Yusuf-Wibisono wrote:
> FNU Brawijaya <[EMAIL PROTECTED]>:
>
> >Lebih tepatnya, agak sulit untuk mendapatkan peserta yg mau serius berdiskusi
> >dalam kelompok kecil...hehehe....
>
> Yw: Lebih seriusnya, agak tepat untuk mendapatkan peserta yang
> kecil berdiskusi dalam kelompok sulit.
>
Lebih sulitnya, jadi soal serius untuk mendapatkan peserta yang tepat untuk berdiskusi
dalam kelompok yg punya anggota kecil (pikirane).....
Saat waktu belajar tidak dibatasi (boleh lulus setelah 15 tahun), alasan utamanya
adalah subsidi bagi siswa dan daya tampung yg tersedot oleh mahasiswa abadi.
Namun demikian beberapa ahli ada yg berkeberatan dengan batasan waktu 7.5 tahun
lalu kena DO. (sekarang nggak tahu berapa tahun). Alasannya kita kehilangan kesempatan
untuk mendapatkan tenaga siap pakai. Tadinya kan banyak yg magang lalu lupa kalo
mesti lulus. Saat ini dg bobot kuliah dan batasan waktu 7.5 tahun tidak memungkinkan
atau menyulitkan mhs untuk magang. Ini senada dg proses transper op nolej dari YW .....
Selain itu tidak boleh dilupakan faktor konsumennya, yaitu:
1. Suka endak sih terima sarjana yg lulus 2 tahun (dg alasan maturity dan kesempatan
menyerap kehidupan kampus baik yg akademik maupun non-akademik)?
2. Mampu nggak konsumen menerima limpahan tenaga kerja hasil crash program
versi IBA ini (Ida-Blucer-Acu)?
Selain itu, dg kondisi sulit di Indonesia saat ini, apakah perlu mendapatkan tenaga
kerja tambahan dengan maturity yg masih perlu diteliti lebih lanjut ini. Dengan kondisi
saat inipun (dg asumsi mhs mampu menyerap knowledge dg waktu 4 tahun itu) sudah
terjadi oversupply tenaga kerja.
Contoh kasus adalah di Timtim, pembuatan berbagai sekolah tidak dibarengi oleh
pencetakan konsumen. Hasilnya banyak yg nganggur. Kembali ke sawah sudah enggan,
jalan tergampang daripada nggak ada kerjaan ya bikin kerusuhan.
Contoh kasus yg lain adalah crash program di jaman ane. Beberapa jurusan macam
Elektro, TI, Mesin, dan Informatika dipermudah kelulusannya agar mampu memenuhi
kebutuhan pasar untuk sarjana-sarjana bidang tsb. Entah kenapa, ternyata setelah
lulus ya sama saja, pasarnya ya segitu-segitu saja. Alih-alih kerja di bidangnya,
akhirnya
pada kerja di bank yg kebetulan lagi boom (dan sekarang pada kolaps, hehe). Ada
yg kerja di telkom (eh, ini pas kali). Jadinya crash programnya itu jadi nggak jelas
deh keuntungannya di mana.
Menurut saya sih daripada berusaha mempercepat waktu belajar yg di AS inipun cuman
kecil kemungkinannya (semua main course bukannya ditetapkan di tiap semester yg
menyulitkan percepatan tadi), lebih baik membuat usulan yg lebih mendasar yaitu:
- penyusunan kurikulum yg lebih fleksible agar memungkinkan mhs bikin program
studi yg rada taylor-made (memungkinkan untu mempercepat juga, tapi bukan itu
tujuannya).
- Yang memungkinkan mhs memperkaya pengetahuan dg jalan mengambil dual degree
atau triple, atau quadruple, bahkan apple juga boleh...
(apel bisa berarti 0 degree, bisa juga bener-bener nyopet apple di pasar untuk
memperkaya pengetahuan mencopet, eh, memperkaya perut...hehehe).
--
Salam,
Jaya
--> I disapprove of what you say, but I will
defend to death your right to say it. - Voltaire
\\\|///
\\ - - //
( @ @ )
------------oOOo-(_)-oOOo-----------
FNU Brawijaya
Dept of Civil Engineering
Rensselaer Polytechnic Institute
mailto:[EMAIL PROTECTED]
--------------------Oooo------------
oooO ( )
( ) ) /
\ ( (_/
\_)