Ikutan lagi ah...
Kayanya kita semakin kritis aja nih melihat segala macam permasalahan
yang terjadi, bahkan sampai posisi legal dan fungsional seseorangpun
bisa di jadikan bahan pembicaraan yang menarik karena orang itu
mengeluarkan pernyataan (re: DFA). Setiap gejala sosial politik yang
terjadipun selalu menimbulkan interpretasi yang beragam di antara kita
sesuai dengan beragamnya latar belakang organisasi, pendidikan, serta
kepercayaan. Bagus tuh....artinya kebebasan berpendapat yang selama 3
dekade lebih terkungkung, sekarang sudah bisa tersalurkan. Hanya agak
disayangkan apabila emosi sudah lebih dominan di dalam berdiskusi,
karena sering menimbulkan debat kusir yang tidak sehat.
Manurut saya sih, mbikin dugaan dugaan ya sah sah aja..
mengemukakan argumen argumen, ya boleh boleh aja..
menghubung hubungkan peristiwa yang satu dengan peristiwa yang lainpun
ya monggo..
wong namanya aja berpendapat dan bukan lagi nulis disertasi..
Sayapun pengin ngasih pendapat atas pemboman masjid kita tercinta
Istiqlal dua hari yang lalu. Memang kalau kita menanyakan siapa yang
salah dan yang bertanggung jawab atas kejadian itu--seperti juga
kejadian2 lainnya-- tentu kita akan sepakat mengatakan bahwa para
pelaku dan orang2 yang ada di belakang pelaku itulah yang bertanggung
jawab. Entah itu seorang pejabat, seorang jendral ataupun seorang
preman, dia harus bertanggung jawab, dan kalau bisa di tangkap, di
seret ke pengadilan dan di hukum.
Setiap ada kejadian, hampir secara serempak orang akan segera
mengatakan bahwa ada provokator di belakangnya, serta ada unsur
kepentingan politik yang menungganginya. Dan hampir secara bersamaan
pula orang akan mengutuk habis habisan para pelaku dan dalang dari
peristiwa itu. Tapi apakah pelaku dan dalangnya merupakan satu satunya
faktor yang menyebabkan peristiwa itu bisa terjadi...? saya rasa kok
nggak bisa seperti itu.
Kalau kita juga mau introspeksi diri, rasanya kita juga akan menemukan
kesalahan pada diri kita masyarakat Indonesia. Kenapa kita terlalu
sensitif terhadap masalah masalah yang berkaitan dengan agama..? kenapa
kita sering terlibat pertentangan antar agama...? kenapa pula kita
sering terjebak dalam fanatisme yang berlebihan yang sering membutakan
kita sendiri terhadap eksistensi keberagaman di sekitar kita...?
Seandainya sejak dulu kita bisa menghilangkan sifat fanatisme yang
berlebihan dan bisa menerima realitas keberagaman sebagai bagian dari
dinamika kehidupan, tentunya kita nggak akan gampang di pecah belah.
Seandainya kita benar benar bisa hidup berdampingan antara penganut
agama yang berbeda, tentunya kita nggak akan gampang di hasut.
Kecenderungan kita yang terlalu fanatik terhadap agama dan kurang bisa
menerima perbedaan itulah yang justru memberikan ruang gerak kepada
para provokator atau apapun istilahnya untuk mempermainkan kita, dan
memecah belah bangsa kita.
Jadi dalam hal ini, kita juga punya andil dalam mengakomodasi gerakan2
para provokator itu.
Peristiwa2 seperti di Ambon, Sambas, Istiqlal dan peristiwa2 lain
tentunya tidak akan semudah itu terjadi kalau kita bisa hidup
berdampingan dan tidak mudah terhasut. Menyalahkan dan menuntut
pertanggung jawaban para pelaku dan dalangnya adalah suatu keharusan
hukum yang wajib di laksanakan. Tapi menurut saya itu tidak cukup dan
belum bisa menjamin tidak terulangnya peristiwa2 semacam itu. Perlu
adanya kesadaran seluruh rakyat (termasuk para kaum intelektual) untuk
mawas diri dan mempererat persaudaraan sesama manusia. Hilangkan
fanatisme keagamaan yang berlebihan. Fanatik boleh dalam arti untuk
mempertinggi kualitas iman dan takwa sebagai umat beragama, tapi jangan
di jadikan alasan untuk menjelekkan agama lain yang mengakibatkan
pertentangan.
Semoga kita semua segera sadar..
ini cuman sekedar pendapat doang...kalo ada yang nggak setuju ya monggo
aja...
