Dear mba Ida dan rekan2 semuanya, Kalau memang menurut mba dan rekan2 semuanya masalah waktu itu adalah critical, (red: Saya juga sangat setuju). Mungkin mba dan rekan-rekan bisa melihat full paper version yang lumyan bagus dan mengarah kesana, paper itu hasil karya pengajar saya, yang menspisialisasikan pada re-engineering services . papernya berjudul "Re-engineering Four Years of College into Three: The Makings of a Competency-based Three Year Bachelor's Degree". Maap sekali saya belum bisa ikut berdiskusi karena saya lagi sedikit sibuk. Tetapi saya selalu mengikuti rekan2 diskusi semua. Sukses selalu: Alamt papernya: http://www.nhc.edu/academic/gsb/seidman/AERA%2098%20View%20and%20Download%20Page.html Rizwan Rizal VP-P-NH http://i.am/imut2 Dear Permias, Seperti yang saya janjikan bahwa saya akan coba membuka diskusi tentang SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL. Awalnya saya hendak membuat kelompok diskusi kecil, namun nampak tak adil bagi sebagian rekan-rekan yang ingin juga mengetahui jalannya diskusi kita. Tulisan Bang Nasrullah dan Bang Blucer bisa kita jadikan titik tolak diskusi kita. Akan saya label session ini sebagai ELEMENTS OF EDUCATIONAL SYSTEM A. Waktu B. ... _____ Saya salut dengan tinjuan komprehensive penggunaan waktu yang diajukan oleh Bang Acu. Dan nampaknya disetujui pula oleh Bang Blucher. Pertanyaan: apakah waktu or panjang pendeknya masa pendidikan merupakan faktor krusial dalam menentukan usaha peningkatan kualitas pendidikan nasional kita? Apa kriteria kualitas yang Bung Acu gunakan di sini? Adakah parameter lain yang dibisa diajukan untuk mendukung argument penggunaan WAKTU (masa pendidikan-red)? Saya berpikir bahwa mungkin ada faedahnya mempertimbangkan daya serap mahasiswa, kualitas pelajaran yang disajikan, kuantitas course load, application ilmu-ilmu yang disodorkan - untuk applied and natural science and pengembangan level of analysis untuk social science and liberal art. Apakah faktor-faktor ini memiliki korelasi dengan penggunaan waktu? thank you, ida >From: Blucer Rajagukguk <[EMAIL PROTECTED]> >Reply-To: Indonesian Students in the US <[EMAIL PROTECTED]> >To: [EMAIL PROTECTED] >Subject: Re: Hemat Waktu sampai 50 Persen untuk Jadi Insinyur >Date: Mon, 10 May 1999 21:41:42 -0500 > >Pemikiran bung Acu ini seirama dengan pikiran saya mengenai hemat waktu >menjadi >akuntan buat siswa di STAN. Banyak sekali waktu yang terbuang untuk siswa >secara >individu yang juga mengurangi kemampuan negara untuk lebih produktif. >Untuk siswa yang cerdas dan mampu menyelesaikan studai lebih cepat, perlu >dioptimalkan sarananya oleh pemerintah dan swasta. > >Nasrullah Idris wrote: > > > Rekan-Rekan Yth : > > ------------------------ > > Dengan ini saya lampirkan sebuah hasil pengkajian saya : "Hemat >Waktu > > sampai 50 Persen untuk Jadi Insinyur" di bawah ini. Mohon dengan sangat, > > agar makalah ini diforwardkan kepada lembaga/PT/badan yang >berkepentingan. > > Tujuan saya membuat ini antara lain untuk menghadapi era >globalisasi di > > mana kompetisi teknologi tidak hanya mengandalkan "kualitas teknologi" >dan > > "re teknologi", juga "speed teknologi" dan "disain teknologi". > > Hanya perlu diketahui bahwa makalah di bawah ini sifatnya > > "inspirasional", bukan "operasional". > > Atas bantuan rekan-rekan, saya