Postingan Ke III ttg Pramoedya Ananta Toer ====================================================================== >From: Anies Baswedan <[EMAIL PROTECTED]> >To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED] >Subject: Re: [bincang] Respon thdtulisan Ramadhan Pohan [ Re: Prahara Budaya ( Re:bertanya pada sejarah)] >Date: Sun, 11 Apr 1999 15:04:19 -0700 (PDT) > >Salam, > >Kalau memang Pram punya kartu "as" kenapa harus >menunggu sidang pengadilan, apalagi Pram sendiri sadar >bahwa pengadilan sering tidak adil. Buka saja kartu >"as" itu, toh dunia akan bisa menilai. Kalau memang >yang dikatakan Pram itu benar -bahwa kalangan manifest >kebudayaan akan menjadi malu- ya sederhana saja >tunjukan kartu "as" itu. Tapi saya pikir persoalannya >bukan masalah menuntut dan saling balas. Masalahnya >adalah penyebaran dan pemahaman sejarah/peran Pram >yang secara sepotong-sepotong. > >Kalau soal membayangkan penyiksaan, saya malah ingin >tanya, pernahkah anda merasakannya? pernahkah >menjalani proses interograsi yang menyakitkan itu? >pernahkah dijemput dinihari dan diintereogasi di >tempat yang tak jelas? pernahkah membawa pulang >aktivis yang luluh lantak seluruh ototnya karena >setrum, yang hancur kupingnya dan keropos rahangnya >karena dihantam papan kayu terus menerus? Maaf >Ramadhan ... karena saya diminta untuk merenungkan >(membayangkan), maka dengan terpaksa saya harus >menjawab: saya tidak perlu membayangkan, saya sudah >menjalaninya sendiri. > >Itu semua adalah kebiadaban orde baru yang dialami >oleh beratus ribu bangsa Indonesia, bukan cuma dialami >oleh Pramoedya Ananta Toer. Terlalu panjang daftar >korban kebiadaban politik orde baru dan orde lama. >Tidak ada satu alasanpun yang bisa membenarkan >kebidaban itu dan InsyaAllah generasi kita tidak akan >memperpanjang daftar itu !!! > >Persoalan dengan Pram itu sederhana, dengan segala >hormat dan salut atas karya sastra-nya saya bertanya: >haruskah kita menghapus sejarah sepak terjang Pram >pada masa Pra-1966? > >Saya rasa tulisannya Ramadhan itu benar -tapi tidak >lengkap- yaitu Pram adalah asset bangsa Indonesia. >Seharusnya kita proporsional dan adil dalam >menempatkan Pram, yaitu dengan mengatakan bahwa Pram >adalah asset dan liability bangsa Indonesia. > >Sekali lagi, kita perlu proporsional terhadap Pram. >Kalau kita mau mengakui kehebatannya, mengapa kita >tidak mau membaca kekurangannya? Ini bukan masalah >balas dendam, untuk apa? toh kita tidak pernah >ditindas oleh Pram. Ini juga bukan karena Pram >bersimpati pada PKI, bukankah itu hak politiknya Pram >dan jutaan orang Indonesia lain yang harus dihargai. > >Ini adalah masalah sejarah. Ini adalah masalah >kejujuran kita dalam membaca sejarah. Kalau kita tidak >siap untuk jujur pada sejarah, jangan-jangan kita >nantinya juga akan menghilangkan kebiadaban politik >orde baru hanya karena Suharto sudah dicaci maki dan >"diinjak-injak" secara massal. Seperti halnya Jepang, >mengutip artikel yang saya forward kemarin, haruskah >dunia menghapus sejarah kebidaban tentara jepang >karena bom atom telah dijatuhkan di Hiroshima dan >Nagasaki? Kebiadaban tentara jepang adalah sebuah >fakta yang tidak bisa dihapuskan dari sejarah, seperti >halnya peledakan bom atom. Lalu, haruskah kita menilai >peran jepang itu hanya dengan mengamati peran Jepang >sesudah tahun 1945? Nah, disinilah kita diuji untuk >jujur, komplet dan adil dalam membaca sejarah. > >Melihat peran Pram selama Pra-1966 saya sulit untuk >mengatakan Pram itu memiliki komitmen pada kebebasan >berekspresi. Meskipun Pram sudah disiksa dan ditahan >di pulau Buru, tapi tulisan, perkataan dan perbuatan >Pram sudah terlanjur jadi sejarah aktivitas sastra di >Indonesia. Sejarah yang bisa dilupakan tapi tidak bisa >dihilangkan. > >Karena alasan itulah dalam menilai