--- Hadeer <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Alexander Lumbantobing,......
>
> Terserah anda mau menulis apa tentang dugaan-dugaan anda mengenai
> manipulasi pidato Theo Syafei (padahal belum ada keterangan apapun
> dari
> kepolisian), terserah anda mau menduga-duga tentang akan adanya
> larangan
> ikut Pemilu bagi Golkar.
>
> Yang saya sangat harapkan dari Anda adalah rasa menghormati kepada
> orang
> yang jauh lebih tua dari anda, Bapak Achmad Sumargono. Sebutan yang
> ada
> tulis dibawah adalah penamaan dan julukan yang buruk kepada orang
> yang sama
> sekali anda tidak kenal pribadinya, ahlaknya, moralnya. Putra beliau
> adalah
> teman saya, dan saya mengenal dengan baik moralnya, perkataannya yang
> baik
> dan amanah, kelembutan dan ketegasan hati beliau Bapak Achmad
> Sumargono.
>
> Anda pasti tidak akan mau nama orang tua anda dijuluki yang buruk -
> buruk
> oleh orang lain yang sama sekali tidak kenal dengan orang tua anda,
> bukan
> begitu ?
>
> Jadi perlihatkan dalam tulisannya anda sedikit rasa hormat -
> menghormati ke
> orang lain apalagi ke orang tua kita, kalau kita juga mau dihormati
> oleh
> anak-anak kita nantinya.
>
> Terimakasih
>
> Hadeer
>
> ===============================
>
> Alexander Lumbantobing tulis :
>
> Guys:
>
> Rupanya para pelaku keonaran di Republik Indonesia merasa geram,
> karena
> manipulasi pidato Theo Syafei terbukti kurang tepat guna dan kurang
> berdaya
> guna untuk membakar Indonesia - yang terpancing untuk marah dan
> bergerak
> hanyalah gerombolan kelas teri (Gogon, dkk). Karena waktunya tinggal
> sedikit,
> para jahanam itu langsung main kasar. Tonjok sana dan sini. Apalagi
> ada
> kemungkinan tersingkirnya Partai Golkar dari dunia politik resmi.
>
> ==============================
<HR>
<html><head></head><BODY bgcolor="#FFFFFF"><p><font size=2
color="#000000" face="Arial"><br>Alexander Lumbantobing,......
<br><br>Terserah anda mau menulis apa tentang dugaan-dugaan anda
mengenai manipulasi pidato Theo Syafei (padahal belum ada keterangan
apapun dari kepolisian), terserah anda mau menduga-duga tentang akan
adanya larangan ikut Pemilu bagi Golkar.<br><br>Yang saya sangat
harapkan dari Anda adalah rasa menghormati kepada orang yang jauh lebih
tua dari anda, Bapak Achmad Sumargono. Sebutan yang ada tulis dibawah
adalah penamaan dan julukan yang buruk kepada orang yang sama sekali
anda tidak kenal pribadinya, ahlaknya, moralnya. Putra beliau adalah
teman saya, dan saya mengenal dengan baik moralnya, perkataannya yang
baik dan amanah, kelembutan dan ketegasan hati beliau Bapak Achmad
Sumargono.<br><br>Anda pasti tidak akan mau nama orang tua anda
dijuluki yang buruk - buruk oleh orang lain yang sama sekali tidak
kenal dengan orang tua anda, bukan begitu ?<br><br>Jadi perlihatkan
dalam tulisannya anda sedikit rasa hormat - menghormati ke orang lain
apalagi ke orang tua kita, kalau kita juga mau dihormati oleh anak-anak
kita nantinya.
<br><br>Terimakasih<br><br>Hadeer<br><br>===============================<br><br>Alexander
Lumbantobing tulis :<br><br>Guys:<br><br>Rupanya para pelaku keonaran
di Republik Indonesia merasa geram, karena<br>manipulasi pidato Theo
Syafei terbukti kurang tepat guna dan kurang berdaya<br>guna untuk
membakar Indonesia - yang terpancing untuk marah dan
bergerak<br>hanyalah gerombolan kelas teri (Gogon, dkk). Karena
waktunya tinggal sedikit,<br>para jahanam itu langsung main kasar.
Tonjok sana dan sini. Apalagi ada<br>kemungkinan tersingkirnya Partai
Golkar dari dunia politik
resmi.<br><br>==============================</p>
</font></body></html>
_________________________________________________________
Do You Yahoo!?
Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com