Notrida Mandica wrote:
> Dear Permias,
>
> Seperti yang saya janjikan bahwa saya akan coba membuka diskusi tentang
> SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL.
> Awalnya saya hendak membuat kelompok diskusi kecil, namun nampak tak adil
> bagi sebagian rekan-rekan yang ingin juga mengetahui jalannya diskusi kita.
Lebih tepatnya, agak sulit untuk mendapatkan peserta yg mau serius berdiskusi
dalam kelompok kecil...hehehe....
> Tulisan Bang Nasrullah dan Bang Blucer bisa kita jadikan titik tolak diskusi
> kita.
>
> Akan saya label session ini sebagai ELEMENTS OF EDUCATIONAL SYSTEM
>
> A. Waktu
> B. ...
> _____
>
> Saya salut dengan tinjuan komprehensive penggunaan waktu yang diajukan oleh
> Bang Acu. Dan nampaknya disetujui pula oleh Bang Blucher.
> Pertanyaan: apakah waktu or panjang pendeknya masa pendidikan merupakan
> faktor krusial dalam menentukan usaha peningkatan kualitas pendidikan
> nasional kita? Apa kriteria kualitas yang Bung Acu gunakan di sini? Adakah
> parameter lain yang dibisa diajukan untuk mendukung argument penggunaan
> WAKTU (masa pendidikan-red)?
>
> Saya berpikir bahwa mungkin ada faedahnya mempertimbangkan daya serap
> mahasiswa, kualitas pelajaran yang disajikan, kuantitas course load,
> application ilmu-ilmu yang disodorkan - untuk applied and natural science
> and pengembangan level of analysis untuk social science and liberal art.
> Apakah faktor-faktor ini memiliki korelasi dengan penggunaan waktu?
>
> thank you,
>
> ida
> >From: Blucer Rajagukguk <[EMAIL PROTECTED]>
> >Reply-To: Indonesian Students in the US <[EMAIL PROTECTED]>
> >To: [EMAIL PROTECTED]
> >Subject: Re: Hemat Waktu sampai 50 Persen untuk Jadi Insinyur
> >Date: Mon, 10 May 1999 21:41:42 -0500
> >
> >Pemikiran bung Acu ini seirama dengan pikiran saya mengenai hemat waktu
> >menjadi
> >akuntan buat siswa di STAN. Banyak sekali waktu yang terbuang untuk siswa
> >secara
> >individu yang juga mengurangi kemampuan negara untuk lebih produktif.
> >Untuk siswa yang cerdas dan mampu menyelesaikan studai lebih cepat, perlu
> >dioptimalkan sarananya oleh pemerintah dan swasta.
> >
> >Nasrullah Idris wrote:
> >
> > > Rekan-Rekan Yth :
> > > ------------------------
> > > Dengan ini saya lampirkan sebuah hasil pengkajian saya : "Hemat
> >Waktu
> > > sampai 50 Persen untuk Jadi Insinyur" di bawah ini. Mohon dengan sangat,
> > > agar makalah ini diforwardkan kepada lembaga/PT/badan yang
> >berkepentingan.
> > > Tujuan saya membuat ini antara lain untuk menghadapi era
> >globalisasi di
> > > mana kompetisi teknologi tidak hanya mengandalkan "kualitas teknologi"
> >dan
> > > "re teknologi", juga "speed teknologi" dan "disain teknologi".
> > > Hanya perlu diketahui bahwa makalah di bawah ini sifatnya
> > > "inspirasional", bukan "operasional".
> > > Atas bantuan rekan-rekan, saya mengucapkan banyak terima kasih.
> > >
> > > Salam,
> > >
> > > Nasrullah Idris
> > > -------------------
> > > Bidang Studi : Reformasi Sains/Matematika/Teknologi
> > >
> > > HEMAT WAKTU SAMPAI 50 PERSEN UNTUK JADI INSINYUR
> > >
> >----------------------------------------------------------------------------
> > >
> > > Oleh : Nasrullah Idris
> > >
> > > PEMBUKAAN
> > > --------------------
> > >
> > > ALASAN saya menulis ini berhubung sebentar lagi kita akan
> >memasuki
> > > era perdagangan bebas dalam skop global. Bangsa Indonesia dari
> > > berbagai segmen profesi dan kedisiplinan ilmu mau tidak mau akan
> > > dihadapkan pada persaingan ketat sesuai bidangnya masing-masing.
