APA SKENARIO HABIBIE/ABRI MENGHADAPI PEMILU NANTI? INTRO: Presiden Habibie mengatakan bahwa ABRI akan bersikap netral pada pemilu mendatang, tetapi yang dimaksudkan ya tentu bahwa ABRI akan mendukung pencalonannya sebagai presiden setelah pemilu. Inikah latar belakang mutasi militer baru-baru ini? Berikut laporan koresponden Syahrir dari Jakarta: Pemerintah akan duduk bersama DPR untuk mengkaji besarnya kenaikan gai dan pensiun bagi pegawai negeri sipil dan anggota ABRI. Besarnya kenaikan gaji tersebut harus disesuaikan dengan kemampuan anggaran dan keputusan akhirnya akan disepakati bersama dalam pembahasan RAPBN. Presiden BJ Habibie mengemukakan hal itu ketika menyampaikan keterangan pemerintah tentang RAPBN 1999-2000 pada Sidang Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di Jakarta kemarin. Seusai sidang tiba-tiba muncul lima puluh demonstran mahasiswa ITB Bandung yang pada pokoknya mendesak agar anggota-anggota ABRI tidak duduk lagi di DPR RI. Kalangan-kalangan politik di luar DPR mempertanyakan mengapa pengeluaran rutin yang menyangkut belanja pegawai mencapai sekitar 32 triliyun rupiah sedangkan pengeluaran pembangunan hanya berkisar di angka 83 triliyun rupiah. Mereka mengharapkan agar jumlah pegawai sipil dan ABRI sebaiknya dikurangi drastis meski tindakan ingin akan dianggap langkah yang tidak populer. Letjen Sugiono, Wakasad yang dalam waktu dekat ini akan menjabat Kasum ABRI, dalam pada itu mengharap agar anggota ABRI itu harus profesional. Tetapi untuk bisa profesional maka tuntutannya juga cukup profesional. Dalam satu kali latihan menembak misalnya seorang prajurit harus menggunakan dua ratus peluru, katanya. Sedangkan anggaran negara belum mampu untuk itu, tambah Sugiono kepada Suara Pembaruan. Memang umumnya para jenderal selama Orde Baru selalu menginginkan anggota-anggota ABRI ditingkatkan kualitasnya maupun kuantitasnya. Sebaliknya sementara tokoh politik sipil dan kalangan mahasiswa menginginkan personalia ABRI khususnya Angkatan Darat dikurangi. Ini bisa dimulai dari kesatuan- kesatuan yang sering melanggar HAM seperti Kopassus, kata mereka. Namun tidak semua orang menentang kehadiran ABRI. Sebagaimana dikatakan tokoh Golkar baru-baru ini, bukan hanya Golkar yang berusaha merangkul golongan ABRI, tetapi juga PDI Perjuangan, PPP dan PKB, partainya Gus Dur. Namun, yang paling membutuhkan ABRI saat ini ialah presiden Habibie yang ingin mencalonkan dirinya sebagai presiden priode 1999-2004. Dengan latar belakang itu pula dapat dimengerti langkah Pangab Jendral Wiranto yang melakukan mutasi seratus perwira ABRI kemarin dulu. Langkah Wiranto ini yang sangat memperkuat posisinya itu telah direstui Habibie yang ingin melestarikan kemitraan mereka berdua. Dengan demikian Wiranto akan membawa aspirasi golongan merah putih sedangkan habibie membawa panji Islam. Sekaligus dengan itu diharapkan pengaruh Suharto-Prabowo di ABRI dapat dihapuskan dan penggalangan kekuatan bulan-bintang/ ABRI digagalkan. Menurut kalangan-kalangan yang dekat dengan Habibie sekarang ini pun tidak boleh ada dua matahari di Indonesia. Karena itu ada yang mengatakan bahwa tidak tepat berita utama harian ICMI, Republika bahwa mutasi terbaru di ABRI merupakan usaha penguatan rezim Soeharto. Sebagaimana dikatakan oleh pengamat militer Indria Samego, mutasi besar-besaran tersebut merupakan konsolidasi Wiranto untuk membersihkan orang-orang Prabowo. Tetapi sebagaimana dikatakan seorang pengamat lain, tindakan itu hanya bisa dilakukan Wiranto yang sebenarnya sudah dalam posisi terjepit, karena dukungan Habibie. Maka Habibie pun didepan DPR RI kemarin berani mengatakan bahwa ABRI akan bersikap netral pada pemilu mendatang. Ini pun langsung diaminkan oleh Bambang Yudhoyono, Kaster ABRI yang sesungguhnya tetap merupakan figur tentara yang menggodog kebijakan politik ABRI. Tidak percuma Asisten Sospol tidak dihapuskan dan tetap bernaung dibawah Kaster ABRI. Sedangkan Asisten Teritorial tetap berada dibawah Kasum ABRI. Maka apa skenario yang akan dijalankan ABRI bersama Habibie pada pemilu mendatang akan sangat menarik untuk diketahui masyarakat. Tetapi ini jelas masih dirahasiakan dana hanya diketahui sejumlah kecil orang- orang disekitar Habibie dan Wiranto. Demikian seorang pengamat.
