Seorang pendatang baru di panggung politik Indonesia: cewek muda
berjilbab, dan cukup artikulatif mengemukakan pendapat. Zirlyrosa
Jamil namanya. Penampilannya di acara Partai-Partai Televisi
Pendidikan Indonesia (TPI), akhir Februari lalu, memukau
banyak orang. Anggota Departemen Wanita Partai Keadilan itu
menjabarkan program partainya, dengan bahasa yang tajam dan lugas.
Zirly agaknya tak hanya lihai menjabarkan program partainya. Sebagai
wanita, dia juga lihai mengartikulasikan kepeduliannya pada masalah
peran wanita dalam gelanggang kehidupan, termasuk politik. Soal peran
ganda wanita, misalnya, yang kerap diributkan kaum feminis, menurut
Zirly mestinya sudah selesai. Sebab, "Setiap orang tak hanya
punya peran ganda, tapi multiperan," katanya. Dan itu dialami semua
orang, wanita atau pria.
Namun, Zirly mengakui, kedudukan wanita di Indonesia sebagaimana
disinggung Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN), masih bias.
Disebutkan, misalnya, bahwa wanita adalah sumber insani pembangunan.
Tapi pada tingkat implementasi, kaum wanita cenderung dijadikan salah
satu sumber devisa. Produktivitas mereka lebih diarahkan pada sektor
ekonomi, misalnya sebagai buruh atau tenaga kerja wanita (TKW).
"Negara selalu bicara soal peran ganda wanita, tapi tidak memberikan
dukungan yang baik agar mereka melaksanakan perannya secara maksimal,"
ujar wanita kelahiran Sukabumi itu. Kalaupun negara mendukung atau
menyediakan media untuk memaksimalkan peran wanita, realisasinya pada
tingkat program sering keliru.
Zirly mencontohkan wadah Dharma Wanita atau Pembinaan Kesejahteraan
Keluarga (PKK). Kaum wanita memang didorong untuk aktif dan
berpartisipasi dalam pembangunan lewat dua lembaga tersebut. Namun,
kata Zirly, "Itu namanya �partisipasi seolah-olah�, karena wanita
tidak dibiarkan mandiri dalam mengangkat kepentingan mereka."
Anggapan Keliru. Dia juga melihat anggapan yang keliru dalam
memposisikan wanita dalam kancah politik. Selama ini, politik diklaim
sebagai urusan publik, sementara wanita dipersepsikan mengurusi
masalah domestik. Menurut Zirly, kesadaran wanita dalam berpolitik
tidak harus diwujudkan dengan terjun langsung ke partai politik. Yang
penting, kata ibu enam anak itu, "Kaum wanita mengerti politik, dan
menyadari hak dan kewajiban mereka sebagai wanita."
Kesadaran politik wanita saat ini masih rendah, kata Zirly lagi.
Karena itu, tugas negara adalah memberikan ruang partisipasi yang
terbuka bagi kaum wanita. Meski diposisikan sebagai ibu rumah tangga,
mereka harus sadar politik dan berperan aktif. Mereka harus memberikan
kontribusi dan melakukan kontrol kepada kekuasaan. "Itu lebih baik
ketimbang mereka menjadi kepala negara tetapi tidak bisa menjalankan
perannya secara efektif," ujar Zirly.
Karena pentingnya meningkatkan kesadaran politik wanita, istri Ahmad
Mujahid ini memahami berdirinya partai khusus wanita. Namun, Zirly
menegaskan, "Adanya partai wanita itu kurang tepat karena persoalan
yang kita hadapi tidak berjenis kelamin." Lagi pula, masyarakat tidak
tersegmentasi dalam jenis kelamin wanita dan laki-laki. "Jadi, yang
terpenting bukan partai wanita, melainkan bagaimana partai-partai yang
ada bisa mengangkat kepentingan kaum wanita."
Soal menjamurnya partai Islam, Zirly melihatnya sebagai wujud konkret
kesadaran umat Islam dalam berpolitik. "Sekarang mereka mampu
mengungkapkan identitas mereka sendiri yang dulu selalu ditekan oleh
penguasa," katanya, seraya berharap politisi Islam benar-benar
bertanggung jawab terhadap apa yang mereka lakukan, tidak hanya larut
dalam euforia politik.
Berpikir Simbolik. Zirly bisa memahami para politisi Islam yang
mendirikan partai tanpa secara eksplisit menyebutnya partai Islam.
"Itu bisa bagus karena membuka peluang bagi semua orang untuk
masuk ke partai tersebut," katanya. Tapi, dia buru-buru
menambahkan, untuk masyarakat Indonesia yang kebanyakan masih
berpikir simbolik, menyebutkan jati diri sebagai partai Islam juga
penting. Mereka akan lebih mudah bergabung dengan partai yang
secara terang-terangan menyebutkan jati dirinya.