> > > Secara logika, untuk mengantisipasinya diperlukan antara lain
> > > teknolog yang juga mempunyai daya saing, syukur-syukur berada di atas
> > > rata-rata sesamanya. Ini bila kita nanti masih ingin menjadi tuan rumah
> >di
> > > negeri sendiri.
> > > Rasanya siapa pun akan merasa sedih, perih, malah sakit bila
> >orang
> > > asing sampai berperan lebih besar. Nah ... mumpung belum terlanjur
> > > begitu jauh, siapkanlah segala bentuk antisipasinya sejak dini.
> > > Adanya goncangan krismon yang tidak terduga hendaknya membuat
> >kita
> > > semakin menyadari akan pentingnya persiapan tersebut, yakni
> >teknolog
> > > yang bisa berkompetisi dalam skop internasional. Sekaligus
> >dijadikan
> > > pelajaran untuk mewaspadai berbagai kemungkinan yang bakal
> >terjadi
> > > pada era perdagangan tersebut, terutama yang sampai kini belum
> > > terpantau.
> > > Tentu saja untuk membentuk semacam itu berarti mengajak
> >putra-putra
> > > bangsa ini untuk berkompetisi dengan semua bangsa lain dalam hal
> > > mencari/mendalami ilmu : kualitas, efisiensi, efektivitas, maupun
> > > kuantitasnya.
> > > Berikut ini akan disampaikan sejumlah macam solusinya. Namun
> >akan
> > > saya batasi dengan teknologi. Untuk bidang lainnya saya persilahkan
> >kepada
> > > siapa pun yang berminat untuk mengupasnya.
> > >
> > > CARA I
> > >
> > > ----------
> > >
> > > Taroklah standar waktu minimal untuk menjadi insinyur di
> >Indonesia
> > > sekitar 4,5 tahun, walaupun dalam prakteknya sebagian besar baru
> > > menyelesaikannya lebih dari itu.
> > > Sebagaimana teknologi yang selalu mengalami dinamika proses
> >nilai
> > > tambah efisiensi/efektivitas, apa salahnya itu berlaku pula dalam
> > > Peruruan Tinggi, khususnya bidang tehnologi. Misalkan, bagaimana
> >hanya
> > > dalam 2,25 tahun saja, wawasan mahasiswa sudah ekuivalen dengan
> > > wawasan seorang insinyur yang diidealkan berdasarkan kurikulum
> >Peruruan
> > > Tinggi di Indonesia.
> > > Berarti ia telah menghemat waktu sampai 50 persen dalam proses
> > > belajar. Taroklah sisa waktunya dipakai belajar dengan pola yang sama,
> > > maka saat wisuda pada 4,5 tahun kemudian, kualitas insinyurnya menjadi
> >dua
> > > kali lipat.
> > > Apakah bisa? Saya berani mengatakan : "Bisa!"
> > > Esensi pemikiran saya adalah mengajak/memotivasi mahasiswa
> >mempunyai
> > > obsesi untuk berwawasan teknologi dengan substansi lebih dari yang
> > > diidealkan tersebut.
> > > Namun mohon tidak terperangkap dengan istilah 50 persen. Itu
> >hanya
> > > patokan saya saja. Tetapi ya syukur-syukur bisa terwujud. Malah lebih
> >dari
> > > itu.
> > > Mau berapa persen pun silakan saja. Toh setiap mahasiswa
> > > mempunyai kemampuan berlainan dalam menyerap ilmu dalam kurun waktu
> >yang
> > > sama.
> > > Ilustrasinya begini :
> > > Anggaplah masa kuliah dengan "disket 1,4 MB". Sedangkan
> >satuan
> > > ilmunya dengan file "animasi". Bila diisi dengan format *.BMP @ 35 KB,
> > > total yang bisa masuk hanya 40 file. Tetapi kalau dikonversikan ke
> > > format *.JPG @ 17,5 KB menjadi 80 file.
> > > Berarti penghematan 50 persen, bukan?
> > > Kita ambil contoh ilustrasi lainnya dari anak-anak.
> > > Taroklah kita menemukan suatu jenis batu di Amerika Serikat,
> > > yang di Indonesia hampir tidak ditemukan.
