...

>YW:
>>      Soalnya, 'prosedur standar' berceramah orang Islam
>>      (bukan cuma di Indonesia), statementnya banyak yg
>>      berupa 'quote' (dari kitab Quran dan Hadits).
>>      Hal ini (dinilai) lebih convincing (utk orang-orang
>>      yg tahu) adanya prinsip (Islam): "... barangsiapa
>>      berpegang teguh pada keduanya (Quran dan Hadits),
>>      maka akan selamatlah dia selamanya..."
>
>Irwan:
>Seharusnya memang demikian. Dengan kata lain tentunya
>anda sedang pula mengatakan bahwa umat agama lainnya
>juga sebaiknya berpegang teguh pada kitab sucinya masing2
>dalam kehidupan sehari2. Benarkah kesimpulan saya ini?

Yw: Di dalam Islam itu sebetulnya yg dipegang teguh itu
    ada tiga: selain Quran dan Hadits itu, dan yg ketiga,
    adalah akal pikiran (dari masing-masing orang, baik
    dalam memahami/mengamalkan Quran&Hadits, maupun utk
    hal yg tidak dicakup dikeduanya).

    Namun, (yg menurut saya merupakan kelemahan utama orang
    Islam, khususnya di Indonesia), yg ketiga itu (akal)
    sering kurang dipake.... jadinya, asal apa kata kiai,
    ditelen bulet-bulet... asal ada fatwa ini-itu,
    dari majelis ulama, dipegang tanpa reserve... Jadi
    orang lain (non-Islam atau asing yg Islam juga dari
    mazhab lain) mungkin sering rada mengkernyitkan alis.


>Bagaimana tanggapan atau pun tindakan anda bila
>dalam satu ajaran dari kitab yg kita yakini ternyata kurang
>sesuai/berkenan dengan lingkungan masyarakat dimana
>kita tinggal?

Yw: Menurut saya, kemungkinannya:
    1. Something is wrong with the community
       (masyarakatnya yg salah, kitab yg bener)
    2. Kitabnya sih, menurut saya, nggak mungkin salah,
       tapi bisa aja, konteks (ttg ajaran yg dimaksud
       di kitab itu) tdk sama fenomena yg sedang terjadi
       (ie. ajaran itu tidak aplikabel utk diterapkan
       pada kasus itu); atau interpretasi dari makna
       ajaran kitab itu yg salah (baik secara sengaja
       oleh para penerjemah/ahli-tafsir, maupun tidak
       sengaja).

    Jadi kalo bicara tindakan, yg pertama adalah mikir.
    Anything else, selanjutnya, ya tergantung hasil mikirnya
    itu.

>Saya pikir dilema seperti ini tidak hanya dihadapi oleh rekan2
>saya yg beragama Islam tapi juga yg beragama Kristen.

Yw: Menurut saya sih tidak perlu ada dilema (bagi orang Islam)
    (kalo berpegang pada 'sumber dari segala sumber hukum'-nya).
    Akar pokok dari ajaran Islam (tidak termasuk kembangan-
    kembangan yg dikembangkan oleh para kiai/imam/dll), adalah
    prinsip-prinsip dan guidelines yg sifatnya umum banget.

    Bayangkan saja, Quran yg tebelnya cuma se-textbook itu,
    isinya menyangkut hampir segala hal, mulai dari
    ketuhanan, urusan perang, pemerintahan, perekonomian,
    sosial, bagi-bagi warisan, sampai soal makanan-minuman,
    sejarah, kehidupan, kematian,... semua-muanya. Nggak mungkin
    bisa semuanya masuk situ, kecuali kalo yg dimuat cuma yg
    sangat prinsip doang.

    Dilema itu terjadi kalo orang menganggap ajaran Islam
    yg fixed itu sampai ke seluruh 'kembangannya' (yg rata-rata
    dikembangkan ratusan tahun lalu oleh manusia pada jaman itu,
    ie. nggak universal).

    Salam.

Kirim email ke