Bagi anak pasangan Lilies Panji dan Burchazir Jamil ini, banyaknya
partai Islam merupakan kekuatan sekaligus tantangan. Tanpa dipahami
sebagai keragaman alami, pluralitas partai justru akan menimbulkan
konflik di kalangan partai Islam sendiri.
Persoalannya lagi, ujar Zirly, "Selama ini kita mudah mendapatkan
orang Islam yang saleh secara individual, tapi kita sulit menemukan
organisasi atau umat Islam yang saleh secara kolektif."
Kalau orang masih curiga terhadap partai berasaskan Islam, menurut
Zirly, itu karena masih ada Islamophobia. Mereka takut partai Islam
membuat negara Islam atau menerapkan hukum Islam di Indonesia.
"Seolah-olah, kalau Islam berkuasa, pasti melakukan tirani terhadap
agama minoritas," Zirly menegaskan. Karena itu, dia menambahkan,
partai Islam harus menunjukkan bahwa Islam bukanlah ancaman,
melainkan penebar kedamaian.
Daripada mendirikan negara Islam, menurut Zirly, para tokoh Islam
lebih baik memperjuangkan negara yang islami. "Apa gunanya negara
Islam kalau tatanan masyarakatnya tidak islami?" dia bertanya secara
retoris. Konsep negara islami lebih mudah diperjuangkan dan bisa
diterima oleh seluruh masyarakat dibanding negara Islam.
Dalam negara islami, kata dia pula, masyarakat bisa mengaktualisasikan
ajaran Islam dan toleran terhadap sistem ajaran lain. Soal pro-kontra
kepemimpinan wanita, Zirly lebih setuju dengan pendapat banyak ulama,
yang tidak merekomendasi wanita untuk jabatan kepala negara. Tapi dia
menambahkan, dalam Islam, bagaimanapun, proses pemilihan pemimpin
tetap memprioritaskan figur terbaik. "Kalau ada pemimpin pria, tapi
tidak berkualitas, sementara ada pemimpin wanita yang berkualitas,
kita tetap memilih yang wanita," katanya. Agaknya, pandangan Zirly
ini mengandung kontradiksi dalam dirinya sendiri.
Keluarga Wartawan. Meski lahir di Sukabumi, Zirlyrosa Jamil besar di
Jakarta. Ia tumbuh di tengah keluarga wartawan. Ayahnya, Burchazir
Jamil, adalah mantan wartawan Kemajuan, sementara ibunya, Lilies
Panji, masih aktif di majalah Kartini. Sebagai keluarga wartawan,
mereka terbiasa mendiskusikan berbagai persoalan sosial, termasuk
politik. Diskusi-diskusi itu rupanya membentuk minat politik Zirly,
hingga akhirnya dia memutuskan terjun langsung ke gelanggang politik.
Tapi terjun ke gelanggang politik, bagi Zirly, tak lain adalah dakwah.
Dan, sudah lama dia memimpin sebuah lembaga dakwah, yang bermarkas di
daerah Utan Kayu, Jakarta Timur. Yayasan Uswah Ummahat namanya.
Lembaga yang didirikan Zirly dan kawan-kawannya pada tahun 1993 itu
bergerak di bidang pendidikan guru taman kanak-kanak (TK) Islam,
pengajaran membaca dan menghafal Al-Qur�an, dan kursus keterampilan.
Salah satu lembaga yang berjalan secara intensif di bawah yayasan itu
adalah Ma�had Murobbiyatul Awlad (MMA). Ini lembaga pendidikan guru TK
Islam, yang kebanyakan muridnya berasal dari luar Jakarta. "Kami
sedang membangun gedung baru yang lebih representatif di Bekasi, Jawa
Barat," kata anak kedua dari empat bersaudara ini.
Demikianlah, di tengah hiruk-pikuk partai, Zirlyrosa tetap menjalankan
aktivitas dakwahnya. Dia secara rutin mengajar di MMA. Dan sebagai
aktivis partai, di musim kampanye nanti dia akan terjun ke
panggung-panggung kampanye.
Jamal D. Rahman, Hamid Abidin
Biodata
Nama :Zirlyrosa Jamil
Tempat/Tanggal Lahir :Sukabumi, 15 Juni 1965
Suami :Ahmad Mujahid
Anak :Urfi Syifa
Uswah Aqilas
Yahya Mumtazuddin
Balqis Muthi�ah
Faqih Imtiyazi
Hasan M. Al-Kayyas
Pendidikan : Fisip Universitas Indonesia (1991)
Pekerjaan :Ketua Yayasan Uswah Ummahat,Jakarta
Anggota Departemen Wanita Partai Keadilan
kutipan:
Zirlyrosa memahami berdirinya partai khusus wanita. Namun, dia
menegaskan, "Adanya partai wanita itu kurang tepat, karena persoalan
yang kita hadapi tidak berjenis kelamin."
---0*0---
Copyright � 1998 by Ummat. All rights
reserved.
WebHosting � 1998 by Insprint. All rights
reserved.
Revised: 31 March 1999.
Reply
Reply All
Forward
Delete
Previous
Next
Close
______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com