Bung Bridwan,
Saya kira tergantung asumsinya. Asumsi saya, kita yang ada di
Permias ini relatif cukup jeli berpikir dan membaca situasi, jadi tidak
gampanglah dipengaruhi, apalagi sampai terperosok. Hanya mereka2 yang
selalu menganggap "enteng" pembaca, biasanya dapat terlihat dari kutipan
kata2nya yang cenderung sembarangan atau bakan tidak mencerminkan
orang yang beradab (kalau orang Jakarta bilang "seenak udelnye"), yang
memubazirkan kata-kata tanpa perlu berpikir dulu. Saya
mohon maaf, kalau ada yang tersinggung. Tapi saya membaca ada satu dua
orang yang seperti ini. Tapi, biarlah bukankah kita memang tidak harus
sama apalagi "menyama-nyamakan" diri. Karena inilah demokrasi itu. Saya
sendiri cenderung untuk selalu membiasanya diri memilih kata2 yang sopan,
yang ramah, betapapun tidak setujunya saya atas suatu pendapat. Karena,
menurut saya, dengan jalan ini kita (paling tidak saya sendiri) berharap
memperoleh "hikmah" dari suatu diskusi atau dari suatu perbedaan pendapat.
Bukankah begitu Bung BRidwan?
Soal RUU Politik, saya sendiri termasuk yang ragu. Saya termasuk
yang setuju PNS itu netral. Pemimpin partai yang mempunyai sikap seperti
ini (PNS harus netral) harusnya konsisten dengan sikapnya. Saya lihat ada
tiga ketua partai yang masih PNS (bahkan sekjen yang dua partai juga PNS),
padahal kalau tidak salah sikap
partai mereka adalah PNS netral. Saya sebut saja nama2nya biar diskusi
kita terbuka yaitu: Amien Rais dan Faisal Basir (Ketua dan sekjen PAN),
Yusril (Ketua PBB), Nur dan Anis (Ketua dan sekjen PK). Di Golkar banyak
PNS, tetapi menjadi tidak relevan ketika saya ketahui bahwa mereka setuju
PNSboleh berpolitik. Jadi, bagi saya, mereka yang bersikap PNS netral tapi
dirinya
sendiri masih PNS (walau mungkin mereka ayang mencari2 alasan
non-aktif, cuti dls) adalah
contoh pemimpin yang konsistensi sikap dan kata2nya harus dipertanyakan.
Jadi,(omong kosong!, sepertti omong kosong yang banyak kita dengar selama
Orba), kita dapat memberikan pendidikan politik kepada
rakyat (seperti slogan politi Partai Keadilan, misalnya), kalau para
pemimpinpartai itu sendiri tidak konsisten antara sikap dan kata2nya. Tentu
dapat dikatakan tidak berwatak pemimpin, bila baru mau keluar dari
PNS setelah di RUUnya. RUU politik harus mampu membentuk budaya politik
yang beradab. Budaya politik yang "biadab" akan selalu tumbuh dan
terpelihara begitu banyak para pemimpin politik berlomba2 untuk menjadi
"best actor", bukan "real person".
Banyak soal lain yang juga saya lihat: soal sistem distrik Vs
proporsional (lucunya banyak juga partai baru setuju dengan proporsional),
soal ABRI, soal "money politics (pengawasannya yang kurang jelas) dan
terutama soal Luber Jurdil itu, yang sudah banyak didiskusikan di Permias
ini. Soal ini inipun, pada akhirnya kembali - seperti selalu diucapkan
oleh Bung Hatta - tergantung kepada semangat para pelakunya.
Maaf kepanjangan.
Wassalam,
Harry Azhar Azis
-----------------------
On Wed, 13 Jan 1999, bRidWaN wrote:
> Saya setuju saja tidak membatasi diskusi apapun,
> tetapi saya agak risih kalau kita sudah mulai
> berdebat masalah 'agama'.
>
> Ngomong-ngomong saya koq agak-agak deg-deg an
> menunggu hasil tgl 28 Januari re: UU Politik.
>
> Salam,
> bRidWaN
>
> At 12:24 11/01/99 -0600, HARRY A AZIS wrote:
> > Karena itu, menurut saya, diskusi apapun atau kampanye
> > apapun dari siapapun di list seperti Permias ini tidak
> > perlu dibatasi2 atau dikuatir kuatirkan. Karena saya
> > termasuk yang percaya, hampir semua diantara kita jeli
> > kalau melihat sesuatu, seperti Bung BRidwan. Kita
> > tampaknya sudah terlatih untuk tidak hanya membaca
> > sesuatu sebagai "taken for granted"(kulit mukanya saja).
> >
> > Mereka yang tulisannya "tidak ingin ditertawai" sebaiknya
> > berpikir sebelum menulis. Hehe... seperti iklan ki Manteb
> > saja, teliti sebelum membeli....:)
> >
> > Wassalam,
> > Harry Azhar Azis
>
>
> >On Sun, 10 Jan 1999, bRidWaN wrote:
> >
> >> Wah bung Harry,
> >> Sebetulnya saya hanya ikut-ikutan mengomentari
> >> Partai Keadilan di-Permias@ ini.
> >> Ternyata anda yang lebih jeli lagi.....:)
> >>
> >> Salaam,
> >> bRidWaN
> >>
> >> At 10:56 09/01/99 -0600, HARRY A AZIS wrote:
> >> > Salam,
> >> > Rupanya Bridwan cukup jeli membaca penomena politik,
> >> > tidak cukup membaca "kulit muka"nya saja. Walau setelah membaca
> >> > "isi", soal interpretasi bisa saja tetap berbeda di antara
> >> > para pembacanya.
> >> >
> >> > Wassalam,
> >> > Harry Azhar Azis
> >
> >
>