Notrida Mandica wrote:

> Dear Permias,
>
> Seperti yang saya janjikan bahwa saya akan coba membuka diskusi tentang
> SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL.
> Awalnya saya hendak membuat kelompok diskusi kecil, namun nampak tak adil
> bagi sebagian rekan-rekan yang ingin juga mengetahui jalannya diskusi kita.

Lebih tepatnya, agak sulit untuk mendapatkan peserta yg mau serius berdiskusi
dalam kelompok kecil...hehehe....


> Tulisan Bang Nasrullah dan Bang Blucer bisa kita jadikan titik tolak diskusi
> kita.
>
> Akan saya label session ini sebagai ELEMENTS OF EDUCATIONAL SYSTEM
>
> A. Waktu
> B. ...
> _____
>
> Saya salut dengan tinjuan komprehensive penggunaan waktu yang diajukan oleh
> Bang Acu. Dan nampaknya disetujui pula oleh Bang Blucher.
> Pertanyaan: apakah waktu or panjang pendeknya masa pendidikan merupakan
> faktor krusial dalam menentukan usaha peningkatan kualitas pendidikan
> nasional kita? Apa kriteria kualitas yang Bung Acu gunakan di sini? Adakah
> parameter lain yang dibisa diajukan untuk mendukung argument penggunaan
> WAKTU (masa pendidikan-red)?
>
> Saya berpikir bahwa mungkin ada faedahnya mempertimbangkan daya serap
> mahasiswa, kualitas pelajaran yang disajikan, kuantitas course load,
> application ilmu-ilmu yang disodorkan - untuk applied and natural science
> and pengembangan level of analysis untuk social science and liberal art.
> Apakah faktor-faktor ini memiliki korelasi dengan penggunaan waktu?
>
> thank you,
>
> ida
> >From: Blucer Rajagukguk <[EMAIL PROTECTED]>
> >Reply-To: Indonesian Students in the US <[EMAIL PROTECTED]>
> >To: [EMAIL PROTECTED]
> >Subject: Re: Hemat Waktu sampai 50 Persen untuk Jadi Insinyur
> >Date: Mon, 10 May 1999 21:41:42 -0500
> >
> >Pemikiran bung Acu ini seirama dengan pikiran saya mengenai hemat waktu
> >menjadi
> >akuntan buat siswa di STAN. Banyak sekali waktu yang terbuang untuk siswa
> >secara
> >individu yang juga mengurangi kemampuan negara untuk lebih produktif.
> >Untuk siswa yang cerdas dan mampu menyelesaikan studai lebih cepat, perlu
> >dioptimalkan sarananya oleh pemerintah dan swasta.
> >
> >Nasrullah Idris wrote:
> >
> > > Rekan-Rekan Yth :
> > > ------------------------
> > >      Dengan ini saya lampirkan sebuah hasil pengkajian saya : "Hemat
> >Waktu
> > > sampai 50 Persen untuk Jadi Insinyur" di bawah ini. Mohon dengan sangat,
> > > agar makalah ini diforwardkan kepada lembaga/PT/badan yang
> >berkepentingan.
> > >      Tujuan saya membuat ini antara lain untuk menghadapi era
> >globalisasi di
> > > mana kompetisi teknologi tidak hanya mengandalkan "kualitas teknologi"
> >dan
> > > "re teknologi", juga "speed teknologi" dan "disain teknologi".
> > >      Hanya perlu diketahui bahwa makalah di bawah ini sifatnya
> > > "inspirasional", bukan "operasional".
> > >      Atas bantuan rekan-rekan, saya mengucapkan banyak terima kasih.
