The Silicon Valley, January 07, '99
Andrew:
Istilah "mayoritas" dan "minoritas" masih sangat dipentingkan di Indonesia,
karena cukup banyak anggota masyarakat Indonesia masih mengidentikan "kuat"
dengan "banyak" dan mengidentikan "lemah" dengan "sedikit". Maklum saja: taraf
pendidikan di Indonesia memang masih harus sangat ditingkatkan. Apalagi dengan
terlalu lamanya bangsa Indonesia dijajah: hancurnya rasa percaya diri yang
wajar, karena terlalu ditekan dan dipecundangi. Sekian lama kita mengalami
proses pembodohan, sehingga kita hanya bisa bicara "angka" yang menunjukkan
"jumlah" dan kemudian mengkaitkannya dengan "kuat" dan "lemah" seperti yang
sebut sebelum ini.
Kalau bicara "quality", tentu kita akan melihat hal yang lagi. Seberapa banyak
pasir di muka bumi ini? Banyak sekali!
Lalu, seberapa banyak berlian di muka bumi ini? Pasti tidak sebanyak jumlah
pasir, padahal bahan dasar "pasir" dan "berlian" sama....Lalu apa yang
membedakannya?
Berlian berasal dari pasir mineral yang amat sangat ditekan dalam jangka waktu
yang lama. Tidak semua pasir berhasil menjadi berlian walaupun mengalami
proses yang serupa.
Jadi, mengapa Andrew harus khawatir dengan "mayoritas" dan "minoritas"? Tidak
ada yang salah dengan menjadi 'minoritas", selama yang "sedikit" itu adalah
berlian di antara pasir.
Jika Andrew mengajak kita semua berhenti menggunakan istilah "mayoritas" dan
"minoritas" dalam konteks "jumlah" (quantity), tentu kita kan lebih matang
memberi tanggapan, karena kemudian kita berbicara "mutu". Kalau yang "banyak"
menjadi tidak nyaman berdekatan dengan yang "sedikit", itu masalah lain lagi.
Itu adalah sisa-sisa sikap mental "inlander" peninggalan penjajahan dulu.
Kuno!
Warm regards,
Alex