> > > Ketika pulang ke tanah air, tanyakanlah kepada bocah kelas I
> >SD,
> > > "Kalau batu ini dilemparkan ke kepalamu, bagaimana rasanya?". "Ya
> > > ...sakit, dong!", begitulah jawabannya. Bisa kita perkirakan dengan
> >mudah.
> > > Nah ... apa yang menjadi patokannya, sehingga si anak bisa
> > > menyimpulkan demikian? Padahal melihat batu itu pun belum pernah.
> > > Jawabannya tentu saja berdasarkan sifat batu yang mungkin
> > > pernah ditemuinya di mana ketika menimpa kepala, yang bersangkutan
> > > merasa sakit. Terlebih kalau itu dialaminya sendiri.
> > > Apakah untuk menjawabnya, ia harus menanyakan dulu kepada
> >guru
> > > atau orangtuanya? Jelas tidak perlu.
> > > Malah ia pun akan bisa menjawab pertanyaan, "Bagaimana sifat
> >batu
> > > ini?", dengan jawaban, "Keras!", walaupun tidak dirabanya.
> > > Taroklah kita membawa 100 macam batu langka, ia pun tetap bisa
> > > menjawab untuk pertanyaan yang sama. Berarti kan ia mempunyai
> >tambahan
> > > 100 macam ilmu dalam tempo singkat hanya
> > > dengan pengalaman dari beberapa sifat batu yang sering ditemuinya.
> > > Jadi esensin tersebut, bagaimana cerita si anak bisa
> > > ditransformasikan/ diimplementasikan dalam Perguruan Tinggi? Khususnya
> > > dalam upaya penghematan waktu secara maksimal untuk menjadi insinyur.
> > > Amatilah sepuluh atom pertama dalam sistim periodik di bawah ini
> >:
> > > Hidrogen (H), Helium (H), Lithium (Li), Berilium (Be), Boron
> >(B),
> > > Carbon (C), Nitorgen (N), Oksigen (O), Flour (F), dan Neon (Ne)
> > > Nah ... bagaimana dengan hanya mempelajari ini saja, mahasiswa
> > > memahami sifat seluruh jenis atom tentang fenomena fisika tertentu.
> > > Sehingga kalau ditanyai hal serupa untuk atom berikutnya :
> >Natrium
> > > (Na), Magnesium (Mg), sampai Hahnium (Ha), ia bisa menjelaskan dengan
> > > mengacu pada sepuluh jenis atom pertama.
> > > Taroklah waktu mempelajari setiap atom adalah 2 jam. Berarti
> > > semuanya menghabiskan 20 jam.
> > > Tetapi karena dipahami secara tuntas/dalam, maka untuk
> >mempelajari
> > > sifat seratus jenis atom lebih itu tentang fenomena tersebut, cukup
> >dengan
> > > seratus jam saja. Berarti bisa menghemat waktu sampai 50 persen.
> > > Tentu saja harus dijawab dulu pertanyaan : Bagaimana koefisien
> >sifat
> > > pada 10 atom pertama terhadap fenomena tersebut dari aspek
> > > hitungannya? Apakah berirama bak deret bilangan beraturan (1, 4, 7,
> >11,
> > > 15, 19, dst) atau berantakan bak deret bilangan prima (2, 3, 5. 7, 11,
> >dst)
> > > Sedangkan untuk Kimia, ilustrasinya busa kita ambil contoh :
> >Metana
> > > (CH4), Etana (C2H6), dan Propana (C3H8).
> > > Nah ... bagaimana dengan modal mempelajari tiga macam ini
> >saja,
> > > seperti elastisitasnya, sehingga untuk memahami/memperdiksi
> >hidrokarbon
> > > tingkat yang keempat dan seterusnya, mahasiswa tidak perlu lagi
> >terlalu
> > > memeras otak, yang gilirannya bisa menghemat waktu.
> > >
> > > CARA II
> > >
> > > -----------
> > >
> > > Meningkatkan kualitas insinyur pun bisa juga dilakukan dengan
> > > memahami sebagian kecil kurikulum secara tuntas. Misalkan Polan
> > > memperoleh paket pelajaran "A1, A2, A3, A4" sampai "Z1, Z2, Z3, Z4".
> > > Berarti 26 ilmu. Khusus untuk paket "M1, M2, M3, M4" dipelajari
> >secara
> > > mendalam. Selebihnya sepintas saja.