> > >
> > > Salam,
> > >
> > > Nasrullah Idris
> > > -------------------
> > > Bidang Studi : Reformasi Sains/Matematika/Teknologi
> > >
> > > HEMAT WAKTU SAMPAI 50 PERSEN UNTUK JADI INSINYUR
> > >
> >----------------------------------------------------------------------------
> > >
> > > Oleh : Nasrullah Idris
> > >
> > > PEMBUKAAN
> > > --------------------
> > >
> > >       ALASAN  saya  menulis ini berhubung sebentar lagi kita  akan
> >memasuki
> > > era  perdagangan  bebas  dalam  skop global. Bangsa Indonesia  dari
> > > berbagai  segmen  profesi dan kedisiplinan ilmu mau  tidak mau akan
> > > dihadapkan pada persaingan ketat sesuai bidangnya masing-masing.
> > >        Secara logika, untuk mengantisipasinya diperlukan antara lain
> > > teknolog yang  juga mempunyai daya saing, syukur-syukur berada di atas
> > > rata-rata sesamanya. Ini  bila kita nanti masih ingin menjadi tuan rumah
> >di
> > > negeri sendiri.
> > >        Rasanya  siapa pun akan merasa sedih, perih, malah sakit bila
> >orang
> > > asing  sampai  berperan  lebih  besar. Nah ... mumpung  belum  terlanjur
> > > begitu  jauh,  siapkanlah segala bentuk antisipasinya sejak dini.
> > >        Adanya goncangan krismon yang tidak terduga hendaknya membuat
> >kita
> > > semakin  menyadari   akan  pentingnya  persiapan  tersebut,  yakni
> >teknolog
> > > yang   bisa  berkompetisi  dalam  skop  internasional. Sekaligus
> >dijadikan
> > > pelajaran  untuk  mewaspadai  berbagai  kemungkinan  yang  bakal
> >terjadi
> > > pada  era   perdagangan  tersebut, terutama yang sampai kini belum
> > > terpantau.
> > >        Tentu saja untuk membentuk semacam itu berarti mengajak
> >putra-putra
> > > bangsa  ini untuk berkompetisi dengan semua bangsa lain dalam hal
> > > mencari/mendalami ilmu  : kualitas, efisiensi, efektivitas, maupun
> > > kuantitasnya.
> > >        Berikut  ini  akan disampaikan sejumlah macam solusinya.  Namun
> >akan
> > > saya  batasi dengan teknologi. Untuk bidang lainnya saya persilahkan
> >kepada
> > > siapa  pun  yang berminat untuk mengupasnya.
> > >
> > > CARA I
> > >
> > > ----------
> > >
> > >        Taroklah standar waktu minimal untuk menjadi insinyur di
> >Indonesia
> > > sekitar  4,5 tahun, walaupun dalam prakteknya sebagian  besar baru
> > > menyelesaikannya lebih dari itu.
> > >        Sebagaimana  teknologi yang selalu mengalami dinamika proses
> >nilai
> > > tambah  efisiensi/efektivitas,  apa  salahnya itu berlaku pula  dalam
> > > Peruruan  Tinggi,  khususnya  bidang  tehnologi. Misalkan, bagaimana
> >hanya
> > > dalam 2,25  tahun  saja,  wawasan  mahasiswa  sudah  ekuivalen   dengan
> > > wawasan  seorang  insinyur   yang  diidealkan berdasarkan kurikulum
> >Peruruan
> > > Tinggi di Indonesia.
> > >        Berarti  ia  telah menghemat waktu sampai 50 persen dalam  proses
> > > belajar.  Taroklah  sisa waktunya dipakai belajar dengan pola yang sama,
> > > maka saat  wisuda  pada 4,5 tahun kemudian, kualitas insinyurnya menjadi
> >dua
> > > kali lipat.
> > >        Apakah bisa? Saya berani mengatakan : "Bisa!"
> > >        Esensi pemikiran saya adalah mengajak/memotivasi mahasiswa
> >mempunyai
> > > obsesi  untuk berwawasan teknologi dengan substansi lebih dari yang
> > > diidealkan tersebut.
> > >        Namun mohon tidak terperangkap dengan istilah 50 persen. Itu
> >hanya
> > > patokan  saya saja. Tetapi ya syukur-syukur bisa terwujud.  Malah lebih
> >dari
> > > itu.
