajadah di depan?" Kali ini si ayah tentu tak bisa menjawab bahwa pemilik toko lain bisa saja memasang 'Milik Non-pri' atau 'Milik Kristen'. Karena pengumuman tersebut dipasang bukan untuk menunjukkan perasaan superioritas ras atau agamanya atas yang lain, seperti dilakukan oleh bangsa Arya di Eropa. Secarik tulisan 'milik pribumi muslim' di Jakarta bulan Mei lalu adalah perasaan ketakutan, karena di luar sana tengah terjadi kekerasan terhadap orang lain yang tidak menyandang kedua identitas seperti yang terpampang. Seandainya Giosue sebelumnya pernah mengenal konsep-konsep ajaran agama, apapun itu, maka yang ia alami kemudian adalah suatu dekonstruksi terhadap apa yang dipahaminya. Sebelumnya ia mengenal agama sebagai sebuah identitas personal antara makhluk dan Khaliknya. Namun ternyata agama bisa tiba-tiba berubah menjadi identitas eksklusif antara manusia dan manusia, dan membuat pemeluknya berpikir dengan pola 'kami' dan 'kalian'. Proses dekonstruksi akan berlanjut lebih dalam kalau Giosue pindah ke Maluku. Mendapati bagaimana sepotong doa Al-Fatihah atau Bapa Kami bisa mempengaruhi nasib seseorang untuk berhak tetap hidup, atau diambil haknya oleh orang lain. Doa pun ternyata sudah bukan lagi privilege Yang Maha Kuasa atas umatnya, melainkan telah menjadi dasar bagi keputusan manusia untuk menjadi tuhan atas manusia lain. Entah apakah Giosue masih sempat untuk keheranan jika menyaksikan apa yang terjadi di Kalimantan Barat. Bagaimana identitas genetik seseorang bisa berujung pada keputusan: membunuh atau dibunuh. Atau di Aceh. Atau di Banyuwangi. Kali ini bahkan literatur-literatur filosofi pun belum tentu bisa menjawabnya. Descartes mengatakan untuk jangan mempercayai perasaan, percaya hanya pada rasio. Hume dan Locke mengatakan sebaliknya, percaya pada apa yang kau lihat dan rasakan. Tetapi apakah rasio manusia bisa menjelaskan bagaimana manusia bisa bertindak seperti apa yang terjadi di sana? Dan jangan katakan bahwa pengalaman empirik bisa lebih bercerita. Karena saat kita melihat sendiri kepala yang dipenggal, darah yang direguk atau jantung yang dicabut, apakah saat itu seseorang masih kuat bahkan hanya untuk bertanya apa yang terjadi? Keduanya, rasio dan pengalaman empirik, mungkin akan kembali merujuk pada Aristoteles mengenai apa yang dikatakannya tentang manusia sebagai human animal. Hanya kali ini Aristoteles hanya benar secara parsial, karena hanya setengah dari frasenya tersebut yang betul. Ariel Heriyanto bahkan sewot kalau perilaku tersebut disamakan dengan hewan, karena menurutnya hewan bahkan lebih punya perikemanusiaan. Hidup ini indah, kata Benigni. Sayangnya, seringkali keindahan harus diperoleh dengan mengingkari kenyataan yang sesungguhnya. Benigni pun jumpalitan ketika menerima anugerah Academy Award, dan mengajak semuanya untuk ke Jupiter dan tertawa bersama. Mungkin karena di planet ini ruang untuk tertawa sudah makin sempit. ? Canberra, April 1999 (Muchas Gracias untuk Roberto Benigni untuk La Vita e Bella, dan untuk Goenawan Mohammad untuk 'Catatan Pinggir' di Tempo No. 5/XXVII) -- Australian National University Canberra, Australia ------------------------------------- I could not stop the sun from forcing me to create flowers... (Sapardi Djoko Damono) ------------------------------------- -- Indi Soemardjan Be my guest: http://pagina.de/indradi
