Sungguh menarik analisis A. Yuswara tentang kasus Theo, yang dicoba
ditelusuri dari kemungkinan yang ada, baik konflik di ABRI, paranoid
terhadap kelompok islam garis keras,

Pendapat Sumartana salah seorang cendikiawan kristen barangkali bisa
memberikan perspektif yang lebih luas dalam mecoba memahami kasus Theo.
***********************************************************
Wawancara Tabloid Detik Dengan Dr.Th Sumartana,
Direktur Dian interfidei, Yogya.
Detik No. 027 , 12-18 Januari , HAL. 17.

KASUS THEO BISA MENYULUT MASA.

T:Bagaimana anda memandang kasus Theo Syafei dalam hubungan Islam Kristen ?

J:Theo melontarkan sebuah isu yang tidak terlalu produktif. Apalagi
sekarang masing-masing kelompok agama dan etnis itu hendak mencari
persepektif yang baru. Kalau Theo ngomong tentang negara Islam, itu wacana
lama yang sebenarnya sudah out.Dan itu tidak akan mampu memecahkan masalah
dasar hubungan Islam-Kristen di Indonesia, dan SARA pada umumnya. Kalau
reaksi dari teman-teman muslim begitu keras, itu bukti wacana yang
dikatakan Theo itu memang sudah out, kuno. Nah sekarang dia terjebak di
sana. Dia masuk dalam wacana jalan buntu tentang negara Islam. Sebenarnya
yang lebih esensial adalah bagaimana kelompok Muslim dan Kristen ini
sekarang mampu untuk mengusulkan wacana baru.

T: Di kalangan Islam ada kelompok yang disebut fundamentalis. Dalam kasus
Theo, bisakah disebut bahwa ternyata di kalangan Kristen juga ada kelompok
fundamentalis ?

J: Di semua kelompok agama ada kecenderungan seperti itu. Saya duga orang
seperti Theo bisa menjadi fundamentalis, dalam arti hanya memikirkan
kepentingan kelompoknya sendiri secara sempit. Dalam wacana yang baru,
seharusnya dia bisa memikirkan kepentingan kelompok lain. Karena basis
kebersamaan itu basis yang pluralistis, sehingga tidak bisa hanya
memikirkan kepentingan kelompoknya sendiri tanpa memberikan peluang kepada
kelompok lain. Kelompok fundamentalis di kalangan Kristen itu ada. Masih
banyak tokoh Kristen yang tidak mampu untuk melihat horison yang lebih
luas. Dan semuanya itu diterjemahkan dalam sebuah perspektif yang sempit,
baik yang sempit keagaman maupun sempit politik. Ini kecenderungan yang
merupakan ciri golongan fundamentalis. Ciri utamanya sangat eksklusif. Nah,
kadang-kadang mereka memasang beberapa muka sekaligus dalam beberapa hal.
Kalau Theo Syafei berbau fundamentalistik, itu sebagai salah satu contoh.
Ini terungkap dari statement politiknya itu.

T: Banyak tokoh Kristen dan Katolik yang dekat dengan Gus Dur dibandingkan
ke Amin Rais atau tokoh Islam lainnya. Apakah itu mencerminkan kelompok
Kristen lebih merasa aman berlindung pada Gus Dur ketimbang tokoh Islam
lainnya ?

J: Harus diakui sejak lama, sejak tahun 70-an hingga kini Gus Dur sangat
konsisten dengan pandangan-pandangan yang impulsif, bahwa semua orang
kompelementer satu dengan lain. Sejak awal Gus Dur memberikan perhatian
yang besar kepada kepentingan kelompok-kelompok yang disebut minoritas,
baik Cina maupun Kristen. Karena konsistensinya itu, banyak orang melihat
dia bisa menjadi semacam patron, pelindung atau semacam tokoh yang membuat
merasa aman kepada kalangan minoritas. Kedekatan Gus Dur dengan kalangan
minoritas itu bukan merupakan manuver politik, tapi kedekatan yang
dilandasi saling percaya. Sedangkan Amin Rais adalah orang yang relatif
baru muncul dalam 3 tahun terakhir ini. Banyak orang yang masih curiga
kepada Amin dan banyak yang mengatakan Amin Rais adalah orang yang
fundamentalistik, sektarien. Yang mengatakan ini antara lain Gus Dur tetapi
setahap demi setahap saya amati Amin kini banyak melakukan langkah-langkah
nyata dan mulai menghargai pluralisme.

T: Diantara kelompok Kristen yang berlindung ke Gus Dur itu, adakah yang
fumdamentalis ?

J: Tentu saja. Karena mereka mempunyai kepentingan yang perlu diperjuangkan
dan mereka merasa aman dibawah sayap Gus Dur. Masalahnya sekarang golongan
Kristen dan minoritas lainnya perlu berpikir lebih lanjut agar hubungan
dengan Gus Dur menjadi lebih dewasa, lebih kritis. Gus Dur tidak sekedar
dianggap patron, pelindung, memberi rasa aman. Soalnya, langkah-langkah Gus
Dur tidak selamanya merupakan pilihan yang terbaik. Misalnya ketika dia
mendekati Pak Harto. Itu kan membingungkan. Gus Dur itu maunya kemana ?

T: Gus Dur sudah didaulat sebagai pelindung minoritas. Bagaimana komentar
anda ?

J: Cara mencari pelindung semacam itu sudah kuno. Itu cara orde baru.
Seharusnya orang-orang minoritas ini mampu menumbuhkan suatu relasi yang
lebih dewasa, jangan bergantung sepenuhnya kepada siapapun, termasuk juga
kepada Gus Dur. Bukan menyerahkan diri secara bulat, tapi juga harus
kritis. Jika Gus Dur benar, ya kita dukung, kalau Gus Dur salah ya kita
katakan salah. Itu saya pikir korelasi yang dewasa.

T: Kembali ke kasus Theo. Dalam kasus kerusuhan Kupang adakah korelasinya
dengan ceramah Theo ?

J: Bisa saja ada korelasinya dalam keadaan yang homogen yang semangatnya
seperti itu di suatu daerah, lalu ada kaset yang diputar kepada mereka,
bisa timbul dorongan untuk melakukan tindakan yang destruktif, misalnya
upaya melakukan pembalasan terhadap peristiwa Kupang. Kaset-kaset Theo bisa
ditafsirkan macam-macam, dan bisa menyulut emosi massa di suatu daerah.
Kemungkinan itu ada dan sangat berbahaya.

Kirim email ke