> > >        Mau  berapa  persen  pun  silakan  saja.  Toh  setiap  mahasiswa
> > > mempunyai  kemampuan berlainan dalam menyerap ilmu dalam kurun waktu
> >yang
> > > sama.
> > >        Ilustrasinya begini :
> > >        Anggaplah  masa  kuliah dengan "disket 1,4 MB".  Sedangkan
> >satuan
> > > ilmunya  dengan  file "animasi". Bila diisi dengan format *.BMP @ 35 KB,
> > > total yang  bisa  masuk  hanya  40  file. Tetapi kalau dikonversikan ke
> > > format  *.JPG  @  17,5  KB  menjadi 80 file.
> > >        Berarti penghematan 50 persen, bukan?
> > >        Kita ambil contoh ilustrasi lainnya dari anak-anak.
> > >        Taroklah  kita  menemukan  suatu jenis batu di  Amerika  Serikat,
> > > yang  di  Indonesia hampir tidak ditemukan.
> > >        Ketika  pulang  ke tanah air, tanyakanlah kepada bocah kelas I
> >SD,
> > > "Kalau  batu  ini  dilemparkan ke kepalamu, bagaimana rasanya?". "Ya
> > > ...sakit,  dong!",  begitulah jawabannya. Bisa kita perkirakan dengan
> >mudah.
> > >        Nah ... apa yang menjadi patokannya, sehingga si anak bisa
> > > menyimpulkan  demikian? Padahal melihat batu itu pun belum  pernah.
> > >       Jawabannya  tentu  saja  berdasarkan sifat  batu  yang  mungkin
> > > pernah  ditemuinya  di  mana  ketika menimpa kepala,  yang  bersangkutan
> > > merasa  sakit.  Terlebih kalau itu dialaminya sendiri.
> > >        Apakah  untuk  menjawabnya,  ia  harus menanyakan  dulu  kepada
> >guru
> > > atau  orangtuanya? Jelas tidak perlu.
> > >        Malah  ia pun akan bisa menjawab pertanyaan, "Bagaimana sifat
> >batu
> > > ini?",  dengan jawaban, "Keras!", walaupun tidak dirabanya.
> > >        Taroklah  kita  membawa 100 macam batu langka, ia pun tetap  bisa
> > > menjawab  untuk pertanyaan yang sama. Berarti kan ia     mempunyai
> >tambahan
> > > 100 macam ilmu  dalam tempo   singkat hanya
> > > dengan pengalaman dari beberapa sifat batu yang sering  ditemuinya.
> > >        Jadi  esensin tersebut,  bagaimana  cerita si anak  bisa
> > > ditransformasikan/ diimplementasikan  dalam  Perguruan Tinggi? Khususnya
> > > dalam upaya penghematan waktu secara maksimal  untuk  menjadi insinyur.
> > >        Amatilah sepuluh atom pertama dalam sistim periodik di bawah ini
> >:
> > >        Hidrogen  (H), Helium (H), Lithium (Li), Berilium (Be), Boron
> >(B),
> > > Carbon  (C), Nitorgen (N), Oksigen (O), Flour (F), dan Neon (Ne)
> > >         Nah ... bagaimana dengan hanya mempelajari ini saja,  mahasiswa
> > > memahami sifat seluruh jenis atom tentang fenomena  fisika  tertentu.
> > > Sehingga  kalau  ditanyai  hal  serupa untuk atom  berikutnya  :
> >Natrium
> > > (Na),  Magnesium  (Mg),  sampai Hahnium (Ha), ia bisa menjelaskan dengan
> > > mengacu  pada  sepuluh jenis atom pertama.
> > >        Taroklah  waktu  mempelajari  setiap atom adalah 2  jam.  Berarti
> > > semuanya  menghabiskan 20 jam.