mengucapkan banyak terima kasih. > > > > Salam, > > > > Nasrullah Idris > > ------------------- > > Bidang Studi : Reformasi Sains/Matematika/Teknologi > > > > HEMAT WAKTU SAMPAI 50 PERSEN UNTUK JADI INSINYUR > > >---------------------------------------------------------------------------- > > > > Oleh : Nasrullah Idris > > > > PEMBUKAAN > > -------------------- > > > > ALASAN saya menulis ini berhubung sebentar lagi kita akan >memasuki > > era perdagangan bebas dalam skop global. Bangsa Indonesia dari > > berbagai segmen profesi dan kedisiplinan ilmu mau tidak mau akan > > dihadapkan pada persaingan ketat sesuai bidangnya masing-masing. > > Secara logika, untuk mengantisipasinya diperlukan antara lain > > teknolog yang juga mempunyai daya saing, syukur-syukur berada di atas > > rata-rata sesamanya. Ini bila kita nanti masih ingin menjadi tuan rumah >di > > negeri sendiri. > > Rasanya siapa pun akan merasa sedih, perih, malah sakit bila >orang > > asing sampai berperan lebih besar. Nah ... mumpung belum terlanjur > > begitu jauh, siapkanlah segala bentuk antisipasinya sejak dini. > > Adanya goncangan krismon yang tidak terduga hendaknya membuat >kita > > semakin menyadari akan pentingnya persiapan tersebut, yakni >teknolog > > yang bisa berkompetisi dalam skop internasional. Sekaligus >dijadikan > > pelajaran untuk mewaspadai berbagai kemungkinan yang bakal >terjadi > > pada era perdagangan tersebut, terutama yang sampai kini belum > > terpantau. > > Tentu saja untuk membentuk semacam itu berarti mengajak >putra-putra > > bangsa ini untuk berkompetisi dengan semua bangsa lain dalam hal > > mencari/mendalami ilmu : kualitas, efisiensi, efektivitas, maupun > > kuantitasnya. > > Berikut ini akan disampaikan sejumlah macam solusinya. Namun >akan > > saya batasi dengan teknologi. Untuk bidang lainnya saya persilahkan >kepada > > siapa pun yang berminat untuk mengupasnya. > > > > CARA I > > > > ---------- > > > > Taroklah standar waktu minimal untuk menjadi insinyur di >Indonesia > > sekitar 4,5 tahun, walaupun dalam prakteknya sebagian besar baru > > menyelesaikannya lebih dari itu. > > Sebagaimana teknologi yang selalu mengalami dinamika proses >nilai > > tambah efisiensi/efektivitas, apa salahnya itu berlaku pula dalam > > Peruruan Tinggi, khususnya bidang tehnologi. Misalkan, bagaimana >hanya > > dalam 2,25 tahun saja, wawasan mahasiswa sudah ekuivalen dengan > > wawasan seorang insinyur yang diidealkan berdasarkan kurikulum >Peruruan > > Tinggi di Indonesia. > > Berarti ia telah menghemat waktu sampai 50 persen dalam proses > > belajar. Taroklah sisa waktunya dipakai belajar dengan pola yang sama, > > maka saat wisuda pada 4,5 tahun kemudian, kualitas insinyurnya menjadi >dua > > kali lipat. > > Apakah bisa? Saya berani mengatakan : "Bisa!" > > Esensi pemikiran saya adalah mengajak/memotivasi mahasiswa >mempunyai > > obsesi untuk berwawasan teknologi dengan substansi lebih dari yang > > diidealkan tersebut. > > Namun mohon tidak terperangkap dengan istilah 50 persen. Itu >hanya > > patokan saya saja. Tetapi ya syukur-syukur bisa terwujud. Malah lebih >dari > > itu. > > Mau berapa persen pun silakan saja. Toh setiap mahasiswa > > mempunyai kemampuan berlainan dalam menyerap ilmu dalam kurun waktu >yang > > sama. > > Ilustrasinya begini : > > Anggaplah masa kuliah dengan "disket 1,4 MB". Sedangkan >satuan > > ilmunya dengan file "animasi". Bila diisi dengan format *.BMP @ 35 KB, > > total yang bisa masuk hanya 40 file. Tetapi kalau dikonversikan ke > > format *.JPG @ 17,5 KB menjadi 80 file. > > Berarti penghematan 50 persen, bukan? > > Kita ambil contoh ilustrasi lainnya dari anak-anak. > > Taroklah kita menemukan suatu jenis batu di Amerika Serikat, > > yang di Indonesia hampir tidak ditemukan. > > Ketika pulang ke tanah air, tanyakanlah kepada bocah kelas I >SD, > > "Kalau batu ini dilemparkan ke kepalamu, bagaimana rasanya?". "Ya > > ...sakit, dong!", begitulah jawabannya. Bisa kita perkirakan dengan >mudah. > > Nah ... apa yang menjadi patokannya, sehingga si anak bisa > > menyimpulkan demikian? Padahal melihat batu itu pun belum pernah. > > Jawabannya tentu saja berdasarkan sifat batu yang mungkin > > pernah ditemuinya di mana ketika menimpa kepala, yang bersangkutan > > merasa sakit. Terlebih kalau itu dialaminya sendiri. > > Apakah untuk menjawabnya, ia harus menanyakan dulu kepada >guru > > atau orangtuanya? Jelas tidak perlu. > > Malah ia pun akan bisa menjawab pertanyaan, "Bagaimana sifat >batu > > ini?", dengan jawaban, "Keras!", walaupun tidak dirabanya. > > Taroklah kita membawa 100 macam batu langka, ia pun tetap bisa > > menjawab untuk pertanyaan yang sama. Berarti kan ia mempunyai >tambahan > > 100 macam ilmu dalam tempo singkat hanya > > dengan pengalaman dari beberapa sifat batu yang sering ditemuinya. > > Jadi esensin tersebut, bagaimana cerita si anak bisa > > ditransformasikan/ diimplementasikan dalam Perguruan Tinggi? Khususnya > > dalam upaya penghematan waktu secara maksimal untuk menjadi insinyur. > > Amatilah sepuluh atom pertama dalam sistim periodik di bawah ini >: > > Hidrogen (H), Helium (H), Lithium (Li), Berilium (Be), Boron >(B), > > Carbon (C), Nitorgen (N), Oksigen (O), Flour (F), dan Neon (Ne) > > Nah ... bagaimana dengan hanya mempelajari ini saja, mahasiswa > > memahami sifat seluruh jenis atom tentang fenomena fisika tertentu. > > Sehingga kalau ditanyai hal serupa untuk atom berikutnya : >Natrium > > (Na), Magnesium (Mg), sampai Hahnium (Ha), ia bisa menjelaskan dengan > > mengacu pada sepuluh jenis atom pertama. > > Taroklah waktu mempelajari setiap atom adalah 2 jam. Berarti > > semuanya menghabiskan 20 jam. > > Tetapi karena dipahami secara tuntas/dalam, maka untuk >mempelajari > > sifat seratus jenis atom lebih itu tentang fenomena tersebut, cukup >dengan > > seratus jam saja. Berarti bisa menghemat waktu sampai 50 persen. > > Tentu saja harus dijawab dulu pertanyaan : Bagaimana koefisien >sifat > > pada 10 atom pertama terhadap fenomena tersebut dari aspek > > hitungannya? Apakah berirama bak deret bilangan beraturan (1, 4, 7, >11, > > 15, 19, dst) atau berantakan bak deret bilangan prima (2, 3, 5. 