Dear Permias,

Seperti yang saya janjikan bahwa saya akan coba membuka diskusi tentang
SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL.
Awalnya saya hendak membuat kelompok diskusi kecil, namun nampak tak adil
bagi sebagian rekan-rekan yang ingin juga mengetahui jalannya diskusi kita.
Tulisan Bang Nasrullah dan Bang Blucer bisa kita jadikan titik tolak diskusi
kita.

Akan saya label session ini sebagai ELEMENTS OF EDUCATIONAL SYSTEM

A. Waktu
B. ...
_____

Saya salut dengan tinjuan komprehensive penggunaan waktu yang diajukan oleh
Bang Acu. Dan nampaknya disetujui pula oleh Bang Blucher.
Pertanyaan: apakah waktu or panjang pendeknya masa pendidikan merupakan
faktor krusial dalam menentukan usaha peningkatan kualitas pendidikan
nasional kita? Apa kriteria kualitas yang Bung Acu gunakan di sini? Adakah
parameter lain yang dibisa diajukan untuk mendukung argument penggunaan
WAKTU (masa pendidikan-red)?

Saya berpikir bahwa mungkin ada faedahnya mempertimbangkan daya serap
mahasiswa, kualitas pelajaran yang disajikan, kuantitas course load,
application ilmu-ilmu yang disodorkan - untuk applied and natural science
and pengembangan level of analysis untuk social science and liberal art.
Apakah faktor-faktor ini memiliki korelasi dengan penggunaan waktu?


thank you,

ida
>From: Blucer Rajagukguk <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: Indonesian Students in the US <[EMAIL PROTECTED]>
>To: [EMAIL PROTECTED]
>Subject: Re: Hemat Waktu sampai 50 Persen untuk Jadi Insinyur
>Date: Mon, 10 May 1999 21:41:42 -0500
>
>Pemikiran bung Acu ini seirama dengan pikiran saya mengenai hemat waktu
>menjadi
>akuntan buat siswa di STAN. Banyak sekali waktu yang terbuang untuk siswa
>secara
>individu yang juga mengurangi kemampuan negara untuk lebih produktif.
>Untuk siswa yang cerdas dan mampu menyelesaikan studai lebih cepat, perlu
>dioptimalkan sarananya oleh pemerintah dan swasta.
>
>Nasrullah Idris wrote:
>
> > Rekan-Rekan Yth :
> > ------------------------
> >      Dengan ini saya lampirkan sebuah hasil pengkajian saya : "Hemat
>Waktu
> > sampai 50 Persen untuk Jadi Insinyur" di bawah ini. Mohon dengan sangat,
> > agar makalah ini diforwardkan kepada lembaga/PT/badan yang
>berkepentingan.
> >      Tujuan saya membuat ini antara lain untuk menghadapi era
>globalisasi di
> > mana kompetisi teknologi tidak hanya mengandalkan "kualitas teknologi"
>dan
> > "re teknologi", juga "speed teknologi" dan "disain teknologi".
> >      Hanya perlu diketahui bahwa makalah di bawah ini sifatnya
> > "inspirasional", bukan "operasional".
> >      Atas bantuan rekan-rekan, saya mengucapkan banyak terima kasih.
> >
> > Salam,
> >
> > Nasrullah Idris
> > -------------------
> > Bidang Studi : Reformasi Sains/Matematika/Teknologi
> >
> > HEMAT WAKTU SAMPAI 50 PERSEN UNTUK JADI INSINYUR
> >
>----------------------------------------------------------------------------
> >
> > Oleh : Nasrullah Idris
> >
> > PEMBUKAAN
> > --------------------
> >
> >       ALASAN  saya  menulis ini berhubung sebentar lagi kita  akan
>memasuki
> > era  perdagangan  bebas  dalam  skop global. Bangsa Indonesia  dari
> > berbagai  segmen  profesi dan kedisiplinan ilmu mau  tidak mau akan
> > dihadapkan pada persaingan ketat sesuai bidangnya masing-masing.
> >        Secara logika, untuk mengantisipasinya diperlukan antara lain
> > teknolog yang  juga mempunyai daya saing, syukur-syukur berada di atas
> > rata-rata sesamanya. Ini  bila kita nanti masih ingin menjadi tuan rumah
>di
> > negeri sendiri.