> > >        Tetapi  karena dipahami secara tuntas/dalam, maka untuk
> >mempelajari
> > > sifat  seratus jenis atom lebih itu tentang fenomena tersebut, cukup
> >dengan
> > > seratus jam  saja. Berarti bisa menghemat waktu sampai 50 persen.
> > >        Tentu  saja harus dijawab dulu pertanyaan : Bagaimana koefisien
> >sifat
> > > pada  10  atom  pertama  terhadap fenomena tersebut  dari  aspek
> > > hitungannya?  Apakah  berirama bak deret bilangan beraturan (1, 4, 7,
> >11,
> > > 15, 19, dst) atau berantakan  bak deret bilangan prima (2, 3, 5. 7, 11,
> >dst)
> > >        Sedangkan untuk Kimia, ilustrasinya busa kita ambil contoh :
> >Metana
> > > (CH4), Etana (C2H6), dan Propana (C3H8).
> > >        Nah  ...  bagaimana dengan modal mempelajari tiga macam ini
> >saja,
> > > seperti  elastisitasnya,  sehingga  untuk memahami/memperdiksi
> >hidrokarbon
> > > tingkat  yang  keempat  dan seterusnya, mahasiswa tidak perlu lagi
> >terlalu
> > > memeras  otak,  yang  gilirannya bisa menghemat waktu.
> > >
> > > CARA II
> > >
> > > -----------
> > >
> > >        Meningkatkan  kualitas  insinyur pun bisa juga  dilakukan  dengan
> > > memahami  sebagian  kecil  kurikulum secara tuntas.      Misalkan Polan
> > > memperoleh  paket  pelajaran "A1, A2, A3, A4"  sampai  "Z1, Z2, Z3, Z4".
> > > Berarti 26 ilmu. Khusus untuk paket "M1, M2,  M3,  M4"  dipelajari
> >secara
> > > mendalam. Selebihnya sepintas saja.
> > >        Karena  ia  memahami  "M1,  M2, M3, M4"  secara  tuntas,  ia  pun
> > > berhasil  melakukan hubungan relationis secara interen pada "M1, M2, M3,
> >dan
> > > M4"  sehingga  menghasilkan  "4  faktorial ilmu", yaitu 1 x 2 x 3 x 4
> >ilmu =
> > > 24  ilmu,  seperti  "M1, M3, M2, M4" dan "M4, M2, M3, M1".
> > >        Karena  semakin  didalami, muncul pula  inisiatif
> >mengkombinasikan
> > > antara  sejumlah ilmu, seperti "M1, M3, M2, M4" "M1, M2, M3, M4", dan
> >"M4,
> > > M2, M3, M1"
> > >        Bisa  dibayangkan berapa banyaknya produktivitas ilmu u dari
> >hasil
> > > rekayasa  otaknya.
> > >        Berarti  semakin  besarlah peluang untuk menyeleksi, mana  saja
> >ilmu
> > > yang  sesuai  dengan  selera  manusia, serta bisa bersaing  dengan
> >mereka
> > > yang  cara  belajarnya  menggunakan cara yang sama.      Rasanya akan
> > > semakin  dahsyat  lagi  produktivitasnya bila ia terkonsentrasi total
> >pada
> > > "M1, M2, M3, M4".
> > >        Coba  bayangkan.  Bagaimana pula jika ia tidak   mendalaminya
> > > sedikit  pun.  Tentu 26 ilmu itu tidak lebih dari sekedar mekanisme
> >simbol
> > > tanpa makna.
> > >        Mari kita kembali pada masalah "M1, M2, M3, M4".
> > >        Bagaimana  ilmu itu merupakan ilustrasi dari "elektron"? Berarti
> > > mahasiswa  itu mendalami elektron dalam rangka memahami sifatnya pada
> > > berbagai situasi  dan  kondisi. Sekaligus akan membuat pemikirannya
> >seputar
> > > elektron semakin fleksibel.
> > >        Sehingga mudahlah baginya mengatasi hambatan/membuat terobosan
> >bidang
> > > tehnis pada produk elektronika.
