Di koran sudah ada bahkan sempat dijawab oleh salah satu ketua PDIP. Saya
pribadi menganggap bahwa setiap partai masih memiliki banyak kelemahan.
Karena itulah perlu adanya koordinasi buat pihak-pihak yang menginginkan
Indonesia menjadi bangsa yang besar dan beradab. Kalau buat kelompok yang
hanya memanfaatkan kondisi ini untuk kelanggengan kekuasaannya dan meneruskan
akumulasi tabungannya, usulan untuk bersatu enggak perlu diserukan, mereka
sudah mampu bertindak rasional dan bersatu padu untuk melawan kaum reformis
:).
Saya merasa banyak partai memiliki orang pandai dan penuh idealisme,
sayangnya terjebak oleh fanatisme partai ataupun agama, sehingga lupa akan
esensi mereka dalam membentuk partai politik, yaitu membela rakyat dan
memperjuangkan bangsa ini menjadi bangsa yang terhormat. Saya, seperti
teman-teman sekalian akan tetap memilih partai yang terbaik didalam pikiran
kita. Namun yang terpenting, saya pribadi akan tetap membela siapapun yang
ingin memperjuangkan nasib rakyat ini dan dengan tulus mau menjadikan bangsa
ini menjadi bangsa yang besar dan terhormat.
Buah pikiran ini saya tujukan kepada teman-teman yang sepikiran, apapun
partai anda, untuk tetap ikut menjaga agar rakyat kita menjadi sejahtera dan
bangsa kita benar-benar ternama.
Beginilah pikiran saya yang masih keroco dan bukan pejabat ini.

peace,
Blucer

FNU Brawijaya wrote:

> Saya forwardkan salah satu email yg saya terima. Sengaja dalam bentuk
> cut & paste untuk jaga-jaga jangan sampe kena tegor membeberkan buah
> pikiran orang ke orang yg nggak dikehendaki. Maklum cak....
>
> Saya sendiri kok belum baca beritanya di koran ya? Apa saya kuper?
>
> '---------------------
> Buntut dari konflik internal yang cukup keras di dalam DPP PDI-P, hingga
> tanggal 6 kemarin, daftar caleg DPR-RI yang bisa diserahkan oleh DPP
> PDI-P  ke KPU hanya berjumlah 164 orang. Jumlah sebanyak itu, datang
> hanya dari 10  propinsi. Artinya, PDI-P hanya akan memiliki wakilnya di
> DPR-RI dari 10 propinsi itu. Jika katakanlah di 10 propinsi itu Mega bisa
> meraih suara  hingga 25%, maka PDI-P akan mendapatkan 41 wakil di DPR-RI,
> yang berarti  hanya sekitar 10% secara nasional.
>
> Hingga kemarin, saya mendengar wakil PDI-P di KPU masih terus melakukan
> lobi agar diberi kesempatan untuk menambah daftar calegnya. Upaya itu
> katanya ditentang keras oleh partai-partai lain, karena batas waktu
> penyerahan  daftar caleg sudah merupakan kesepatakan bersama.
>
> Jika KPU tidak meluluskan keinginan PDI-P untuk menambah daftar
> calegnya,  maka PDI-P akan kesulitan dalam memperjuangkan Mega untuk
> menduduki kursi  RI-1. Ini artinya, Mega kalah sebelum bertanding.
>
> Ketika saya baca hari di detik.com, Dawam Rahardjo (ketua DPP PAN)
> mengatakan bahwa koalisi PAN dan PDI-P sulit diwujudkan (sehari
> sebelumnya, kawan saya yang di DPP PAN, yang nada-nadanya  kurang suka
> dengan koalisi PAN dan PDI-P, terdengar begitu antusias ketika berdiskusi
> dengan saya lewat telephone mengenai kesulitan PDI-P dalam menyerahkan
> daftar caleg ke KPU  itu). Mungkin, ini pendapat saya, ada kaitan yang
> erat antara komentar Dawam  hari ini dengan kondisi PDI-P. Dengan kondisi
> PDI-P yang seperti itu, PAN  tidak mungkin mengharapkan dukungan dari
> PDI-P yang hanya akan memiliki 10% suara di DPR-RI. Sehingga jauh-jauh
> hari PAN sudah mengumumkan untuk tidak  akan berkoalisi dengan Mega.
> Ujung-ujungnya, PAN ingin menarik simpati dari  partai Islam dan
> berkoalisi dengan partai-partai Islam, seperti PK, PPP, dan  PBB. Hal ini
> karena, faktor Mega adalah faktor pengganjal dukungan partai  Islam
> kepada Amien sekarang ini. Jika Amien menegaskan dirinya tidak akan
> berkoalisi dengan Mega, maka kemungkinan besar Amien bisa kembali
> mendapatkan simpati yang luas dari para aktifis Islam yang ada di
> partai-partai Islam (simpati itu sempat menghilang ketika Amien
> menyatakan  akan berkoalisi dengan Mega). Apalagi orang-orang KAHMI
> (silahkan baca di detik.com) kelihatannya sedang merekayasa opini dengan
> memunculkan  kemungkinan duet Amien-Akbar.
>
> Jika gerpol-nya KAHMI membawa hasil, kemungkinan akan ada koalisi yang
> menarik antara PAN, partai-2 Islam, dan Golkar (bisa lewat justifikasi
> bahwa  Golkar sekarang lebih reformis seperti kata Cak Nur di detik.com,
> atau lewat jaringan HMI tadi, dengan catatan koalisinya adalah koalisi
> dengan jaminan  individu Amien-Akbar) melawan PKB-PDIP-ABRI (ABRI sudah
> mendapat kursi  gratis di DPR-RI sebanyak 8%). PKB akan sulit berkoalisi
> dengan PAN (apalagi  mendukung Amien for president) karena faktor
> NU-Muhammadiyah. Tentara juga tidak mungkin berkoalisi dengan PAN karena
> faktor Soeharto dan faktor  pertentangan soal dwi-fungsi ABRI. Sedang
> PDIP bisa ke sana ke mari, bisa ke  PAN, bisa ke PKB-ABRI.
>
> Kelompok central koalisi pasca pemilu mendatang kelihatannya PAN-Partai
> Islam vs ABRI-PKB. Golkar bisa bergabung ke ABRI (faktor Habibie) bisa
> ke  PAN (faktor HMI). Demikian juga dengan PDIP yang bisa ke PAN bisa ke
> PKB.
>
> Pendapat saya memang berbeda dengan harapan orang-orang Habibie, yang
> menginginkan Golkar-Partai Islam menjadi kelompok utama koalisi. Menurut
> saya, jika Golkar dalam satu koalisi dengan Partai-partai Islam, maka
> faktor  perekatnya adalah PAN. Jika Golkar-Partai Islam bisa menjadi satu
> kelompok  utama koalisi, maka itu adalah keberhasilan Habibie sebagai
> faktor perekat.  Tidak ada faktor perekat secara langsung antara Partai
> Islam dengan Golkar.
>
> Kembali ke soal PDIP dan PAN, dengan kondisi PDIP sekarang ini yang hanya
> memiliki 164 caleg dari 10 propinsi, maka kalau Amien mau jadi presiden,
> nampaknya memang dia harus mempertimbangkan partai-partai islam dan
> faktor Golkar, yang diperkirakan masih bisa merebut hingga 20-30% suara.
> (Apalagi  Amien selama ini tidak pernah mengharamkan 100% koalisi
> PAN-Golkar. PAN bisa berkoalisi dengan Golkar dengan syarat ... demikian
> yang selalu dikatakan  Amien).
>
> Jadi, Anda yang ingin melihat Golkar tumbang bersiaplah untuk kecewa
>
> Semakin mendekati pemilu, teka-tekinya semakin runyam :
>
> --
> Salam,
> Jaya
>
> --> I disapprove of what you say, but I will
>     defend to death your right to say it. - Voltaire
>
>                \\\|///
>              \\  - -  //
>               (  @ @  )
> ------------oOOo-(_)-oOOo-----------
> FNU Brawijaya
> Dept of Civil Engineering
> Rensselaer Polytechnic Institute
> mailto:[EMAIL PROTECTED]
> --------------------Oooo------------
>            oooO     (   )
>           (   )      ) /
>            \ (      (_/
>             \_)

Kirim email ke