> >        Rasanya  siapa pun akan merasa sedih, perih, malah sakit bila
>orang
> > asing  sampai  berperan  lebih  besar. Nah ... mumpung  belum  terlanjur
> > begitu  jauh,  siapkanlah segala bentuk antisipasinya sejak dini.
> >        Adanya goncangan krismon yang tidak terduga hendaknya membuat
>kita
> > semakin  menyadari   akan  pentingnya  persiapan  tersebut,  yakni
>teknolog
> > yang   bisa  berkompetisi  dalam  skop  internasional. Sekaligus
>dijadikan
> > pelajaran  untuk  mewaspadai  berbagai  kemungkinan  yang  bakal
>terjadi
> > pada  era   perdagangan  tersebut, terutama yang sampai kini belum
> > terpantau.
> >        Tentu saja untuk membentuk semacam itu berarti mengajak
>putra-putra
> > bangsa  ini untuk berkompetisi dengan semua bangsa lain dalam hal
> > mencari/mendalami ilmu  : kualitas, efisiensi, efektivitas, maupun
> > kuantitasnya.
> >        Berikut  ini  akan disampaikan sejumlah macam solusinya.  Namun
>akan
> > saya  batasi dengan teknologi. Untuk bidang lainnya saya persilahkan
>kepada
> > siapa  pun  yang berminat untuk mengupasnya.
> >
> > CARA I
> >
> > ----------
> >
> >        Taroklah standar waktu minimal untuk menjadi insinyur di
>Indonesia
> > sekitar  4,5 tahun, walaupun dalam prakteknya sebagian  besar baru
> > menyelesaikannya lebih dari itu.
> >        Sebagaimana  teknologi yang selalu mengalami dinamika proses
>nilai
> > tambah  efisiensi/efektivitas,  apa  salahnya itu berlaku pula  dalam
> > Peruruan  Tinggi,  khususnya  bidang  tehnologi. Misalkan, bagaimana
>hanya
> > dalam 2,25  tahun  saja,  wawasan  mahasiswa  sudah  ekuivalen   dengan
> > wawasan  seorang  insinyur   yang  diidealkan berdasarkan kurikulum
>Peruruan
> > Tinggi di Indonesia.
> >        Berarti  ia  telah menghemat waktu sampai 50 persen dalam  proses
> > belajar.  Taroklah  sisa waktunya dipakai belajar dengan pola yang sama,
> > maka saat  wisuda  pada 4,5 tahun kemudian, kualitas insinyurnya menjadi
>dua
> > kali lipat.
> >        Apakah bisa? Saya berani mengatakan : "Bisa!"
> >        Esensi pemikiran saya adalah mengajak/memotivasi mahasiswa
>mempunyai
> > obsesi  untuk berwawasan teknologi dengan substansi lebih dari yang
> > diidealkan tersebut.
> >        Namun mohon tidak terperangkap dengan istilah 50 persen. Itu
>hanya
> > patokan  saya saja. Tetapi ya syukur-syukur bisa terwujud.  Malah lebih
>dari
> > itu.
> >        Mau  berapa  persen  pun  silakan  saja.  Toh  setiap  mahasiswa
> > mempunyai  kemampuan berlainan dalam menyerap ilmu dalam kurun waktu
>yang
> > sama.
> >        Ilustrasinya begini :
> >        Anggaplah  masa  kuliah dengan "disket 1,4 MB".  Sedangkan
>satuan
> > ilmunya  dengan  file "animasi". Bila diisi dengan format *.BMP @ 35 KB,
> > total yang  bisa  masuk  hanya  40  file. Tetapi kalau dikonversikan ke
> > format  *.JPG  @  17,5  KB  menjadi 80 file.
> >        Berarti penghematan 50 persen, bukan?
> >        Kita ambil contoh ilustrasi lainnya dari anak-anak.
> >        Taroklah  kita  menemukan  suatu jenis batu di  Amerika  Serikat,
> > yang  di  Indonesia hampir tidak ditemukan.
> >        Ketika  pulang  ke tanah air, tanyakanlah kepada bocah kelas I
>SD,
> > "Kalau  batu  ini  dilemparkan ke kepalamu, bagaimana rasanya?". "Ya
> > ...sakit,  dong!",  begitulah jawabannya. Bisa kita perkirakan dengan
>mudah.