> > >        Sosok  seperti  itu tidak hanya bisa menjawab  seputar
> >pertanyaan
> > > seperti  :"Bagaimana  sifat  material a, b, c, atau ....      dalam
> > > elektronika?",  juga  "Bagaimana  dengan material yang mempunyai sifat
> >x1,
> > > x2, x3, dst,  serta  diolah  dengan cara y1,y2, y3, dst, dengan sarana
> >z1,
> > > z2, z3, dst, pada situasi u1,  u2,  u3, dst,  bisa menghasilkan produk
> > > elektronika yang ber v1, v2, v3, dst, dengan harga jual  w1, w2, w3,
> >atau
> > > ...."
> > >        Taroklah  berakhir  dengan  jawaban, "Tidak bisa".  Mereka  pun
> >akan
> > > bisa  merangkang, "Mengapa ....?", dengan jawaban, "Karena   ...." atau
> > > "Akibat .....", berdasarkan berbagai rumus perhitungan yang terkait.
> > > Akhirnya terciptalah pengertian ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan.
> > >        Dampak  pemahaman  teknologi  secara  tuntas  terhadap  ekonomi
> >bisa
> > > kita  ilustrasikan dengan "web siter", yaitu mereka yang ahli  dalam
> > > pembuatan homepage.
> > >        Coba  kita renungkan, bagaimana kalau ia tidak memahami tag
> >secara
> > > tuntas.  Misalkan  fungsi <TABLE BORDER = "a"> tidak masuk dalam
> >otaknya.
> > > Walaupun  hanya  satu  macam  tag  saja ... tetapi bisa menjadi batu
> > > sandungan  dalam  pembuatan  sebuah web page.
> > >        Bagaimana  pula kalau web page itu merupakan pesanan di mana
> >pemesan
> > > ingin  agar muncul gambar kotak pada layar monitor? Wah peluang bisnis
> >pun
> > > bisa menjadi  gagal. Soalnya konsumen tidak mau menerimanya.
> > >        Taroklah pesanan itu mempunyai nilai proyek sampai Rp. 1 Milyar.
> > > Sementara  tidak ada satu web site di tanah air pun bisa melakukannya?
> > > Jangan heranlah bila  diambil alih web siter asing.
> > >        Nah  ...  marilah kita larikan pada insinyur di mana di
> >kampusnya
> > > belajar  tentang  busi.  Apa  jadinya bila ia tidak memahami masalah
> >busi
> > > motor  secara  tuntas.  Artinya, ada satu faktor yang tidak masuk dalam
> > > otaknya, yaitu  akurasi  kelengkungan pada salah satu bagian dari
> >permukaan
> > > onderdil tersebut.
> > >        Bukankah  ia  akan mengalami kendala untuk  memproduksinya,
> >walaupun
> > > ilmu  tentang  busi sudah banyak dikuasainya. Walaupun bisa dipakai
> >juga,
> > > tetapi  dari  segi  kualitas  akan  kalah bersaing dengan busi yang
> > > tercipta  dari  rancangan  insinyur yang berpikir tuntas.
> > >        Celakanya  kalau semua insinyur kita seperti itu. Ya ...
> >terpaksalah
> > > busi  harus diimpor.
> > >        Itu  baru  satu  onderdil. Bagaimana pula kalau  hal  serupa
> >terjadi
> > > pada  onderdil untuk produk lainnya : komputer, kulkas,  sampai traktor.
> > > Tentu ya ... harus impor juga kan.
> > >        Karena terus impor akhirnya ya ... ikut mempengaruhi mata rupiah.
