KH Ilyas Rukhiyat:
Aparat Keamanan tidak Pernah Serius
Tasikmalaya, Kompas
Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Ilyas Rukhiyat, mengatakan, berlarut-larutnya berbagai persoalan yang terjadi di Tanah Air belakangan ini, termasuk peledakan di lantai dasar Masjid Istiqlal, akibat aparat keamanan selama ini terkesan tidak pernah serius manangani berbagai persoalan.
Lambannya cara kerja aparat keamanan, ujar Ilyas, bukan hanya membuat pelaku-pelaku ataupun provokator makin leluasa melakukan aksinya, tetapi juga membuat masyarakat makin tidak percaya. Akibatnya, masyarakat semakin mudah diprovokasi.
"Aparat keamanan selalu berkata akan segera diusut tuntas, ada provokator di balik ini dan sebagainya, namun tidak pernah benar-benar menunjukkan kepada masyarakat siapa pelakunya atau orang-orang yang dianggap sebagai provokator itu," ujarnya ketika dihubungi Kompas, Senin (19/4) malam, di Tasikmalaya.
Tentang peledakan perkantoran di Istiqlal, Ilyas Rukhiyat mengatakan, perbuatan itu sangat terkutuk dan sadis, apalagi dilakukan di tempat ibadah. "Saya sangat mengutuk pelakunya. Siapa pun orangnya, dari kelompok atau golongan mana pun harus ditindak tegas," ujar sesepuh Pondok Pesantren Cipasung ini.
Reaksi MUI
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Lampung juga mengecam tindakan peledakan tersebut. Kecaman ini disampaikan Ketua MUI Lampung, Nurvaif Chaniago, kepada pers di Bandarlampung, Selasa (20/4). Kakanwil Departemen Agama Lampung, HM Azom Romly, menyerukan seluruh umat beragama di daerah ini agar tetap tenang dan waspada.
Ketua MUI Jateng, KH Sahal Mahfudz, dalam pernyataan persnya di Semarang, juga menyesalkan perusakan di kompleks Masjid Istiqlal. Sedangkan Ketua MUI Jambi, Prof Dr H Sulaiman Abdullah mengimbau agar umat Islam tetap tawakal, sabar dan jangan sembarang menuduh.
Ketua MUI Sulsel, Sanusi Baco LC, mengimbau seluruh umat Islam di daerah itu agar tidak terpancing dengan aksi-aksi yang sengaja diciptakan oleh pihak-pihak tertentu yang tidak menghendaki negeri ini tetap aman.
Hal senada disampaikan salah seorang anggota Forum Persaudaraan Antaragama Sulsel HM Jusuf Kalla. Ia menilai, peristiwa pemboman Masjid Istiqlal bermuatan politis, bukan unsur agama.
Ujungpandang normal
Situasi Kota Ujungpandang, Selasa, kembali normal setelah Senin malam diwarnai ketegangan dan aksi pembakaran Wisma Kare di Jalan Perintis Kemerdekaan KM 10 Ujungpandang. Aksi itu merupakan reaksi spontan sekelompok massa atas pemboman Istiqlal.
Wisma Kare adalah salah satu bagian dari kompleks pendidikan yang di dalamnya terdapat gereja, sekolah taman kanak-kanak dan sekolah dasar.
Sebuah mobil Kijang yang terparkir di halaman wisma serta dua buah sepeda motor ikut habis dilalap api. Dalam peristiwa tersebut, seorang mahasiswa, Joko Soetrisno, terkena tembakan petugas di bagian pahanya, sedangkan mahasiswa lainnya cedera.
Kepala Kepolisian Kota Besar (Kapoltabes) Ujungpandang, Kolonel (Pol) Jusuf Manggabarani mengatakan, semua tempat rawan sudah dijaga. Polisi mengerahkan 12 satuan setingkat kompi (SSK) atau sekitar 1.500 personel.
Sementara itu pengamat politik Moh AS Hikam mengatakan di Surabaya, aparat keamanan harus mencari tuntas pelaku peledakan Masjid Istiqlal.
Di semarang, sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Forum Aksi Mahasiswa Indonesia (FAMI), Komando Mahasiswa Jihad Muslim Semarang (Kohamas), Lembaga Kajian Strategis dan Informatika Rakyat (Lekstra), melakukan aksi, Selasa, di Gedung DPRD Jatange di Semarang. Mereka mengecam keras tindakan pemboman ruang perkantoran di Masjid Istiqlal.
Pernyataan sama juga disampaikan mahasiswa IAIN Sulthan Thaha Syaifuddin Jambi, dan mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Kendari.
(ren/yas/zul/yul/rus/son/who/nat/arn)