ttg Pram kita tidak >boleh menghilangkan sejarah. Dalam hubungannya sebagai >sesama manusia kita perlu melupakannya, tapi dalam >menilai peran Pram, apalagi saat menakar bobotnya >sebagai kandidat penerima hadiah Nobel maka saya >selalu berpendapat bahwa Pram itu tidak lahir di tahun >1966. Pram harus dinilai sejak Pram mulai menulis >pertama kali hingga karya paling akhir. Atau, >tegasnya, Pram itu punya sejarah pra-1966, tapi >mengapa masa pra-1966 tidak perhitungkan dalam menilai >Pram? adilkah itu? > >Karena itu, Ramadhan keliru besar dengan mengatakan >bahwa saya menyerukan untuk memusuhi dan menghujat >Pram. Mengapa Ramadhan harus menganggap fakta-fakta >masa lalu Pram itu sebagai hujatan dan permusuhan? >Apakah karena saya kritis pada sejarah dan masa lalu >Pram lalu saya dianggap menyebarkan permusuhan dan >menghujat Pram? (Kok mirip gaya tuduhannya Orba) >Bukankah fakta-fakta itu justru akan membebaskan kita >dari jebakan penilaian yang dogmatik? Apakah karena >fakta itu pahit, lalu kita emoh mengetahui dan >mempertimbangkannya? Apakah karena Pram sudah disiksa >oleh aparatus Orde Baru lalu dengan sendirinya >fakta-fakta itu harus musnah? > >Sebagai bangsa Indonesia, saya memang ingin sekali >nama dan label bertuliskan Indonesia terukir dalam >deretan penerima hadiah nobel. Mudah-mudahan suatu >saat nobel sastra atau Pulitzer itu diterima oleh >sastrawan dan jurnalis Ramadhan Pohan. Tapi sebagai >umat manusia biasa, saya tidak bisa membaca sejarah >Pram yang di-edit, sejarah Pram yang hanya dimulai di >tahun 1966. > >Novel-novel pram itu memang luar biasa, tapi bukankah >hadiah nobel itu adalah pencerminan dari keseluruhan >karya sastranya, bukan cuma novel-novelnya? lebih jauh >lagi, bukankah hadiah nobel itu merupakan cermin >kontribusi seseorang pada pengembangan sastra? >Bagaimana mungkin saya mendukung penganugerahan hadiah >nobel pada figur yang pernah secara sadar dan >jelas-jelas berperan besar dalam membungkam kebebasan >berekspresi? Ramadhan, yang mengatakan ttg peran Pram >dalam pembungkaman itu bukan surat edaran Opsus bukan >pula laporan intelejen. Yang mengatakan itu bukan kaum >oportunis. > >For the sake of argument, katakanlah yang diungkapkan >oleh Pram itu benar yaitu kalangan manifest kebudayaan >itu juga punya dosa sastra, apakah itu berarti >pembungkaman kebebasan berekspresi yang dilakukan oleh >Pram itu bisa dibenarkan? Saya rasa tidak ! Saya bisa >merasakan dan bersimpati pada penderitaan Pram dan >jutaan bangsa Indonesia yang diperlakukan secara >biadab oleh kekerasan politik orde baru. Tapi saya >juga tidak berminat untuk menghapuskan sejarah >kekerasan yang dikerjakan oleh Pram dan Lekra. >Sebagaimana saya tidak berminat menghapuskan fakta >sejarah kekerasan politik Orde Baru. Saya ingin >menilai Pram secara komplet, adil dan proporsional: >Pram sudah berkiprah jauh sebelum dia dikirim ke Pulau >Buru. > >Dan, saya tidak ingin menghalalkan segala cara, >diantaranya dengan sengaja menghilangkan fakta sejarah >peran Pram di masa pra-1966, semata-mata supaya nama >Indonesia terukir di daftar penerima hadiah nobel. > >Ramadhan, inilah yang mendorong saya untuk mengatakan >bahwa Pram bukanlah seorang sastrawan atau budayawan >atau humanis sejati yang berkaliber Nobel. Saya >mendukung supaya Pram supaya diberi kekebasan untuk >terus berkarya, supaya dihormati sebagai sastrawan dan >pada saat yang sama saya mendukung keputusan untuk >tidak memberi Nobel Sastra pada Pram. Karena saya >menilai komitmen dia pada kebebasan berkarya tidak >ada. Ramadhan, pada saat seseorang sedang dianiaya >maka ia akan mudah sekali menjadi seorang idealis dan >humanis, tapi ujian komitmen idealisme itu justru >terjadi ketika seseorang sedang berkuasa. > >Karena itu saya menilai komitmen Pram itu jauh dibawah >Mochtar