> > >        Jadi kalau mau bersaing di bidang produk, teknolog dituntut harus
> > > bersaing  pula   dalam  pemahaman  proses  kehadirannya.  Termasuk
> > > bagaimana   interaksi  molekulnya  terhadap  lingkungan  sekitarnya :
> > > tekanan,  suhu,  gerakan,  udara,  sampai  sentuhan. Malah ketika sudah
> > > berbentuk pun, ia harus pun  bisa  bersaing  dalam hal memahami berbagai
> > > sifatnya di kemudian hari, seperti struktur molekul,  karakter  tangan
> > > manusia, dan gravitasi bumi. Tiada lain agar bisa  diperkirakan  akan
> >daya
> > > tahannya  sehingga.  Bukankah  ini  gilirannya  sangat   menentukan
> > > permintaan pasar?
> > >        Miriplah  dengan web siter saat membuat web page untuk homepage.
> >Ia
> > > sudah  bisa  membayangkan  tentang penulisan source HTML-nya setiap
> >kali
> > > ada  pesanan  dengan faktor kesulitan dan nilai keindahan bagaimana pun.
> > > CARA III
> > >      Meningkatkan  kualitas insinyur pun bisa dengan merencanakan pola
> > > belajar  sejak  dini sehingga setelah menjadi alumnus bisa diterapkan ke
> > > berbagai  bidang  lapangan  pekerjaan.  Tentu saja bukan banting setir,
> > > tetapi karena  memang  ada  relevansinya.
> > >        Ilustrasinya bisa kita ambil dari materi Matematika kelas I SD.
> > > Misalkan "1  jeruk + 1 jeruk = 2 jeruk", "2 bebek + 3 bebek = 5 bebek",
> >dan
> > > "3 bola + 1  bola  = 4 bola".
> > >        Sesungguhnya dengan memahami itu saja anak bisa bekerja di mana
> >saja.
> > >        Coba saja kita suruh bekerja di IPTN. Saya yakin, kalau sang
> >dirut
> > > menyuruhnya  menghitung  3  helikopter  +  3  helokopter,  ia  akan
> >bisa
> > > menjawabnya segera.
> > >        Kemudian suruh jugalah bekerja di bank. Saya rasa ia pun akan
> >bisa
> > > menjawab  ketika disuruh menghitung 1 US dolar + 1 US dollar.
> > >        Pokoknya di lembaga/instansi mana saja, ia akan bisa bekerja
> >untuk
> > > hitungan  seperti  itu, termasuk di toko swalayan, pabrik kosmetika,
> >kantor
> > > Pemda,  sampai  industri mobil.
> > >        "Apakah  diperbolehkan  ?"  atau "Berapa  gajinya?"  itu  lain
> > > masalahnya.  Tergantung kebutuhan.
> > >        Yang jelas, hanya dengan bermodalkan hasil belajar itu saja, ia
> >sudah
> > > bisa  bekerja di mana saja.
> > >        Memang  ia bisa saja di sekolahnya tidak pernah disuguhi kata
> > > "helikopter"  at
> > > au "dollar". Tetapi karena esensinya sudah  tertanam  dalam  otaknya di
> >mana
> > > ia pun merasakannya sebagai  yang terhubungkan  realitas kehidupan
> >sehingga
> > > bisa ia terapkan di mana saja.
> > >      Demikian seterusnya. Sehingga bila pola belajarnya itu terus
> >berlanjut
> > > sampai duduk di bangku Perguruan Tinggi  bidang  teknologi,  maka
> >besarlah
> > > peluangnya untuk bisa di banyak pekerjaan setelah menjadi alumnus.
> > >        Alumnus Tehnik Kimia, misalnya, bisa saja berkiprah di  bidang
> > > masakan. Walaupun selama di kampusnya tidak pernah melakukan  eksperimen
> > > untuk itu, namun banyak prinsip dasarnya bisa diterapkan.
> > >        Malah  terkadang terbayang oleh saya, bagaimana bila alumnus
> >Tehnik
> > > Kimia  seperti  itu  membuka  konsultan masakan di rumahnya.  Ya  ...
> > > miriplah  dengan  dokter.
> > >        Misalkan  :  pagi  mengajar  di  Perguruan  Tinggi  dan  Siang
> > > bekerja  di  Perusahaan  Negara.  Barulah Sore harinya di rumah
> >memecahkan
> > > segala  problema  masakan dari masyarakat : efisiensi, citarasa, sampai
> > > efektivitas.
