PAN Hamburg dan AM FATWA
Pada tanggal 10.01.1999 telah terbentuk PAN
Hamburg dengan Sdr. M. Sabri sebagai Ketua. Pelantikan Kepengurusan PAN Hambur
tersebut dilakukan oleh Wakil Ketua Umum PAN A.M. Fatwa, dalam lawatannya ke
Eropa. Pelantikan yang sangat sederhana setelah pembacaan Deklarasi PAN, dengan
pembacaan janji Partai oleh A.M. Fatwa dan diikuti oleh Pengurus Baru PAN
Hamburg.
Yang sangat menarik pada pertemuan tersebut,
bagaimana A. M. Fatwa sebagai Wakil Ketua Umum PAN mempromosikan Partainya.
Dengan menjawab berbagai pertanyaan "apa PAN itu ?" sampai dengan
pertanyaan yang bersifat politis praktis, sehingga harus dijawab dengan sangat
hati-hati, sehingga tidak memuaskan penanya. Apakah pencerminan PAN tersebut
menggambarkan betapa konservatif-nya Partai PAN, atau juga mencerminkan
kekhawatiran Partai Partai baru yang ada di Indonesia untuk menjawab pertanyaan
pertanyaan "real".
Dari audiens banyak pertanyaan yang bernadakan
ke keagamaan. Hal ini wajar, karena PAN merupakan perwujudan dari beberapa tokoh
di Muhammadiyah, sebagai tempat untuk melepaskan unek-unek politis dan
beraktivitas secara politis. Keraguan para pengunjung pupus, setelah mengetahui
bahwa PAN bukan Partai yang didominasi oleh Umat Islam. Hal ini telah
dilontarkan beberapa bukti dari Kepengurusan PAN Pusat dan juga pada beberapa
Cabang di beberapa Propinsi di Indonesia. Sebagai contoh Pengurus PAN non
muslim yang di sebutkan seperti Theo Sumartono, Cindunata, Yunus Yahya,
Christianto Wibisono, Surya Sudibya dan Bara Hasibuan. Keragaman
keanggotaan, juga menarik untuk mengetahui bagaimana sikap PAN terhadap
"pri dan non-pri". Hanya dengan mengatakan tidak ada istilah "pri
dan non-pri" pada PAN dan membuka kepada semua golongan. Hal ini sesuai
pada sifat Partai "moralitas keagamaan" dan
"kemanusiaan".
PAN dan Ekonomi ? Kata singkat "memihak ke ekonomi
lemah" dengan beranggapan bahwa Orde Baru di bawah Golkar telah gagal
melakukan pembangunan Ekonomi dengan memusatkan pergerakan ekonomi pada beberapa
orang sebagai "sapi perah" dan hanya menguntung pada beberapa pihak
yang dekat dengan kekuasaan. Adapun langkah konkrit untuk merealisasikan
"kata singkat" belum ada penjelasan. Akan fatal akibatnya seandainya
konsep ekonomi tidak jelas. Bagaimana orang bisa berfikir dan bekerja seandainya
masih "lapar".
PAN dan Pendidikan Politik ? Kata singkat "dimulai dari
bawah", dengan mencontohkan bagaimana PAN Ranting memilih pengurus,
merupakan otonomi Ranting. Tidak ada penunjukan dari Pimpinan PAN.
PAN sebagai partner Mahasiswa Reformasi ? Dengan berharap
mahasiswa tetap pada "gerakan moral" yang telah menjatuhkan Orde Baru.
Dan menentang adanya kekerasan yang dilancarkan Mahasiswa, sehingga ada istilah
"demo kontra demo". Hal ini akan menodai cita-cita Mahasiswa Pro
Reformasi Total.
PAN dan Militer ? PAN bukan merupakan rekan dekat ABRI,
sebagaimana dekatnya ABRI dengan Golkar. Dan mendukung istilah "back to
barac" secara bertahap, dengan perkiraan setelah 6 tahun. Program
"tabu" ini akan diterapkan, sehingga tidak ada lagi istilah ABRI,
melainkan Angkatan Perang, dan Presiden merupakan Panglima Angkatan Perang.
Polisi langsung bertanggungjawab dengan Presiden, dan bukan didalam struktur
Angkatan Perang. Dan pendidikan Polisi tidak sama dengan pendidikan Angkatan
Perang, sehingga Polisi dapat bertindak sesuai "media"-nya.
Penggantian posisi yang tidak seharusnya di pegang oleh Militer, yang selama ini
dipegang oleh Militer.
PAN terhadap Tahanan Politik ? Akan meninjau ulang kasus
tahanan politik, dan akan mengajukan Grasi, Abolisi dan Amnesti. Perkara PKI ?
Berpegang pada Tap MPR tentang pelarangan terhadap ajaran Karl Marx. Penjelasan
masalah ini hanya ditinjau sesuai pada sifat Partai PAN "moralitas
keagamaan" dan "kemanusiaan" serta menjujung tinggi nilai
Pancasila.
PAN terhadap Timor Timur ? Setuju dengan Referendum. Sesuai
pembicaraan Amin Rais, Ketua Umum PAN dengan Xanana Gusmao, pada kunjungannya ke
penjara. Referendum akan dijalankan, dengan memenuhi konsekuensi hasil
yang dicapai. Xanana akan pulang sebagai Pemimpin seandainya hasil Referendum
berpihak Pemisahan Timor Timor terhadap Republlik Indonesia, dan sebaliknya bila
Referendum berpihak pada Republik Indonesia, Xanana akan patuh pada
RI.(ice)