Lubis, yang juga selalu dipenjara baik oleh >Belanda, Jepang, Orde Lama maupun Orde Baru. Muchtar >Lubis meski dimusuhi oleh Pram dan dipenjara saat Pram >masih berkuasa, tapi ketika Pram sudah ditahan ke >pulau Buru maka Mochtar Lubis-lah yang datang >mengunjungi Pram di pulau Buru. Dan Muchtar Lubis pula >yang dikemudian hari memberinya hadiah sebuah mesin >ketik. Muchtar Lubis tidak bisa membebaskan Pram, >tidak satupun figur non-jenderal TNI-AD bisa >membebaskan Pram. Tapi Muchtar Lubis menunjukan >simpati, solidaritasnya dan lebih jauh lagi, kemudian >setelah Pram ke Jakarta, Muchtar Lubis memberi mesin >ketik supaya Pram bisa terus berkarya. Luar biasa, >Pram jadi nampak kecil dibandingkan Mochtar Lubis. >Mochtar Lubis memang pantas menerima penghargaan >Magsaysay! > >Apalagi bila Pram dibandingkan dengan Alexandre >Solzenitzyn yang emoh kompromi dan jadi antek >kekuasaan Uni Soviet untuk propaganda politik dan >konsekuensinya harus menderita di Siberia dan >menghasilkan Gulag Archipelago hingga akhirnya meraih >Nobel Sastra. Hadiah Nobel sastra itu menuntut lebih >dari sekadar novel, hadiah nobel adalah wujud kerja >besar sastra, komitmen pada kemajuan sastra dan pada >kebebasan berekspresi. > >Ramadhan, pemenjaraan tanpa proses pengadilan itu >tidak bisa dibenarkan, apapun alasannya. Baik itu yang >menimpa Muchtar Lubis, Hamka, Sutan Takdir ataupun >Pramoedya ataupun ribuan bangsa kita. Sekali lagi, itu >harus selalu ditentang. Pemberangusan karya sastra >seperti yang dilakukan oleh Orde Baru maupun oleh >Lekra, harus dicegah dan ditentang. > >Saya sedih mendengar penderitaan Pram, sebagaimana >saya sedih mendengar penderitaan Buya Hamka dan >keluarganya selama Buya penjara, dan penderitaan >jutaan keluarga yang sanak saudaranya dibantai oleh >kaum berseragam dari bangsanya sendiri. Sayapun >bahagia ketika membaca sejarah bahwa Buya Hamka bebas >sambil membawa naskah tafsir Al-Qur'an yang ditulis >semasa di tahanan, sebagaimana saya bahagia ketika >membaca sejarah bahwa Pram bebas dengan menghasilkan >beberapa naskah novel hebat yang behasil diloloskan >dari pulau Buru. > >Sayapun terharu ketika melihat rumah Pram di kota >kecil Blora yang penuh tanda-tanda ketidakmajuan, >tandus dan gersang. Rumah yang saat itu jadi tempat >pengajian Ranting Muhammadiyah. Tapi pada saat yang >sama saya tegaskan pada diri sendiri untuk menilai >sejarah tanpa harus larut dalam emosi yang >sentimentil. > >Kita perlu berani dan jujur. Berani dan Jujur dalam >membaca sejarah. Tidak cuma sejarah manis yang kita >baca, tapi juga yang pahit dan menyakitkan. Lalu >berjanji untuk tidak mengulangi kebiadaban yang >menyakitkan itu dengan memulainya dengan menilai >sejarah (masa lalu) secara jujur, komplet, dan adil. > >Bila ada kata yang salah, mohon saya diberi maaf, >semoga bisa diampuni. > >AB > > >--- [EMAIL PROTECTED] wrote: >> Salam, >> Untuk ''melihat kebenaran yang lebih terang'' Pram >> mengatakan pada saya agar >> siapa pun yang ingin bertanya mengenai dirinya-- >> dipersilahkan maju. Termasuk >> siapa pun ''Para Peneken Magsaysay". Pram seperti >> sudah capek. Lalu >> menyangkut "dosa-dosa politik dan dosa-dosa >> sastrawannya"-- Pram cenderung >> memilih jalur pengadilan. Walau Pram sendiri ragu >> pada pengadilan Indonesia-- >> pengalaman pribadi bung Pram banyak memperlihatkan >> itu. Nah yang jadi >> pertanyaan, kenapa Bapak Taufik Ismail dkk tidak >> melakukan itu, "menghajar >> Pram lewat pengadilan?''