7, 11, >dst) > > Sedangkan untuk Kimia, ilustrasinya busa kita ambil contoh : >Metana > > (CH4), Etana (C2H6), dan Propana (C3H8). > > Nah ... bagaimana dengan modal mempelajari tiga macam ini >saja, > > seperti elastisitasnya, sehingga untuk memahami/memperdiksi >hidrokarbon > > tingkat yang keempat dan seterusnya, mahasiswa tidak perlu lagi >terlalu > > memeras otak, yang gilirannya bisa menghemat waktu. > > > > CARA II > > > > ----------- > > > > Meningkatkan kualitas insinyur pun bisa juga dilakukan dengan > > memahami sebagian kecil kurikulum secara tuntas. Misalkan Polan > > memperoleh paket pelajaran "A1, A2, A3, A4" sampai "Z1, Z2, Z3, Z4". > > Berarti 26 ilmu. Khusus untuk paket "M1, M2, M3, M4" dipelajari >secara > > mendalam. Selebihnya sepintas saja. > > Karena ia memahami "M1, M2, M3, M4" secara tuntas, ia pun > > berhasil melakukan hubungan relationis secara interen pada "M1, M2, M3, >dan > > M4" sehingga menghasilkan "4 faktorial ilmu", yaitu 1 x 2 x 3 x 4 >ilmu = > > 24 ilmu, seperti "M1, M3, M2, M4" dan "M4, M2, M3, M1". > > Karena semakin didalami, muncul pula inisiatif >mengkombinasikan > > antara sejumlah ilmu, seperti "M1, M3, M2, M4" "M1, M2, M3, M4", dan >"M4, > > M2, M3, M1" > > Bisa dibayangkan berapa banyaknya produktivitas ilmu u dari >hasil > > rekayasa otaknya. > > Berarti semakin besarlah peluang untuk menyeleksi, mana saja >ilmu > > yang sesuai dengan selera manusia, serta bisa bersaing dengan >mereka > > yang cara belajarnya menggunakan cara yang sama. Rasanya akan > > semakin dahsyat lagi produktivitasnya bila ia terkonsentrasi total >pada > > "M1, M2, M3, M4". > > Coba bayangkan. Bagaimana pula jika ia tidak mendalaminya > > sedikit pun. Tentu 26 ilmu itu tidak lebih dari sekedar mekanisme >simbol > > tanpa makna. > > Mari kita kembali pada masalah "M1, M2, M3, M4". > > Bagaimana ilmu itu merupakan ilustrasi dari "elektron"? Berarti > > mahasiswa itu mendalami elektron dalam rangka memahami sifatnya pada > > berbagai situasi dan kondisi. Sekaligus akan membuat pemikirannya >seputar > > elektron semakin fleksibel. > > Sehingga mudahlah baginya mengatasi hambatan/membuat terobosan >bidang > > tehnis pada produk elektronika. > > Sosok seperti itu tidak hanya bisa menjawab seputar >pertanyaan > > seperti :"Bagaimana sifat material a, b, c, atau .... dalam > > elektronika?", juga "Bagaimana dengan material yang mempunyai sifat >x1, > > x2, x3, dst, serta diolah dengan cara y1,y2, y3, dst, dengan sarana >z1, > > z2, z3, dst, pada situasi u1, u2, u3, dst, bisa menghasilkan produk > > elektronika yang ber v1, v2, v3, dst, dengan harga jual w1, w2, w3, >atau > > ...." > > Taroklah berakhir dengan jawaban, "Tidak bisa". Mereka pun >akan > > bisa merangkang, "Mengapa ....?", dengan jawaban, "Karena ...." atau > > "Akibat .....", berdasarkan berbagai rumus perhitungan yang terkait. > > Akhirnya terciptalah pengertian ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan. > > Dampak pemahaman teknologi secara tuntas terhadap ekonomi >bisa > > kita ilustrasikan dengan "web siter", yaitu mereka yang ahli dalam > > pembuatan homepage. > > Coba kita renungkan, bagaimana kalau ia tidak memahami tag >secara > > tuntas. Misalkan fungsi <TABLE BORDER = "a"> tidak masuk dalam >otaknya. > > Walaupun hanya satu macam tag saja ... tetapi bisa menjadi batu > > sandungan dalam pembuatan sebuah web page. > > Bagaimana pula kalau web page itu merupakan pesanan di mana >pemesan > > ingin agar muncul gambar kotak pada layar monitor? Wah peluang bisnis >pun > > bisa menjadi gagal. Soalnya konsumen tidak mau menerimanya. > > Taroklah pesanan itu mempunyai nilai proyek sampai Rp. 1 Milyar. > > Sementara tidak ada satu web site di tanah air pun bisa melakukannya? > > Jangan