> >        Nah ... apa yang menjadi patokannya, sehingga si anak bisa
> > menyimpulkan  demikian? Padahal melihat batu itu pun belum  pernah.
> >       Jawabannya  tentu  saja  berdasarkan sifat  batu  yang  mungkin
> > pernah  ditemuinya  di  mana  ketika menimpa kepala,  yang  bersangkutan
> > merasa  sakit.  Terlebih kalau itu dialaminya sendiri.
> >        Apakah  untuk  menjawabnya,  ia  harus menanyakan  dulu  kepada
>guru
> > atau  orangtuanya? Jelas tidak perlu.
> >        Malah  ia pun akan bisa menjawab pertanyaan, "Bagaimana sifat
>batu
> > ini?",  dengan jawaban, "Keras!", walaupun tidak dirabanya.
> >        Taroklah  kita  membawa 100 macam batu langka, ia pun tetap  bisa
> > menjawab  untuk pertanyaan yang sama. Berarti kan ia     mempunyai
>tambahan
> > 100 macam ilmu  dalam tempo   singkat hanya
> > dengan pengalaman dari beberapa sifat batu yang sering  ditemuinya.
> >        Jadi  esensin tersebut,  bagaimana  cerita si anak  bisa
> > ditransformasikan/ diimplementasikan  dalam  Perguruan Tinggi? Khususnya
> > dalam upaya penghematan waktu secara maksimal  untuk  menjadi insinyur.
> >        Amatilah sepuluh atom pertama dalam sistim periodik di bawah ini
>:
> >        Hidrogen  (H), Helium (H), Lithium (Li), Berilium (Be), Boron
>(B),
> > Carbon  (C), Nitorgen (N), Oksigen (O), Flour (F), dan Neon (Ne)
> >         Nah ... bagaimana dengan hanya mempelajari ini saja,  mahasiswa
> > memahami sifat seluruh jenis atom tentang fenomena  fisika  tertentu.
> > Sehingga  kalau  ditanyai  hal  serupa untuk atom  berikutnya  :
>Natrium
> > (Na),  Magnesium  (Mg),  sampai Hahnium (Ha), ia bisa menjelaskan dengan
> > mengacu  pada  sepuluh jenis atom pertama.
> >        Taroklah  waktu  mempelajari  setiap atom adalah 2  jam.  Berarti
> > semuanya  menghabiskan 20 jam.
> >        Tetapi  karena dipahami secara tuntas/dalam, maka untuk
>mempelajari
> > sifat  seratus jenis atom lebih itu tentang fenomena tersebut, cukup
>dengan
> > seratus jam  saja. Berarti bisa menghemat waktu sampai 50 persen.
> >        Tentu  saja harus dijawab dulu pertanyaan : Bagaimana koefisien
>sifat
> > pada  10  atom  pertama  terhadap fenomena tersebut  dari  aspek
> > hitungannya?  Apakah  berirama bak deret bilangan beraturan (1, 4, 7,
>11,
> > 15, 19, dst) atau berantakan  bak deret bilangan prima (2, 3, 5. 7, 11,
>dst)
> >        Sedangkan untuk Kimia, ilustrasinya busa kita ambil contoh :
>Metana
> > (CH4), Etana (C2H6), dan Propana (C3H8).
> >        Nah  ...  bagaimana dengan modal mempelajari tiga macam ini
>saja,
> > seperti  elastisitasnya,  sehingga  untuk memahami/memperdiksi
>hidrokarbon
> > tingkat  yang  keempat  dan seterusnya, mahasiswa tidak perlu lagi
>terlalu
> > memeras  otak,  yang  gilirannya bisa menghemat waktu.
> >
> > CARA II
> >
> > -----------
> >
> >        Meningkatkan  kualitas  insinyur pun bisa juga  dilakukan  dengan
> > memahami  sebagian  kecil  kurikulum secara tuntas.      Misalkan Polan
> > memperoleh  paket  pelajaran "A1, A2, A3, A4"  sampai  "Z1, Z2, Z3, Z4".
> > Berarti 26 ilmu. Khusus untuk paket "M1, M2,  M3,  M4"  dipelajari
>secara
> > mendalam. Selebihnya sepintas saja.
