Gimana kalau si emosi disuruh pulang saja :)
Saya prinsipnya setuju bahwa fanatisme keagamaan yang sempit yang banyak
tumbuh dimasyarakat kita makin memudahkan pekerjaan provokator untuk
menimbulkan bencana di Indonesia. Karena itu saya salut dengan banyak
komentar pimpinan agama dan politisi yang cepat tanggap dalam
mengantisipasi peristiwa pemboman kemarin. Memang sudah saatnya para
pimpinan agama dan masyarakat untuk terus mengayomi masyrarakatnya agar
segera menghilangkan fanatisme yang sempit atau kita segera sampai
dijurang kehancuran.
Beberapa pandangan bahwa ada unsur komunis yang berperan dibelakang ini
patut dihormati. Namun saya menganggap pendapat itu hanya melarikan
masalah yang sebenarnya, dimana kekuatan kelompok yang fanatik justru
berada diposisi yang lebih tepat untuk mengguncang negara.
Masalah yang paling sentral lagi adalah perebutan kekuasaan di elite
politik dan birokrasi. Para pemain politik papan atas sibuk mencari
strategi jitu untuk pencapaian diri dan partainya diposisi puncak,
sedangkan isu utama yang mereka dengang-dengungkan soal 'kesejahteraan
rakyat' mereka sajikan hanya dibatas mulut. Setiap teriakan suara dari
para politisi lebih dominan kearah pemilu, pengadilan Soeharto dan
kroninya, ataupun kondisi ekonomi makro yang global. Sedangkan
masalah-masalah kerusuhan yang krusial dan langsung menyentuh jantung
rakyat hanya sesekali diucapkan. Peristiwa pertengahan Mei s.d. Sambas,
dan terakhir pemboman Istiqlal yang menimbulkan banyak korban jiwa serta
perasaan rakyat, belum mendapat porsi yang memadai dalam
penyelesaiannya. Selain itu, teriakan politisi soal pengadilan Soeharto
dan kroninya juga berlarut-larut, bahkan menjadi proses saling
ancam-mangancam antar players.
Kondisi-kondisi diatas sekali lagi merupakan tanda-tanda ataupun
signal-signal yang sangat berbahaya buat kelangsungan hidup bangsa kita.
Para pemimpin kehilangan jati diri dan kehormatan. Rakyat mengalami
'kebingungan', bahkan apatis dalam menunjuk pimpinannya. Negara dalam
kondisi berbahaya, namun masih banyak saja yang dengan santainya membeli
rumah mewah di Menteng ataupun bermain api dengan emosi rakyat.
Semoga Tuhan memberkati bangsa kita.
peace.
-Blucer-
Dodo D. wrote:
>
> Ikutan lagi ah...
>
> Kayanya kita semakin kritis aja nih melihat segala macam permasalahan
> yang terjadi, bahkan sampai posisi legal dan fungsional seseorangpun
> bisa di jadikan bahan pembicaraan yang menarik karena orang itu
> mengeluarkan pernyataan (re: DFA). Setiap gejala sosial politik yang
> terjadipun selalu menimbulkan interpretasi yang beragam di antara kita
> sesuai dengan beragamnya latar belakang organisasi, pendidikan, serta
> kepercayaan. Bagus tuh....artinya kebebasan berpendapat yang selama 3
> dekade lebih terkungkung, sekarang sudah bisa tersalurkan. Hanya agak
> disayangkan apabila emosi sudah lebih dominan di dalam berdiskusi,
> karena sering menimbulkan debat kusir yang tidak sehat.
>
> Manurut saya sih, mbikin dugaan dugaan ya sah sah aja..
> mengemukakan argumen argumen, ya boleh boleh aja..
> menghubung hubungkan peristiwa yang satu dengan peristiwa yang lainpun
> ya monggo..
> wong namanya aja berpendapat dan bukan lagi nulis disertasi..
>
> Sayapun pengin ngasih pendapat atas pemboman masjid kita tercinta
> Istiqlal dua hari yang lalu. Memang kalau kita menanyakan siapa yang
> salah dan yang bertanggung jawab atas kejadian itu--seperti juga
> kejadian2 lainnya-- tentu kita akan sepakat mengatakan bahwa para
> pelaku dan orang2 yang ada di belakang pelaku itulah yang bertanggung
> jawab. Entah itu seorang pejabat, seorang jendral ataupun seorang
> preman, dia harus bertanggung jawab, dan kalau bisa di tangkap, di
> seret ke pengadilan dan di hukum.
>
> Setiap ada kejadian, hampir secara serempak orang akan segera
> mengatakan bahwa ada provokator di belakangnya, serta ada unsur
> kepentingan politik yang menungganginya. Dan hampir secara bersamaan
> pula orang akan mengutuk habis habisan para pelaku dan dalang dari
> peristiwa itu. Tapi apakah pelaku dan dalangnya merupakan satu satunya
> faktor yang menyebabkan peristiwa itu bisa terjadi...? saya rasa kok
> nggak bisa seperti itu.
>
> Kalau kita juga mau introspeksi diri, rasanya kita juga akan menemukan
> kesalahan pada diri kita masyarakat Indonesia. Kenapa kita terlalu
> sensitif terhadap masalah masalah yang berkaitan dengan agama..? kenapa
> kita sering terlibat pertentangan antar agama...? kenapa pula kita
> sering terjebak dalam fanatisme yang berlebihan yang sering membutakan
> kita sendiri terhadap eksistensi keberagaman di sekitar kita...?