> > > Karena ia memahami "M1, M2, M3, M4" secara tuntas, ia pun
> > > berhasil melakukan hubungan relationis secara interen pada "M1, M2, M3,
> >dan
> > > M4" sehingga menghasilkan "4 faktorial ilmu", yaitu 1 x 2 x 3 x 4
> >ilmu =
> > > 24 ilmu, seperti "M1, M3, M2, M4" dan "M4, M2, M3, M1".
> > > Karena semakin didalami, muncul pula inisiatif
> >mengkombinasikan
> > > antara sejumlah ilmu, seperti "M1, M3, M2, M4" "M1, M2, M3, M4", dan
> >"M4,
> > > M2, M3, M1"
> > > Bisa dibayangkan berapa banyaknya produktivitas ilmu u dari
> >hasil
> > > rekayasa otaknya.
> > > Berarti semakin besarlah peluang untuk menyeleksi, mana saja
> >ilmu
> > > yang sesuai dengan selera manusia, serta bisa bersaing dengan
> >mereka
> > > yang cara belajarnya menggunakan cara yang sama. Rasanya akan
> > > semakin dahsyat lagi produktivitasnya bila ia terkonsentrasi total
> >pada
> > > "M1, M2, M3, M4".
> > > Coba bayangkan. Bagaimana pula jika ia tidak mendalaminya
> > > sedikit pun. Tentu 26 ilmu itu tidak lebih dari sekedar mekanisme
> >simbol
> > > tanpa makna.
> > > Mari kita kembali pada masalah "M1, M2, M3, M4".
> > > Bagaimana ilmu itu merupakan ilustrasi dari "elektron"? Berarti
> > > mahasiswa itu mendalami elektron dalam rangka memahami sifatnya pada
> > > berbagai situasi dan kondisi. Sekaligus akan membuat pemikirannya
> >seputar
> > > elektron semakin fleksibel.
> > > Sehingga mudahlah baginya mengatasi hambatan/membuat terobosan
> >bidang
> > > tehnis pada produk elektronika.
> > > Sosok seperti itu tidak hanya bisa menjawab seputar
> >pertanyaan
> > > seperti :"Bagaimana sifat material a, b, c, atau .... dalam
> > > elektronika?", juga "Bagaimana dengan material yang mempunyai sifat
> >x1,
> > > x2, x3, dst, serta diolah dengan cara y1,y2, y3, dst, dengan sarana
> >z1,
> > > z2, z3, dst, pada situasi u1, u2, u3, dst, bisa menghasilkan produk
> > > elektronika yang ber v1, v2, v3, dst, dengan harga jual w1, w2, w3,
> >atau
> > > ...."
> > > Taroklah berakhir dengan jawaban, "Tidak bisa". Mereka pun
> >akan
> > > bisa merangkang, "Mengapa ....?", dengan jawaban, "Karena ...." atau
> > > "Akibat .....", berdasarkan berbagai rumus perhitungan yang terkait.
> > > Akhirnya terciptalah pengertian ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan.
> > > Dampak pemahaman teknologi secara tuntas terhadap ekonomi
> >bisa
> > > kita ilustrasikan dengan "web siter", yaitu mereka yang ahli dalam
> > > pembuatan homepage.
> > > Coba kita renungkan, bagaimana kalau ia tidak memahami tag
> >secara
> > > tuntas. Misalkan fungsi <TABLE BORDER = "a"> tidak masuk dalam
> >otaknya.
> > > Walaupun hanya satu macam tag saja ... tetapi bisa menjadi batu
> > > sandungan dalam pembuatan sebuah web page.
> > > Bagaimana pula kalau web page itu merupakan pesanan di mana
> >pemesan
> > > ingin agar muncul gambar kotak pada layar monitor? Wah peluang bisnis
> >pun
> > > bisa menjadi gagal. Soalnya konsumen tidak mau menerimanya.
> > > Taroklah pesanan itu mempunyai nilai proyek sampai Rp. 1 Milyar.
> > > Sementara tidak ada satu web site di tanah air pun bisa melakukannya?
> > > Jangan heranlah bila diambil alih web siter asing.
> > > Nah ... marilah kita larikan pada insinyur di mana di
> >kampusnya
> > > belajar tentang busi. Apa jadinya bila ia tidak memahami masalah
> >busi
> > > motor secara tuntas. Artinya, ada satu faktor yang tidak masuk dalam
> > > otaknya, yaitu akurasi kelengkungan pada salah satu bagian dari
> >permukaan
> > > onderdil tersebut.