heranlah bila diambil alih web siter asing. > > Nah ... marilah kita larikan pada insinyur di mana di >kampusnya > > belajar tentang busi. Apa jadinya bila ia tidak memahami masalah >busi > > motor secara tuntas. Artinya, ada satu faktor yang tidak masuk dalam > > otaknya, yaitu akurasi kelengkungan pada salah satu bagian dari >permukaan > > onderdil tersebut. > > Bukankah ia akan mengalami kendala untuk memproduksinya, >walaupun > > ilmu tentang busi sudah banyak dikuasainya. Walaupun bisa dipakai >juga, > > tetapi dari segi kualitas akan kalah bersaing dengan busi yang > > tercipta dari rancangan insinyur yang berpikir tuntas. > > Celakanya kalau semua insinyur kita seperti itu. Ya ... >terpaksalah > > busi harus diimpor. > > Itu baru satu onderdil. Bagaimana pula kalau hal serupa >terjadi > > pada onderdil untuk produk lainnya : komputer, kulkas, sampai traktor. > > Tentu ya ... harus impor juga kan. > > Karena terus impor akhirnya ya ... ikut mempengaruhi mata rupiah. > > Jadi kalau mau bersaing di bidang produk, teknolog dituntut harus > > bersaing pula dalam pemahaman proses kehadirannya. Termasuk > > bagaimana interaksi molekulnya terhadap lingkungan sekitarnya : > > tekanan, suhu, gerakan, udara, sampai sentuhan. Malah ketika sudah > > berbentuk pun, ia harus pun bisa bersaing dalam hal memahami berbagai > > sifatnya di kemudian hari, seperti struktur molekul, karakter tangan > > manusia, dan gravitasi bumi. Tiada lain agar bisa diperkirakan akan >daya > > tahannya sehingga. Bukankah ini gilirannya sangat menentukan > > permintaan pasar? > > Miriplah dengan web siter saat membuat web page untuk homepage. >Ia > > sudah bisa membayangkan tentang penulisan source HTML-nya setiap >kali > > ada pesanan dengan faktor kesulitan dan nilai keindahan bagaimana pun. > > CARA III > > Meningkatkan kualitas insinyur pun bisa dengan merencanakan pola > > belajar sejak dini sehingga setelah menjadi alumnus bisa diterapkan ke > > berbagai bidang lapangan pekerjaan. Tentu saja bukan banting setir, > > tetapi karena memang ada relevansinya. > > Ilustrasinya bisa kita ambil dari materi Matematika kelas I SD. > > Misalkan "1 jeruk + 1 jeruk = 2 jeruk", "2 bebek + 3 bebek = 5 bebek", >dan > > "3 bola + 1 bola = 4 bola". > > Sesungguhnya dengan memahami itu saja anak bisa bekerja di mana >saja. > > Coba saja kita suruh bekerja di IPTN. Saya yakin, kalau sang >dirut > > menyuruhnya menghitung 3 helikopter + 3 helokopter, ia akan >bisa > > menjawabnya segera. > > Kemudian suruh jugalah bekerja di bank. Saya rasa ia pun akan >bisa > > menjawab ketika disuruh menghitung 1 US dolar + 1 US dollar. > > Pokoknya di lembaga/instansi mana saja, ia akan bisa bekerja >untuk > > hitungan seperti itu, termasuk di toko swalayan, pabrik kosmetika, >kantor > > Pemda, sampai industri mobil. > > "Apakah diperbolehkan ?" atau "Berapa gajinya?" itu lain > > masalahnya. Tergantung kebutuhan. > > Yang jelas, hanya dengan bermodalkan hasil belajar itu saja, ia >sudah > > bisa bekerja di mana saja. > > Memang ia bisa saja di sekolahnya tidak pernah disuguhi kata > > "helikopter" at > > au "dollar". Tetapi karena esensinya sudah tertanam dalam otaknya di >mana > > ia pun merasakannya sebagai yang terhubungkan realitas kehidupan >sehingga > > bisa ia terapkan di mana saja. > > Demikian