Sorry buat mbak Hadeer yg alergi sama detik.com
Jenderal Besar AH Nasution:
Reporter Nurul Hidayati
detikcom, Jakarta. Jenderal Besar
Kehormatan Abdul Haris
Nasution mengingatkan kepada segenap
komponen bangsa
untuk mewaspadai upaya balas dendam
dari PKI. Termasuk
upaya pemutarbalikan sejarah yang telah
dibuktikan oleh
pengadilan G30-S PKI.
"Saya berharap mereka (PKI) yang salah
tak balas dendam.
Karena kalau itu terjadi kian memecah
belah bangsa. Mari
kita saling memaafkan dan mengubur
tragedi bangsa. Agar
bangsa Indonesia menjadi bangsa yang
tegar," kata Pak Nas
yang dibacakan oleh sekretarisnya
Bakrie AG Tianlean, di
Hotel Regent, Jakarta,
Senin(26/4/1999). Pak Nas sendiri tak
hadir dalam acara itu. Hanya
pendapatnya yang dibacakan
oleh Bakrie.
Menurut Pak Nas, pihaknya perlu
mengemukakan hal itu
karena saat ini banyak orang yang
merasa tidak bersalah,
padahal dulunya terlibat G 30 S PKI.
Bahkan sekarang
mereka (PKI), kata Pak Nas, banyak
tampil dalam wawancara
di media massa. Hal ini akan
membahayakan bagi pola pikir
genersasi muda yang tak mengalami
peristiwa masa lalu.
Apalagi dilansir tanpa mempelajari
sejarah dulu.
Yang diduga akan melakukan balas dendam
menurut Pak
Nas, adalah dengan tampilnya Yayasan
65-66 yang terdiri
dari para eks PKI yang ingin melakukan
penelitian, bahkan
akan menuntut Jenderal Soeharto.
"Ketika Subandrio dan Oemar Dhani
dibebaskan, saya
jelaskan bahwa mereka layak dibebaskan
karena telah
menjalani hukuman 30 tahun. Ketika
Soeharto lengser, itu
harus diterima sebagai konsekuensi
kepemimpinannya
selama ini," kata Pak Nas.
Konsekuensi itu, karena Soeharto
sendiri di masa Orba
selalu mempercayai orang yang suka
menggunting dalam
lipatan dan menjauhi mereka yang
sesungguhnya berniat
baik untuk bangsa dan negara ini. "Saya
pun termasuk orang
yang diadudomba dengan Soeharto. Dulu
Bung Karno
dikelilingi Durno-Durno juga,"
tambahnya.
Meski Pak Nas berbeda dengan Soeharto
tapi tak bisa
memvonis perbuatan Soeharto semuanya
salah. "Misalnya
saya benarkan tindakan Soeharto
bubarkan PKI 12 Meret
1966. Walau tindakan itu disalahkan
oleh Soekarno karena
SP 11 Maret menurut Bung Karno adalah
teknik keamanan
bukan untuk tindakan politik
membubarkan PKI. Akibatnya
timbul ketegangan antara AD dan
pimpinan angkatan yang
lain."
Pak Nas lantas menjelaskan bila ingin
aman, maka PKI harus
dibubarkan. Itu terugkap dalam
pertemuan tanggal 14 Maret
pukul 02.00 dini hari. Pertemuan itu
memang dihadiri
berbagai angkatan, kacuali Auri karena
tidak kami libatkan.
"Tapi saya pernah memanggil marsekal
Rusmin Nurjadin
(Deputi Pangau), sebab waktu itu Pangau
Sri Mulyono
Herlambang kedudukannya pada 30
September 1965 adalah
deputy operasi Menpangau Oemar Dhani.
Diakui oleh Pak Nas, selama pemutaran
G30S PKI banyak
keluhan dari senior Auri. "Saya
mendorong pelurusan
peristiwa sejarah di masa itu. Tapi tak
berarti menyalahkan
sesuatu yang seungguhnya terjadi,"
tambahnya. Ditegaskan,
bahwa Auri secara organisatoris tak
terlibat, tapi oknum
pimpinan Auri saat itu sangat berperan.
Dia juga menjelaskan tiga tahapan
perjuangan PKI . Pertama,
membentuk kader dan pimpinan partai.
Setelah mempunyai
posisi penting di tubuh partai
melakuakn penetrasi terhadap
lembaga startegis, misalnya
pemerintahan, ABRI, pers,
lembaga pendidikan, orsospol/ormas.
Kemudian memobilisir
gerakan-gerakan, misalnya mahasiswa
pemuda, tani, buruh.
Langkah kedua, melakukan perlawanan
sporadis
(kecil-kecilan). Untuk menjatuhkan
wibawa TNI dan
pemerintah. Contohnya, kasus Jengkol
Indramayu, Kanigoro,
Bandar Betsy, dan sebagainya.
Sedang tahap ketiga, pemberontakan atau
pukulan yang
menentukan. Misalnya pemberontakan
Madiun (Madiun
Affair). Pada saat pemberntokan Madiun,
kata Pak Nas,
Presiden Soekarno menyalahkan gerakan
komunis itu.
"Namun saat peritiwa G30S PKI, Pak
Karno masih membela
PKI."
Pada umumnya pihak mereka, menurut Pak
Nas memiliki dua
versi sejarah. Pertama, PKI tidak
terlibat melainkan karena
konflik internal AD. Sehingga jelas
aparat penegak hukum
sulit memerika kejadian tahun 1965.
Selain itu dikarenakan
aparat kehakiman dan intel masih
dikuasai orang-orang PKI
yang berusaha menutupi peranan tokoh
PKI.
Versi kedua, mereka (PKI) menujuk
Amerika lah yang
mendorong melalui pancingan. Mereka
enganggap Indonesia
tak punya pejuang patriot dan
mengatakan sebagai antek
asing. "Pandangan itu saya anggap
lelucon," tambah Pak
Nas. Sayang, kata Pak Nas, di masa Orba
banyak yang
tertarik Indonesia dri orang asing yang
mengutip sumber
yang tidak akurat.
Hak Cipta � detikcom Digital
Life 1999
--
\\\|///
\\ - - //
( @ @ )
------------oOOo-(_)-oOOo-----------
FNU Brawijaya
Dept of Civil Engineering
Rensselaer Polytechnic Institute
mailto:[EMAIL PROTECTED]
--------------------Oooo------------
oooO ( )
( ) ) /
\ ( (_/
\_)