> > > Bukankah ia akan mengalami kendala untuk memproduksinya,
> >walaupun
> > > ilmu tentang busi sudah banyak dikuasainya. Walaupun bisa dipakai
> >juga,
> > > tetapi dari segi kualitas akan kalah bersaing dengan busi yang
> > > tercipta dari rancangan insinyur yang berpikir tuntas.
> > > Celakanya kalau semua insinyur kita seperti itu. Ya ...
> >terpaksalah
> > > busi harus diimpor.
> > > Itu baru satu onderdil. Bagaimana pula kalau hal serupa
> >terjadi
> > > pada onderdil untuk produk lainnya : komputer, kulkas, sampai traktor.
> > > Tentu ya ... harus impor juga kan.
> > > Karena terus impor akhirnya ya ... ikut mempengaruhi mata rupiah.
> > > Jadi kalau mau bersaing di bidang produk, teknolog dituntut harus
> > > bersaing pula dalam pemahaman proses kehadirannya. Termasuk
> > > bagaimana interaksi molekulnya terhadap lingkungan sekitarnya :
> > > tekanan, suhu, gerakan, udara, sampai sentuhan. Malah ketika sudah
> > > berbentuk pun, ia harus pun bisa bersaing dalam hal memahami berbagai
> > > sifatnya di kemudian hari, seperti struktur molekul, karakter tangan
> > > manusia, dan gravitasi bumi. Tiada lain agar bisa diperkirakan akan
> >daya
> > > tahannya sehingga. Bukankah ini gilirannya sangat menentukan
> > > permintaan pasar?
> > > Miriplah dengan web siter saat membuat web page untuk homepage.
> >Ia
> > > sudah bisa membayangkan tentang penulisan source HTML-nya setiap
> >kali
> > > ada pesanan dengan faktor kesulitan dan nilai keindahan bagaimana pun.
> > > CARA III
> > > Meningkatkan kualitas insinyur pun bisa dengan merencanakan pola
> > > belajar sejak dini sehingga setelah menjadi alumnus bisa diterapkan ke
> > > berbagai bidang lapangan pekerjaan. Tentu saja bukan banting setir,
> > > tetapi karena memang ada relevansinya.
> > > Ilustrasinya bisa kita ambil dari materi Matematika kelas I SD.
> > > Misalkan "1 jeruk + 1 jeruk = 2 jeruk", "2 bebek + 3 bebek = 5 bebek",
> >dan
> > > "3 bola + 1 bola = 4 bola".
> > > Sesungguhnya dengan memahami itu saja anak bisa bekerja di mana
> >saja.
> > > Coba saja kita suruh bekerja di IPTN. Saya yakin, kalau sang
> >dirut
> > > menyuruhnya menghitung 3 helikopter + 3 helokopter, ia akan
> >bisa
> > > menjawabnya segera.
> > > Kemudian suruh jugalah bekerja di bank. Saya rasa ia pun akan
> >bisa
> > > menjawab ketika disuruh menghitung 1 US dolar + 1 US dollar.
> > > Pokoknya di lembaga/instansi mana saja, ia akan bisa bekerja
> >untuk
> > > hitungan seperti itu, termasuk di toko swalayan, pabrik kosmetika,
> >kantor
> > > Pemda, sampai industri mobil.
> > > "Apakah diperbolehkan ?" atau "Berapa gajinya?" itu lain
> > > masalahnya. Tergantung kebutuhan.
> > > Yang jelas, hanya dengan bermodalkan hasil belajar itu saja, ia
> >sudah
> > > bisa bekerja di mana saja.
> > > Memang ia bisa saja di sekolahnya tidak pernah disuguhi kata
> > > "helikopter" at
> > > au "dollar". Tetapi karena esensinya sudah tertanam dalam otaknya di
> >mana
> > > ia pun merasakannya sebagai yang terhubungkan realitas kehidupan
> >sehingga
> > > bisa ia terapkan di mana saja.
> > > Demikian seterusnya. Sehingga bila pola belajarnya itu terus
> >berlanjut
> > > sampai duduk di bangku Perguruan Tinggi bidang teknologi, maka
> >besarlah
> > > peluangnya untuk bisa di banyak pekerjaan setelah menjadi alumnus.