> >        Karena  ia  memahami  "M1,  M2, M3, M4"  secara  tuntas,  ia  pun
> > berhasil  melakukan hubungan relationis secara interen pada "M1, M2, M3,
>dan
> > M4"  sehingga  menghasilkan  "4  faktorial ilmu", yaitu 1 x 2 x 3 x 4
>ilmu =
> > 24  ilmu,  seperti  "M1, M3, M2, M4" dan "M4, M2, M3, M1".
> >        Karena  semakin  didalami, muncul pula  inisiatif
>mengkombinasikan
> > antara  sejumlah ilmu, seperti "M1, M3, M2, M4" "M1, M2, M3, M4", dan
>"M4,
> > M2, M3, M1"
> >        Bisa  dibayangkan berapa banyaknya produktivitas ilmu u dari
>hasil
> > rekayasa  otaknya.
> >        Berarti  semakin  besarlah peluang untuk menyeleksi, mana  saja
>ilmu
> > yang  sesuai  dengan  selera  manusia, serta bisa bersaing  dengan
>mereka
> > yang  cara  belajarnya  menggunakan cara yang sama.      Rasanya akan
> > semakin  dahsyat  lagi  produktivitasnya bila ia terkonsentrasi total
>pada
> > "M1, M2, M3, M4".
> >        Coba  bayangkan.  Bagaimana pula jika ia tidak   mendalaminya
> > sedikit  pun.  Tentu 26 ilmu itu tidak lebih dari sekedar mekanisme
>simbol
> > tanpa makna.
> >        Mari kita kembali pada masalah "M1, M2, M3, M4".
> >        Bagaimana  ilmu itu merupakan ilustrasi dari "elektron"? Berarti
> > mahasiswa  itu mendalami elektron dalam rangka memahami sifatnya pada
> > berbagai situasi  dan  kondisi. Sekaligus akan membuat pemikirannya
>seputar
> > elektron semakin fleksibel.
> >        Sehingga mudahlah baginya mengatasi hambatan/membuat terobosan
>bidang
> > tehnis pada produk elektronika.
> >        Sosok  seperti  itu tidak hanya bisa menjawab  seputar
>pertanyaan
> > seperti  :"Bagaimana  sifat  material a, b, c, atau ....      dalam
> > elektronika?",  juga  "Bagaimana  dengan material yang mempunyai sifat
>x1,
> > x2, x3, dst,  serta  diolah  dengan cara y1,y2, y3, dst, dengan sarana
>z1,
> > z2, z3, dst, pada situasi u1,  u2,  u3, dst,  bisa menghasilkan produk
> > elektronika yang ber v1, v2, v3, dst, dengan harga jual  w1, w2, w3,
>atau
> > ...."
> >        Taroklah  berakhir  dengan  jawaban, "Tidak bisa".  Mereka  pun
>akan
> > bisa  merangkang, "Mengapa ....?", dengan jawaban, "Karena   ...." atau
> > "Akibat .....", berdasarkan berbagai rumus perhitungan yang terkait.
> > Akhirnya terciptalah pengertian ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan.
> >        Dampak  pemahaman  teknologi  secara  tuntas  terhadap  ekonomi
>bisa
> > kita  ilustrasikan dengan "web siter", yaitu mereka yang ahli  dalam
> > pembuatan homepage.
> >        Coba  kita renungkan, bagaimana kalau ia tidak memahami tag
>secara
> > tuntas.  Misalkan  fungsi <TABLE BORDER = "a"> tidak masuk dalam
>otaknya.
> > Walaupun  hanya  satu  macam  tag  saja ... tetapi bisa menjadi batu
> > sandungan  dalam  pembuatan  sebuah web page.
> >        Bagaimana  pula kalau web page itu merupakan pesanan di mana
>pemesan
> > ingin  agar muncul gambar kotak pada layar monitor? Wah peluang bisnis
>pun
> > bisa menjadi  gagal. Soalnya konsumen tidak mau menerimanya.
> >        Taroklah pesanan itu mempunyai nilai proyek sampai Rp. 1 Milyar.
> > Sementara  tidak ada satu web site di tanah air pun bisa melakukannya?
> > Jangan heranlah bila  diambil alih web siter asing.