> > >        Bila sampai kini masih ada kesan dikotomis keduanya di kalangan
> > > masyarakat,  itu  bukan  lagi  urusan  Tehnik Kimia, tetapi  sudah
> > > merupakan  "tradisi  cara  pandang".
> > >        Taroklah  "laboratorium  kimia"  boleh diartikan  sebagai  tempat
> > > mengolah  sumber  daya  alam dengan jenis apa saja. Berarti  frekwensi
> > > kegiatannya  bukan  terjadi  di lembaga pendidikan, terutama Perguruan
> > > Tinggi, melainkan  justru  di  dapur. Malah mayoritas pelakunya pun
> >adalah
> > > ibu rumah tangga.
> > >        Jadi kehadiran sosok alumnus Tehnik Kimia seperti itu sangat
> >penting
> > > dalam  upaya  memberikan nilai tambah terhadap masakan. Khususnya bagi
> >para
> > > ibu  rumah  selaku tiang negara dalam penyediaan pangan melalui
> >keluarganya
> > > masing-masing.
> > >        Bila  dari  hasil konsultasi itu saja bisa dihemat minyak tanah
> > > sampai  10  persen  per  hari, misalnya, berapa besar rupiah anggaran
> > > belanja  bisa  ditekan  dalam  satu bulan. Itu baru satu macam. Tentu
> >bisa
> > > ditaksir bila hal serupa  pun  terjadi pula pada komponen Sembako
> >lainnya.
> > >        Mari kita kembali ke masalah pokok.
> > >        Singkatnya,  alumnus otak insinyur diharapkan seperti pisau
> >multi
> > > fungsi.  Walaupun  setiap kali selesai diasah hanya dicoba untuk
> >mengupas
> > > mangga,  tetapi  hendaknya ketika sudah tajam
> > > bisa dipakai untuk beragam jenis buah.
> > >         Mahasiswa Telekomunikasi, misalkan, hendaknya jangan hanya
> >mempunyai
> > > target  untuk   bisa  bekerja  di  TELKOM,  Indosat,  sampai  Satelindo.
> > > Apa   salahnya  direncanakan  juga  di lembaga perhubungan darat,
> >walaupun
> > > taroklah  selama  di  kampus atau studinya nya hampir tidak tidak pernah
> > > disuguhi masalah tersebut.
> > >        Semua itu akan berjalan jika para mahasiswa menghayati akan arti
> > > teknologi  sebagai   sarana  pemecahan  berbagai  problema  tehnis
> > > kehidupan.   Karenanya
> > > diharapkan  pada mereka untuk melakukan evaluasi : "Berapa ilmu  yang
> > > diperoleh  hari  ini", "Ilmu apa saja yang belum dipahami", dan "Mana
> >saja
> > > ilmu  yang  bisa  diaplikasikan".
> > >        Itu  gilirannya  akan  membuat  mereka  merasakan  kampus
> >sebagai
> > > gudang  teknologi  berisi  kunci emas untuk mengubah atau memperbarui
> > > berbagai sektor  kehidupan  menjadi  "semakin     baik, semakin indah,
> >dan
> > > semakin praktis".  (Nasrullah    Idris,    bidang    studi     :
> > > Reformasi  Sains/Matematika/Teknologi)
>
> ______________________________________________________
> Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

--
Salam,
Jaya


--> I disapprove of what you say, but I will
    defend to death your right to say it. - Voltaire

               \\\|///
             \\  - -  //
              (  @ @  )
------------oOOo-(_)-oOOo-----------
FNU Brawijaya
Dept of Civil Engineering
Rensselaer Polytechnic Institute
mailto:[EMAIL PROTECTED]
--------------------Oooo------------
           oooO     (   )
          (   )      ) /
           \ (      (_/
            \_)

Kirim email ke