> > > Alumnus Tehnik Kimia, misalnya, bisa saja berkiprah di bidang
> > > masakan. Walaupun selama di kampusnya tidak pernah melakukan eksperimen
> > > untuk itu, namun banyak prinsip dasarnya bisa diterapkan.
> > > Malah terkadang terbayang oleh saya, bagaimana bila alumnus
> >Tehnik
> > > Kimia seperti itu membuka konsultan masakan di rumahnya. Ya ...
> > > miriplah dengan dokter.
> > > Misalkan : pagi mengajar di Perguruan Tinggi dan Siang
> > > bekerja di Perusahaan Negara. Barulah Sore harinya di rumah
> >memecahkan
> > > segala problema masakan dari masyarakat : efisiensi, citarasa, sampai
> > > efektivitas.
> > > Bila sampai kini masih ada kesan dikotomis keduanya di kalangan
> > > masyarakat, itu bukan lagi urusan Tehnik Kimia, tetapi sudah
> > > merupakan "tradisi cara pandang".
> > > Taroklah "laboratorium kimia" boleh diartikan sebagai tempat
> > > mengolah sumber daya alam dengan jenis apa saja. Berarti frekwensi
> > > kegiatannya bukan terjadi di lembaga pendidikan, terutama Perguruan
> > > Tinggi, melainkan justru di dapur. Malah mayoritas pelakunya pun
> >adalah
> > > ibu rumah tangga.
> > > Jadi kehadiran sosok alumnus Tehnik Kimia seperti itu sangat
> >penting
> > > dalam upaya memberikan nilai tambah terhadap masakan. Khususnya bagi
> >para
> > > ibu rumah selaku tiang negara dalam penyediaan pangan melalui
> >keluarganya
> > > masing-masing.
> > > Bila dari hasil konsultasi itu saja bisa dihemat minyak tanah
> > > sampai 10 persen per hari, misalnya, berapa besar rupiah anggaran
> > > belanja bisa ditekan dalam satu bulan. Itu baru satu macam. Tentu
> >bisa
> > > ditaksir bila hal serupa pun terjadi pula pada komponen Sembako
> >lainnya.
> > > Mari kita kembali ke masalah pokok.
> > > Singkatnya, alumnus otak insinyur diharapkan seperti pisau
> >multi
> > > fungsi. Walaupun setiap kali selesai diasah hanya dicoba untuk
> >mengupas
> > > mangga, tetapi hendaknya ketika sudah tajam
> > > bisa dipakai untuk beragam jenis buah.
> > > Mahasiswa Telekomunikasi, misalkan, hendaknya jangan hanya
> >mempunyai
> > > target untuk bisa bekerja di TELKOM, Indosat, sampai Satelindo.
> > > Apa salahnya direncanakan juga di lembaga perhubungan darat,
> >walaupun
> > > taroklah selama di kampus atau studinya nya hampir tidak tidak pernah
> > > disuguhi masalah tersebut.
> > > Semua itu akan berjalan jika para mahasiswa menghayati akan arti
> > > teknologi sebagai sarana pemecahan berbagai problema tehnis
> > > kehidupan. Karenanya
> > > diharapkan pada mereka untuk melakukan evaluasi : "Berapa ilmu yang
> > > diperoleh hari ini", "Ilmu apa saja yang belum dipahami", dan "Mana
> >saja
> > > ilmu yang bisa diaplikasikan".
> > > Itu gilirannya akan membuat mereka merasakan kampus
> >sebagai
> > > gudang teknologi berisi kunci emas untuk mengubah atau memperbarui
> > > berbagai sektor kehidupan menjadi "semakin baik, semakin indah,
> >dan
> > > semakin praktis". (Nasrullah Idris, bidang studi :
> > > Reformasi Sains/Matematika/Teknologi)
>
> ______________________________________________________
> Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
--
Salam,
Jaya
--> I disapprove of what you say, but I will
defend to death your right to say it. - Voltaire
\\\|///
\\ - - //
( @ @ )
------------oOOo-(_)-oOOo-----------
FNU Brawijaya
Dept of Civil Engineering
Rensselaer Polytechnic Institute
mailto:[EMAIL PROTECTED]
--------------------Oooo------------
oooO ( )
( ) ) /
\ ( (_/
\_)