>
> Seandainya sejak dulu kita bisa menghilangkan sifat fanatisme yang
> berlebihan dan bisa menerima realitas keberagaman sebagai bagian dari
> dinamika kehidupan, tentunya kita nggak akan gampang di pecah belah.
> Seandainya kita benar benar bisa hidup berdampingan antara penganut
> agama yang berbeda, tentunya kita nggak akan gampang di hasut.
>
> Kecenderungan kita yang terlalu fanatik terhadap agama dan kurang bisa
> menerima perbedaan itulah yang justru memberikan ruang gerak kepada
> para provokator atau apapun istilahnya untuk mempermainkan kita, dan
> memecah belah bangsa kita.
>
> Jadi dalam hal ini, kita juga punya andil dalam mengakomodasi gerakan2
> para provokator itu.
>
> Peristiwa2 seperti di Ambon, Sambas, Istiqlal dan peristiwa2 lain
> tentunya tidak akan semudah itu terjadi kalau kita bisa hidup
> berdampingan dan tidak mudah terhasut. Menyalahkan dan menuntut
> pertanggung jawaban para pelaku dan dalangnya adalah suatu keharusan
> hukum yang wajib di laksanakan. Tapi menurut saya itu tidak cukup dan
> belum bisa menjamin tidak terulangnya peristiwa2 semacam itu. Perlu
> adanya kesadaran seluruh rakyat (termasuk para kaum intelektual) untuk
> mawas diri dan mempererat persaudaraan sesama manusia. Hilangkan
> fanatisme keagamaan yang berlebihan. Fanatik boleh dalam arti untuk
> mempertinggi kualitas iman dan takwa sebagai umat beragama, tapi jangan
> di jadikan alasan untuk menjelekkan agama lain yang mengakibatkan
> pertentangan.
>
> Semoga kita semua segera sadar..
>
> ini cuman sekedar pendapat doang...kalo ada yang nggak setuju ya monggo
> aja...
>
> --- Hadeer <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > Alexander Lumbantobing,......
> >
> > Terserah anda mau menulis apa tentang dugaan-dugaan anda mengenai
> > manipulasi pidato Theo Syafei (padahal belum ada keterangan apapun
> > dari
> > kepolisian), terserah anda mau menduga-duga tentang akan adanya
> > larangan
> > ikut Pemilu bagi Golkar.
> >
> > Yang saya sangat harapkan dari Anda adalah rasa menghormati kepada
> > orang
> > yang jauh lebih tua dari anda, Bapak Achmad Sumargono. Sebutan yang
> > ada
> > tulis dibawah adalah penamaan dan julukan yang buruk kepada orang
> > yang sama
> > sekali anda tidak kenal pribadinya, ahlaknya, moralnya. Putra beliau
> > adalah
> > teman saya, dan saya mengenal dengan baik moralnya, perkataannya yang
> > baik
> > dan amanah, kelembutan dan ketegasan hati beliau Bapak Achmad
> > Sumargono.
> >
> > Anda pasti tidak akan mau nama orang tua anda dijuluki yang buruk -
> > buruk
> > oleh orang lain yang sama sekali tidak kenal dengan orang tua anda,
> > bukan
> > begitu ?
> >
> > Jadi perlihatkan dalam tulisannya anda sedikit rasa hormat -
> > menghormati ke
> > orang lain apalagi ke orang tua kita, kalau kita juga mau dihormati
> > oleh
> > anak-anak kita nantinya.
> >
> > Terimakasih
> >
> > Hadeer
> >
> > ===============================
> >
> > Alexander Lumbantobing tulis :
> >
> > Guys:
> >
> > Rupanya para pelaku keonaran di Republik Indonesia merasa geram,
> > karena
> > manipulasi pidato Theo Syafei terbukti kurang tepat guna dan kurang
> > berdaya
> > guna untuk membakar Indonesia - yang terpancing untuk marah dan
> > bergerak
> > hanyalah gerombolan kelas teri (Gogon, dkk). Karena waktunya tinggal
> > sedikit,
> > para jahanam itu langsung main kasar. Tonjok sana dan sini. Apalagi
> > ada
> > kemungkinan tersingkirnya Partai Golkar dari dunia politik resmi.
> >
> > ==============================
> <HR>
> <html><head></head><BODY bgcolor="#FFFFFF"><p><font size=2
> color="#000000" face="Arial"><br>Alexander Lumbantobing,......
> <br><br>Terserah anda mau menulis apa tentang dugaan-dugaan anda
> mengenai manipulasi pidato Theo Syafei (padahal belum ada keterangan
> apapun dari kepolisian), terserah anda mau menduga-duga tentang akan
> adanya larangan ikut Pemilu bagi Golkar.<br><br>Yang saya sangat
> harapkan dari Anda adalah rasa menghormati kepada orang yang jauh lebih
> tua dari anda, Bapak Achmad Sumargono. Sebutan yang ada tulis dibawah
> adalah penamaan dan julukan yang buruk kepada orang yang sama sekali
> anda tidak kenal pribadinya, ahlaknya, moralnya. Putra beliau adalah
> teman saya, dan saya mengenal dengan baik moralnya, perkataannya yang
> baik dan amanah, kelembutan dan ketegasan hati beliau Bapak Achmad
> Sumargono.<br><br>Anda pasti tidak akan mau nama orang tua anda
> dijuluki yang buruk - buruk oleh orang lain yang sama sekali tidak
> kenal dengan orang tua anda, bukan begitu ?<br><br>Jadi perlihatkan
> dalam tulisannya anda sedikit rasa hormat - menghormati ke orang lain
> apalagi ke orang tua kita, kalau kita juga mau dihormati oleh anak-anak
> kita nantinya.