. >> Bung Pram sendiri sebenarnya punya "kartu as"-- yang >> jika dibuka di >> pengadilan dipastikan mempermalukan para penganjur >> Manifes Kebudayaan. Itu >> penilaian saya dari percakapan dengan bung Pram, >> Sabtu. >> >> Lama-lama saya pikir boleh juga himbauan terbuka >> bung Pram ini. Di pengadilan >> nantinya akan terkuak pelbagai misteri ''benda dan >> mahluk ide'' apa bung >> Pram itu. Sekaligus siapa di belakang Manikebu dan >> dosa-dosa mereka juga. >> >> Anies betul bahwa kita memang harus lengkap membaca >> Pram-- kalau mau meneliti >> Pram. Tatapi Anies, pernahkah Anda merenungkan >> penderitaan Pram? Kepalanya >> dihajar hingga dia budek sampai sekarang? Rumahnya >> dengan dokumen lengkap >> dirampas Orde Baru? Ditahan di Pulau Buru tanpa >> proses pengadilan? Apakah >> fakta ini harus kita lupakan? Begitu juga dengan >> larangan buku-buku dia? >> Perampasan dan pemusnahan hak dia sebagai pengarang >> itu? Pram sudah dibunuh >> Orde Baru-- tapi Pram tidak mati-mati. Padahal itu >> kan aset dan kekayaan >> Indonesia? >> >> Taroklah Pram pernah melakukan kesalahan. Kekerasan >> fisik dan pelecehan dan >> penghancuran kemanusiaan Pram-- apakah juga kita >> sahkan? Kita sah menganiaya >> Pram karena dia dianggap kiri? Kita boleh menghantam >> Pram-- karena dia adalah >> Pram? >> >> Saya cemas terhadap peradaban kita. Kita sudah >> terbiasa dengan teror. Atas >> nama HAM kita ingin menghantam kemanusiaan Pram? >> Atas nama hukum dan >> kezaliman ORBA yang "gila stabilitas" (yg penuh semu >> itu)-- maka Pram harus >> kita berangus? Tolong Anies-- doakan juga agar >> generasi kita tidak menjadi >> lebih sirik, lebih barbar. Mestinya Anies dkk datang >> kepada Pram, berdiskusi >> bebas dengan tangan pertama. Dengarkan juga >> penderitaan dia-- disamping >> seruan yang ada agar memusuhi dan menghujat Pram. >> >> Jika Pram berdosa pada masa Lekra-- SAYA MENOLAK >> jika kita lantas membalasnya >> dengan pemenjaraan dan penahanan tanpa proses hukum >> Pram selama satu >> dasawarsa di Pulau BUru. Saya menolak kezaliman >> (apakah orang-orang Orba >> mempunyai hati nurani? Mempunyai agama? Mempunyai >> kemanusiaan yang >> menghormati hukum? Saya ragu itu semua-- bahkan >> perilaku kita terhadap Pram >> sudah menjurus menjauhi ajaran agama kita atau >> antara lain lewat sunnah Rasul >> sendiri. >> >> Bahkan jika Pram seorang pembunuh-- dengan asosiasi >> dan korban siapa pun-- >> saya menolak jika itu harus dibalas dengan >> pembunuhan dan penghancuran >> kemanusiaan Pram sendiri. Pram sekeluarga sudah >> hancur-- tapi alhamdulillah >> Allah SWT masih tetap melindungi keluarga Pram. >> Bertanya jugalah kalian pada >> Ibu Hajjah Maimunah Thamrin-- isteri Pram itu. >> Tanyakan pada ibu yang tua, >> renta dan penuh penderitaan ini apakah hukuman >> kalian dan segala orang-orang >> Orde Baru sudah cukup atau kurang atau bagaimana? >> >> Melihat Pram sebagai sastrawan. Belum ada orang >> Indonesia mana pun sekaliber >> Pram-- kecuali Si Binatang Jalang yang ''Mau hidup >> seribu tahun lagi'' itu' >> Pram nyaris dapat Nobel. Bukan karena "Prahara >> Budaya"-- tetapi lebih karena >> intrik dan kezaliman kita. Ternyata kemanusiaan kita >> sangatlah memihak dan >> selektif. Karena kita seolah-olah menyetujui bahwa >> Pram memang harus >> dikebiri, dihabisi dan ddi lembah terhina saja. >> Astagfirullah... Betapa >> palsunya wajah kami, ya Allah. >> >> Sampai kapan pun kita tidak akan pernah menjadi >> dewasa! >> >> Salam, >> ramadhan pohan >> (bukan lekra bukan manikebu) > > >_________________________________________________________ >Do You Yahoo!? >Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com > > > > >--------------------------------------------------------------------- -------- >To subscribe: send a blank email to: [EMAIL PROTECTED] >To unsubscribe: send a blank email to: [EMAIL PROTECTED] >This mailing list sponsored by http://www.webIndonesia.com >--------------------------------------------------------------------- -------- ______________________________________________________ Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