> >        Nah  ...  marilah kita larikan pada insinyur di mana di
>kampusnya
> > belajar  tentang  busi.  Apa  jadinya bila ia tidak memahami masalah
>busi
> > motor  secara  tuntas.  Artinya, ada satu faktor yang tidak masuk dalam
> > otaknya, yaitu  akurasi  kelengkungan pada salah satu bagian dari
>permukaan
> > onderdil tersebut.
> >        Bukankah  ia  akan mengalami kendala untuk  memproduksinya,
>walaupun
> > ilmu  tentang  busi sudah banyak dikuasainya. Walaupun bisa dipakai
>juga,
> > tetapi  dari  segi  kualitas  akan  kalah bersaing dengan busi yang
> > tercipta  dari  rancangan  insinyur yang berpikir tuntas.
> >        Celakanya  kalau semua insinyur kita seperti itu. Ya ...
>terpaksalah
> > busi  harus diimpor.
> >        Itu  baru  satu  onderdil. Bagaimana pula kalau  hal  serupa
>terjadi
> > pada  onderdil untuk produk lainnya : komputer, kulkas,  sampai traktor.
> > Tentu ya ... harus impor juga kan.
> >        Karena terus impor akhirnya ya ... ikut mempengaruhi mata rupiah.
> >        Jadi kalau mau bersaing di bidang produk, teknolog dituntut harus
> > bersaing  pula   dalam  pemahaman  proses  kehadirannya.  Termasuk
> > bagaimana   interaksi  molekulnya  terhadap  lingkungan  sekitarnya :
> > tekanan,  suhu,  gerakan,  udara,  sampai  sentuhan. Malah ketika sudah
> > berbentuk pun, ia harus pun  bisa  bersaing  dalam hal memahami berbagai
> > sifatnya di kemudian hari, seperti struktur molekul,  karakter  tangan
> > manusia, dan gravitasi bumi. Tiada lain agar bisa  diperkirakan  akan
>daya
> > tahannya  sehingga.  Bukankah  ini  gilirannya  sangat   menentukan
> > permintaan pasar?
> >        Miriplah  dengan web siter saat membuat web page untuk homepage.
>Ia
> > sudah  bisa  membayangkan  tentang penulisan source HTML-nya setiap
>kali
> > ada  pesanan  dengan faktor kesulitan dan nilai keindahan bagaimana pun.
> > CARA III
> >      Meningkatkan  kualitas insinyur pun bisa dengan merencanakan pola
> > belajar  sejak  dini sehingga setelah menjadi alumnus bisa diterapkan ke
> > berbagai  bidang  lapangan  pekerjaan.  Tentu saja bukan banting setir,
> > tetapi karena  memang  ada  relevansinya.
> >        Ilustrasinya bisa kita ambil dari materi Matematika kelas I SD.
> > Misalkan "1  jeruk + 1 jeruk = 2 jeruk", "2 bebek + 3 bebek = 5 bebek",
>dan
> > "3 bola + 1  bola  = 4 bola".
> >        Sesungguhnya dengan memahami itu saja anak bisa bekerja di mana
>saja.
> >        Coba saja kita suruh bekerja di IPTN. Saya yakin, kalau sang
>dirut
> > menyuruhnya  menghitung  3  helikopter  +  3  helokopter,  ia  akan
>bisa
> > menjawabnya segera.
> >        Kemudian suruh jugalah bekerja di bank. Saya rasa ia pun akan
>bisa
> > menjawab  ketika disuruh menghitung 1 US dolar + 1 US dollar.
> >        Pokoknya di lembaga/instansi mana saja, ia akan bisa bekerja
>untuk
> > hitungan  seperti  itu, termasuk di toko swalayan, pabrik kosmetika,
>kantor
> > Pemda,  sampai  industri mobil.
> >        "Apakah  diperbolehkan  ?"  atau "Berapa  gajinya?"  itu  lain
> > masalahnya.  Tergantung kebutuhan.
> >        Yang jelas, hanya dengan bermodalkan hasil belajar itu saja, ia
>sudah
> > bisa  bekerja di mana saja.
> >        Memang  ia bisa saja di sekolahnya tidak pernah disuguhi kata
> > "helikopter"  at
> > au "dollar". Tetapi karena esensinya sudah  tertanam  dalam  otaknya di
>mana
> > ia pun merasakannya sebagai  yang terhubungkan  realitas kehidupan
>sehingga
> > bisa ia terapkan di mana saja.
