Kadang-kadang seorang ibu bisa lebih mengayomi bangsanya daripada
seorang bapak.
peace.
http://kompas.com/kompas-cetak/9904/14/UTAMA/kese01.htm
Title: Kesederhanaan Seorang Ibu Bangsa -- Rabu, 14 April 1999
 The Intel (R) Pentium (R) III  processor
KOMPAS Online
 
News on East Timor
Political Parties
Koran Daerah
English Nederlands
Rabu, 14 April 1999

Mengenang Ibu Rahmi Hatta
Kesederhanaan Seorang Ibu Bangsa

SEKALIPUN sudah diketahui kondisi kesehatannya yang semakin menurun beberapa tahun terakhir ini, namun berita tentang wafatnya Ibu Rahmi Hatta (sengaja memakai kata ''Ibu'' sebagai wujud penghormatan kepada Ny Rahmi Hatta) pada hari Selasa (13/4) tetap terasa mengejutkan, sekaligus menyentak rasa duka yang mendalam. Baru tiga hari lalu, adik kandungnya, Ny Titi Subiyakto (istri mantan KSAL pertama, Laksamana R Subiyakto) dipanggil Sang Pencipta.

Selama 35 tahun Ibu Rahmi mendampingi founding-fathers, tokoh proklamator kemerdekaan, dan Wakil Presiden pertama RI, Mohammad Hatta (Bung Hatta), sejak perkawinan mereka tahun 1945 hingga saat Bung Hatta wafat tahun 1980.

Mendampingi Bung Hatta berarti kesanggupan untuk memenuhi dan menjalankan prinsip-prinsip hidup yang dianutnya, di antaranya kedisiplinan, ketekunan, kejujuran, dan yang menonjol kesederhanaan. Sudah menjadi catatan sejarah, Bung Hatta adalah sosok paling representatif dari sikap kaum intelektual penganut asketisme, sikap yang menolak segala macam instant gratification, fasilitas, dan kenikmatan yang sebenarnya dapat dan sudah menjadi haknya, demi kepentingan yang lebih besar, yaitu kepentingan bangsa dan negara.

Prinsip lebih mengutamakan kepentingan bangsa daripada kepentingan keluarga dengan risikonya termasuk harus hidup sederhana, diterima dan dijalani dengan ikhlas oleh Ibu Rahmi selama mendampingi Bung Hatta, bahkan menjadi prinsip-prinsip yang dianut juga oleh seluruh keluarga.

Sebagai ibu muda yang mendampingi Bung Hatta pada masa-masa sulit pada fase awal pertumbuhan republik ini, Ibu Rahmi bukan saja memahami prinsip hidup Bung Hatta, melainkan menghayati dan menjalaninya dalam praktik kehidupan sehari-hari.

Pada perayaan ulang tahunnya yang ke-64 tahun 1990, Ibu Rahmi berujar: "Saya kira tidak hanya saya yang mengalami hal demikian. Ibu-ibu lain yang hidup pada masa itu juga memaklumi bahwa kepentingan negara dan bangsa itu lebih penting daripada keluarga." Itulah pernyataan sekaligus sikap seorang ibu bangsa, yang ikhlas hidup dalam kesederhanaan.

Mendampingi Bung Hatta sebagai seorang pemimpin politik, juga berarti kesanggupan untuk selalu siap menghadapi segala risiko dari dinamika politik, apa pun wujudnya. Itu ditunjukkannya ketika Bung Hatta, Bung Karno, dan sejumlah pemimpin lainnya ditawan Belanda dan diasingkan ke Prapat dan Bangka bulan Desember 1948 hingga Juli 1949. Dengan tabah Ibu Rahmi menerima kenyataan itu, hidup sendirian di Yogyakarta bersama sang putri yang masih kecil, Meutia (sekarang Ny Meutia Farida Swasono, istri Prof Dr Sri Edi Swasono).

Selama enam bulan Ibu Rahmi dan para istri-istri para pemimpin yang ditawan hidup dalam ketidakpastian tentang nasib suami mereka, sementara mereka juga harus menghadapi kenyataan lain berupa kehidupan ekonomi yang sangat sulit (di belakang hari Ibu Rahmi mengakui, ekonomi keluarga mereka agak tertolong, karena sering ada uluran bantuan dari almarhum Sultan Hamengku Buwono IX).

Ibu Rahmi juga siap menjalani hidup sebagai seorang ibu rumahtangga biasa, ketika Bung Hatta mengundurkan diri dari jabatan Wakil Presiden tahun 1956. Dengan mengundurkan diri sebagai Wapres, keluarga Hatta harus meninggalkan Istana Wapres di Jl Merdeka Selatan, kembali ke rumah pribadi Bung Hatta di Jl Diponegoro 57 Jakarta. Selain itu, mereka harus hidup hemat dengan uang pensiun yang sangat terbatas, yang bahkan tidak cukup untuk membayar tagihan rekening air minum, listrik, dan telepon.

Untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, Bung Hatta terpaksa harus mencari penghasilan tambahan dengan menulis berbagai artikel di suratkabar dan majalah, menulis buku, dan menjadi pengajar tidak tetap di beberapa universitas, di antaranya Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Universitas Hasanuddin Ujungpandang, dan Universitas Padjadjaran Bandung.

***

IBU Rahmi Hatta, yang nama lengkapnya Sitti Rahmiati Meutia, lahir di Bandung tanggal 16 Februari 1926 dari ayah asal Jawa dan ibu asal Aceh. Dia merupakan anak tertua dari dua bersaudara. Adik kandungnya, Ny Titi Subiyakto, telah mendahuluinya tiga hari lalu.

Perkawinannya dengan Bung Hatta pada 18 November 1945 di Megamendung, Jawa Barat (saat itu usianya baru 19 tahun, sedangkan Bung Hatta 43 tahun), sungguh unik. Yang memperkenalkan mereka adalah Presiden Soekarno, yang sekaligus datang melamar Rahmi ke orangtuanya. Ayahnya, Abdul Raham, adalah seorang pejuang dan juga teman Bung Karno.

Dari perkawinannya dengan Bung Hatta, mereka dikaruniai tiga putri, Meutia Farida, Gemala Rabi'ah, dan Halida Nuriah. Ketiga putrinya itu telah menikah dan masing-masing telah memberikan beberapa cucu kepadanya.

Dengan kepergian Ibu Rahmi di usianya yang ke-73, kita semakin kehilangan tokoh-tokoh teladan dengan karakter kuat, tokoh-tokoh yang memiliki komitmen penuh tanpa pamrih terhadap nasib bangsa dan negara. Selamat jalan Bu Rahmi! (manuel kaisiepo)


Get The Latest News at Kompas Cyber Media
KOMPAS Online
© C o p y r i g h t   1 9 9 8   Harian KompasD e s i g n e d  b y  Agrakom

Kirim email ke