>Notrida Mandica wrote:
>
>> Dear Permias,
>>
>> Seperti yang saya janjikan bahwa saya akan coba membuka diskusi tentang
>> SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL.
>> Awalnya saya hendak membuat kelompok diskusi kecil, namun nampak tak adil
>> bagi sebagian rekan-rekan yang ingin juga mengetahui jalannya diskusi kita.
FNU Brawijaya <[EMAIL PROTECTED]>:
>Lebih tepatnya, agak sulit untuk mendapatkan peserta yg mau serius berdiskusi
>dalam kelompok kecil...hehehe....
Yw: Lebih seriusnya, agak tepat untuk mendapatkan peserta yang
kecil berdiskusi dalam kelompok sulit.
>> Tulisan Bang Nasrullah dan Bang Blucer bisa kita jadikan titik tolak
diskusi
>> kita.
>>
>> Akan saya label session ini sebagai ELEMENTS OF EDUCATIONAL SYSTEM
>>
>> A. Waktu
>> B. ...
Yw: Selain waktu (dan ini terkait juga dg kenapa waktu menjadi
penting, dg kata lain: pendidikan memerlukan waktu, nggak
bisa instant) yang terpenting adalah memahami nature ilmu
pengetahuan itu sendiri.
Gampangnya, pendidikan itu adalah suatu arrangement
yg memperlancar/memudahkan transfer of knowledge dari
satu pihak ke pihak lain.
Pengetahuan itu sendiri sifatnya seperti gunung es.
Ada bagian yg kasat mata (eksplisit, dan gampang ditransfer)
dan ada bagian yg tidak kasat mata (tacit, dan sulit
ditransfer).
Sebagai contoh: pengetahuan ttg. berenang. Orang yg belajar
berenang, harus menyerap kedua unsur pengetahuan ttg berenang
itu (baik yg eksplisit, maupun yg tidak). Kalo yg eksplisit/
documented sih bisa belajar dari buku, tapi yg tacit, harus
learning by doing, mau nggak mau.
Seperti kita ketahui, tidak ada satu orang pun di dunia ini
yg langsung jago berenang cuma dari baca buku doang, cuma belajar
teori doang. Sehafal-hafalnya dia isi buku (misalnya jenius),
kalo belum pernah 'learning by doing', begitu dicemplungin ke
banjir bengawan solo, pasti super panik juga (kalo belum
keburu anumerta).
Itu sekedar contoh, dan demikian pula pengetahuan ttg.
nyupir mobil, pengetahuan ttg. buka wartel, dan ttg
engineering. Karena secara logika: 'ilmu berenang' saja yg
sederhana memiliki tacit knowledge yg demikian kompleks (yg hanya
bisa diserap melalui learning by doing), apalagi engineering.
Lainnya itu, dalam menyerap ilmu pengetahuan secara lengkap,
transfer teknologi/pengetahuan itu mirip 'mencuri' atau
'mencopet' teknologi/pengetahuan. Terjadi secara smooth,
kadang-kadang tanpa disadari. Misalnya: anak kecil. Dari
semula nggak bisa komunikasi sama sekali, berinteraksi dg
kita, tahu-tahu tanpa kita sadari dia sudah bisa bicara
lancar (meniru kita).
Dan salah satunya strategi copet/pencuri yg efektif, adalah
interaksi yg intens, (selain yg formal, perlu juga) yg informal
dan asik, dg calon korban. ;-) Tidak ada engineer yg tahu-tahu
piawai dalam keilmuannya tanpa pernah berinteraksi dg engineer
lain atau perangkat/alat yg perlu diakrabinya. Dan ini perlu
waktu.
Secara logika bisalah dibayangkan... Bila anda copet,... tanpa
interaksi yg intens (dg calon korban anda), akan sulit sekali
dompet calon korban anda itu berpindah ke tangan anda secara smooth.
Betul tidak? Eh, kok saya minta konfirmasi... ;-)
Konfirmasi dg siapa. ;-)
...
Disclaimer: soal copet mencopet ini cuma ilustrasi.
Menggambarkan bagaimana sulit/mustahilnya transfer teknologi
bila hanya melalui saluran formal di kelas training.
:-)
Mungkin untuk lebih jelas, satu ilustrasi lagi. Kalo ini
bukan copet lagi contohnya. Cepot juga bukan. ;-)
(Soalnya takut didiskusikan lebih lanjut secara melenceng ;-).
Dalam belajar bahasa. Mengulang yg di atas.
Kelas-kelas kursus bahasa (Toefl prep 100 jam, kursus conversation,
kursus ini dan itu, yg semuanya formal), ini menggambarkan transfer
of knowledge (dlm berbahasa) yg penuh kelemahan. Karena itu tadi:
yg tertransfer adalah knowledge 'yg berada di permukaan gunung es'.
Sementara contoh yg berhasil: adalah anak kecil!
Anak-anak yg 'dilepas' di London tiga tahun. Jauh lebih sip dari
orang yg belajar bahasa Ing di kelas dari usia SMP (umur 13 thn)
sampe mau kuliah S-2 (umur 33 th. Ie. 20 tahun!). Anak kecil itu:
vocabnya lebih kaya, lebih ekspresif (dalam pemilihan kata
dlsb, dalam ekspresi wajah), bisa niru intonasi, logat, dan
aksennya secara sempurna. dst.
Kuncinya al: [1] learning by doing; [2] interaksi yg intens dg
sumber knowledge; dan [3] kemauan bejar yg tinggi (entah karena
kepepet atau natural).
Dg ini, maka bisa disimpulkan, kalo yg kita inginkan adalah
kualitas; walopun faktor waktu penting banget. Bisa dipendekkan,
tapi dikit. Waktu itu perlu utk 'pengendapan' ilmu tsb di kepala
orang yg belajar.
Sementara yg belajar di kelas (plus kursus) selama 20 tahun
itu... plembang-plembung, seringkali masih ngomongnya logat Jawa,
atau Madura, atau Sunda, dll. Is that right, tak' iye? ;-)
:-)
(Terjemahan: plembang-plembung itu bahasa Indonesianya adalah
apa ya... Ta'uk deh, kayaknya nggak terjemah-able. ;-).
Segini aja dulu, deh. Capek.
Semoga bermanfaat (buat mengacaukan diskusi atau meluruskan ;-).