Wah rupanya sudah banyak yang merasa pesimis dengan kondisi bangsa ini.
Orde Baru benar-benar banyak mematikan jiwa demokrasi rakyat...<sigh>.
Mungkin kalau tidak belajar kesini, saya akan terpengaruh untuk tidak
peduli dengan politik dan kemajuan bangsa.
Efron Dwi Poyo (Amoseas Indonesia) wrote:
>
> Di saat-saat senggang saya nggak jarang ngobrol ngalor-ngidul dengan warga
> di seputaran rumah saya. Hanya saja yang bikin saya kaget tidak sedikit
> warga yang tidak bersemangat mendaftarkan diri ikut Pemilu 99. Alasannya
> sangat klise karena pemenangnya bakal yang itu-itu juga.
>
> Melihat gelagat ini secara spontan saya memprovokasi mereka agar
> berbondong-bondong mendaftar dan ikut Pemilu. Saya juga mengatakan inilah
> kesempatan untuk menentukan nasib kita (saya nggak menggunakan istilah
> "nasib bangsa" karena terlalu bombastis). Dulu kita bisa "ngeles" bahwa
> Golkar mengatur nasib semua orang. Sekarang lain. Jika kita ogah-ogahan,
> keadaan ini akan dimanfaatkan rezim lama untuk memenangi Pemilu. Kalau ini
> terjadi tidak ada yang dapat dipersalahkan kecuali diri kita sendiri karena
> nggak ikut Pemilu. Demikian ringkasan provokasi saya kepada warga.
>
> Saya pikir suasana di kampung saya nggak jauh beda di banyak kampung
> lainnya. Jika Anda kebetulan mengetahui ini dan Anda memang berpikiran bahwa
> Pemilu 99 adalah langkah awal untuk memperbaiki nasib, mari kita
> bersama-sama "mengoprak-oprak" warga agar menentukan pilihan mereka sendiri
> lewat Pemilu.
>
> Memang tak menggunakan hak memilih adalah hak asasi. Namun kita mesti tahu
> apakah mereka sedang memanfaatkan hak asasinya itu atau latah tak mau ikut.
>
> Wassalam,
> Efron