> >      Demikian seterusnya. Sehingga bila pola belajarnya itu terus
>berlanjut
> > sampai duduk di bangku Perguruan Tinggi  bidang  teknologi,  maka
>besarlah
> > peluangnya untuk bisa di banyak pekerjaan setelah menjadi alumnus.
> >        Alumnus Tehnik Kimia, misalnya, bisa saja berkiprah di  bidang
> > masakan. Walaupun selama di kampusnya tidak pernah melakukan  eksperimen
> > untuk itu, namun banyak prinsip dasarnya bisa diterapkan.
> >        Malah  terkadang terbayang oleh saya, bagaimana bila alumnus
>Tehnik
> > Kimia  seperti  itu  membuka  konsultan masakan di rumahnya.  Ya  ...
> > miriplah  dengan  dokter.
> >        Misalkan  :  pagi  mengajar  di  Perguruan  Tinggi  dan  Siang
> > bekerja  di  Perusahaan  Negara.  Barulah Sore harinya di rumah
>memecahkan
> > segala  problema  masakan dari masyarakat : efisiensi, citarasa, sampai
> > efektivitas.
> >        Bila sampai kini masih ada kesan dikotomis keduanya di kalangan
> > masyarakat,  itu  bukan  lagi  urusan  Tehnik Kimia, tetapi  sudah
> > merupakan  "tradisi  cara  pandang".
> >        Taroklah  "laboratorium  kimia"  boleh diartikan  sebagai  tempat
> > mengolah  sumber  daya  alam dengan jenis apa saja. Berarti  frekwensi
> > kegiatannya  bukan  terjadi  di lembaga pendidikan, terutama Perguruan
> > Tinggi, melainkan  justru  di  dapur. Malah mayoritas pelakunya pun
>adalah
> > ibu rumah tangga.
> >        Jadi kehadiran sosok alumnus Tehnik Kimia seperti itu sangat
>penting
> > dalam  upaya  memberikan nilai tambah terhadap masakan. Khususnya bagi
>para
> > ibu  rumah  selaku tiang negara dalam penyediaan pangan melalui
>keluarganya
> > masing-masing.
> >        Bila  dari  hasil konsultasi itu saja bisa dihemat minyak tanah
> > sampai  10  persen  per  hari, misalnya, berapa besar rupiah anggaran
> > belanja  bisa  ditekan  dalam  satu bulan. Itu baru satu macam. Tentu
>bisa
> > ditaksir bila hal serupa  pun  terjadi pula pada komponen Sembako
>lainnya.
> >        Mari kita kembali ke masalah pokok.
> >        Singkatnya,  alumnus otak insinyur diharapkan seperti pisau
>multi
> > fungsi.  Walaupun  setiap kali selesai diasah hanya dicoba untuk
>mengupas
> > mangga,  tetapi  hendaknya ketika sudah tajam
> > bisa dipakai untuk beragam jenis buah.
> >         Mahasiswa Telekomunikasi, misalkan, hendaknya jangan hanya
>mempunyai
> > target  untuk   bisa  bekerja  di  TELKOM,  Indosat,  sampai  Satelindo.
> > Apa   salahnya  direncanakan  juga  di lembaga perhubungan darat,
>walaupun
> > taroklah  selama  di  kampus atau studinya nya hampir tidak tidak pernah
> > disuguhi masalah tersebut.
> >        Semua itu akan berjalan jika para mahasiswa menghayati akan arti
> > teknologi  sebagai   sarana  pemecahan  berbagai  problema  tehnis
> > kehidupan.   Karenanya
> > diharapkan  pada mereka untuk melakukan evaluasi : "Berapa ilmu  yang
> > diperoleh  hari  ini", "Ilmu apa saja yang belum dipahami", dan "Mana
>saja
> > ilmu  yang  bisa  diaplikasikan".
> >        Itu  gilirannya  akan  membuat  mereka  merasakan  kampus
>sebagai
> > gudang  teknologi  berisi  kunci emas untuk mengubah atau memperbarui
> > berbagai sektor  kehidupan  menjadi  "semakin     baik, semakin indah,
>dan
> > semakin praktis".  (Nasrullah    Idris,    bidang    studi     :
> > Reformasi  Sains/Matematika/Teknologi)


______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

Kirim email ke