Saya forwardkan salah satu email yg saya terima. Sengaja dalam bentuk
cut & paste untuk jaga-jaga jangan sampe kena tegor membeberkan buah
pikiran orang ke orang yg nggak dikehendaki. Maklum cak....

Saya sendiri kok belum baca beritanya di koran ya? Apa saya kuper?


'---------------------
Buntut dari konflik internal yang cukup keras di dalam DPP PDI-P, hingga
tanggal 6 kemarin, daftar caleg DPR-RI yang bisa diserahkan oleh DPP
PDI-P  ke KPU hanya berjumlah 164 orang. Jumlah sebanyak itu, datang
hanya dari 10  propinsi. Artinya, PDI-P hanya akan memiliki wakilnya di
DPR-RI dari 10 propinsi itu. Jika katakanlah di 10 propinsi itu Mega bisa
meraih suara  hingga 25%, maka PDI-P akan mendapatkan 41 wakil di DPR-RI,
yang berarti  hanya sekitar 10% secara nasional.

Hingga kemarin, saya mendengar wakil PDI-P di KPU masih terus melakukan
lobi agar diberi kesempatan untuk menambah daftar calegnya. Upaya itu
katanya ditentang keras oleh partai-partai lain, karena batas waktu
penyerahan  daftar caleg sudah merupakan kesepatakan bersama.

Jika KPU tidak meluluskan keinginan PDI-P untuk menambah daftar
calegnya,  maka PDI-P akan kesulitan dalam memperjuangkan Mega untuk
menduduki kursi  RI-1. Ini artinya, Mega kalah sebelum bertanding.

Ketika saya baca hari di detik.com, Dawam Rahardjo (ketua DPP PAN)
mengatakan bahwa koalisi PAN dan PDI-P sulit diwujudkan (sehari
sebelumnya, kawan saya yang di DPP PAN, yang nada-nadanya  kurang suka
dengan koalisi PAN dan PDI-P, terdengar begitu antusias ketika berdiskusi
dengan saya lewat telephone mengenai kesulitan PDI-P dalam menyerahkan
daftar caleg ke KPU  itu). Mungkin, ini pendapat saya, ada kaitan yang
erat antara komentar Dawam  hari ini dengan kondisi PDI-P. Dengan kondisi
PDI-P yang seperti itu, PAN  tidak mungkin mengharapkan dukungan dari
PDI-P yang hanya akan memiliki 10% suara di DPR-RI. Sehingga jauh-jauh
hari PAN sudah mengumumkan untuk tidak  akan berkoalisi dengan Mega.
Ujung-ujungnya, PAN ingin menarik simpati dari  partai Islam dan
berkoalisi dengan partai-partai Islam, seperti PK, PPP, dan  PBB. Hal ini
karena, faktor Mega adalah faktor pengganjal dukungan partai  Islam
kepada Amien sekarang ini. Jika Amien menegaskan dirinya tidak akan
berkoalisi dengan Mega, maka kemungkinan besar Amien bisa kembali
mendapatkan simpati yang luas dari para aktifis Islam yang ada di
partai-partai Islam (simpati itu sempat menghilang ketika Amien
menyatakan  akan berkoalisi dengan Mega). Apalagi orang-orang KAHMI
(silahkan baca di detik.com) kelihatannya sedang merekayasa opini dengan
memunculkan  kemungkinan duet Amien-Akbar.

Jika gerpol-nya KAHMI membawa hasil, kemungkinan akan ada koalisi yang
menarik antara PAN, partai-2 Islam, dan Golkar (bisa lewat justifikasi
bahwa  Golkar sekarang lebih reformis seperti kata Cak Nur di detik.com,
atau lewat jaringan HMI tadi, dengan catatan koalisinya adalah koalisi
dengan jaminan  individu Amien-Akbar) melawan PKB-PDIP-ABRI (ABRI sudah
mendapat kursi  gratis di DPR-RI sebanyak 8%). PKB akan sulit berkoalisi
dengan PAN (apalagi  mendukung Amien for president) karena faktor
NU-Muhammadiyah. Tentara juga tidak mungkin berkoalisi dengan PAN karena
faktor Soeharto dan faktor  pertentangan soal dwi-fungsi ABRI. Sedang
PDIP bisa ke sana ke mari, bisa ke  PAN, bisa ke PKB-ABRI.

Kelompok central koalisi pasca pemilu mendatang kelihatannya PAN-Partai
Islam vs ABRI-PKB. Golkar bisa bergabung ke ABRI (faktor Habibie) bisa
ke  PAN (faktor HMI). Demikian juga dengan PDIP yang bisa ke PAN bisa ke
PKB.

Pendapat saya memang berbeda dengan harapan orang-orang Habibie, yang
menginginkan Golkar-Partai Islam menjadi kelompok utama koalisi. Menurut
saya, jika Golkar dalam satu koalisi dengan Partai-partai Islam, maka
faktor  perekatnya adalah PAN. Jika Golkar-Partai Islam bisa menjadi satu
kelompok  utama koalisi, maka itu adalah keberhasilan Habibie sebagai
faktor perekat.  Tidak ada faktor perekat secara langsung antara Partai
Islam dengan Golkar.

Kembali ke soal PDIP dan PAN, dengan kondisi PDIP sekarang ini yang hanya
memiliki 164 caleg dari 10 propinsi, maka kalau Amien mau jadi presiden,
nampaknya memang dia harus mempertimbangkan partai-partai islam dan
faktor Golkar, yang diperkirakan masih bisa merebut hingga 20-30% suara.
(Apalagi  Amien selama ini tidak pernah mengharamkan 100% koalisi
PAN-Golkar. PAN bisa berkoalisi dengan Golkar dengan syarat ... demikian
yang selalu dikatakan  Amien).

Jadi, Anda yang ingin melihat Golkar tumbang bersiaplah untuk kecewa

Semakin mendekati pemilu, teka-tekinya semakin runyam :

--
Salam,
Jaya


--> I disapprove of what you say, but I will
    defend to death your right to say it. - Voltaire

               \\\|///
             \\  - -  //
              (  @ @  )
------------oOOo-(_)-oOOo-----------
FNU Brawijaya
Dept of Civil Engineering
Rensselaer Polytechnic Institute
mailto:[EMAIL PROTECTED]
--------------------Oooo------------
           oooO     (   )
          (   )      ) /
           \ (      (_/
            \_)

Kirim email ke