seterusnya. Sehingga bila pola belajarnya itu terus >berlanjut > > sampai duduk di bangku Perguruan Tinggi bidang teknologi, maka >besarlah > > peluangnya untuk bisa di banyak pekerjaan setelah menjadi alumnus. > > Alumnus Tehnik Kimia, misalnya, bisa saja berkiprah di bidang > > masakan. Walaupun selama di kampusnya tidak pernah melakukan eksperimen > > untuk itu, namun banyak prinsip dasarnya bisa diterapkan. > > Malah terkadang terbayang oleh saya, bagaimana bila alumnus >Tehnik > > Kimia seperti itu membuka konsultan masakan di rumahnya. Ya ... > > miriplah dengan dokter. > > Misalkan : pagi mengajar di Perguruan Tinggi dan Siang > > bekerja di Perusahaan Negara. Barulah Sore harinya di rumah >memecahkan > > segala problema masakan dari masyarakat : efisiensi, citarasa, sampai > > efektivitas. > > Bila sampai kini masih ada kesan dikotomis keduanya di kalangan > > masyarakat, itu bukan lagi urusan Tehnik Kimia, tetapi sudah > > merupakan "tradisi cara pandang". > > Taroklah "laboratorium kimia" boleh diartikan sebagai tempat > > mengolah sumber daya alam dengan jenis apa saja. Berarti frekwensi > > kegiatannya bukan terjadi di lembaga pendidikan, terutama Perguruan > > Tinggi, melainkan justru di dapur. Malah mayoritas pelakunya pun >adalah > > ibu rumah tangga. > > Jadi kehadiran sosok alumnus Tehnik Kimia seperti itu sangat >penting > > dalam upaya memberikan nilai tambah terhadap masakan. Khususnya bagi >para > > ibu rumah selaku tiang negara dalam penyediaan pangan melalui >keluarganya > > masing-masing. > > Bila dari hasil konsultasi itu saja bisa dihemat minyak tanah > > sampai 10 persen per hari, misalnya, berapa besar rupiah anggaran > > belanja bisa ditekan dalam satu bulan. Itu baru satu macam. Tentu >bisa > > ditaksir bila hal serupa pun terjadi pula pada komponen Sembako >lainnya. > > Mari kita kembali ke masalah pokok. > > Singkatnya, alumnus otak insinyur diharapkan seperti pisau >multi > > fungsi. Walaupun setiap kali selesai diasah hanya dicoba untuk >mengupas > > mangga, tetapi hendaknya ketika sudah tajam > > bisa dipakai untuk beragam jenis buah. > > Mahasiswa Telekomunikasi, misalkan, hendaknya jangan hanya >mempunyai > > target untuk bisa bekerja di TELKOM, Indosat, sampai Satelindo. > > Apa salahnya direncanakan juga di lembaga perhubungan darat, >walaupun > > taroklah selama di kampus atau studinya nya hampir tidak tidak pernah > > disuguhi masalah tersebut. > > Semua itu akan berjalan jika para mahasiswa menghayati akan arti > > teknologi sebagai sarana pemecahan berbagai problema tehnis > > kehidupan. Karenanya > > diharapkan pada mereka untuk melakukan evaluasi : "Berapa ilmu yang > > diperoleh hari ini", "Ilmu apa saja yang belum dipahami", dan "Mana >saja > > ilmu yang bisa diaplikasikan". > > Itu gilirannya akan membuat mereka merasakan kampus >sebagai > > gudang teknologi berisi kunci emas untuk mengubah atau memperbarui > > berbagai sektor kehidupan menjadi "semakin baik, semakin indah, >dan > > semakin praktis". (Nasrullah Idris, bidang studi : > > Reformasi Sains/Matematika/Teknologi) ______________________________________________________ Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com ______________________________________________________ Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
