Salam,
Waktu saya kelas 3 SD di P. Siantar, ada beberapa tetangga kami yang
Tionghoa. Salah satu keluarga Tionghoa itu adalah pengusaha roti ketawa
(semacam cookies lah mungkin).  Saya tidak tahu siapa namanya. Tapi, baik
keluarga saya maupun orang-orang sekampung-- acap menyebut dia dengan
panggilan "Si Tauke". Sedangkan isterinya, kami panggil "Si Nyonya".

Si Tauke atau Toke itu baik sekali-- terutama kepada anak-anak kecil.
Keluarga Tionghoa ini selain memasok roti ketawa ke pertokoan, mereka juga
menjualnya secara eceran di rumah mereka. Di sini peran Si Toke amat
menentukan-- meninggalkan semacam jejak kesejatian manusia sederhana dan
terus terbayang di ingatan saya sampai sekarang. Kami sering diberinya "roti
ketawa" secara cuma-cuma. Bercanda dengan kami. Dulu, terutama pada sore-sore
jelang senja, sudah menjadi kebiasaan kami menyapa  dia dengan riang gembira.
Pada sore-sore seperti itu, Si Tauke pulang (entah darimana) dengan bersepeda
dan itu merupakan jam-jam bermain kami (main engklek, main ampera, main
sabur).
''Tauke.. Tauke... Tauke...,''demikian kami, anak-anak 7-11 tahun menyapanya.
''He-he-he....,''jawab dia, dengan wajah berseri, sumringah, penuh cinta.

Si Tauke ini baiknya minta ampun, tapi sayang isterinya, yaitu Si Nyonya
malah bersifat kebalikannya Si Nyonya ini dikenal sangat pelit, cerewet, dan
galak (tapi khusus kepada keluarga saya, si Nyonya ini baik kok, karena kami
bertetangga baik sekali, dan tiap Cap Go Meh mereka kirim kue bakul ke rumah
saya).

Syahdan pada sebuah sore-- seorang teman saya berniat membeli roti ketawa.
Saya lihat di sudah berdiri di depan rumah Si Tauke. Tapi  teman saya itu
berbalik, dan tak jadi membeli.
''Kenapa? Kok nggak jadi beli?,''tanya saya, polos.
''Nggak jadilah. Rupanya Si Toke nggak ada. Tadi yang ada Si Nyonya,''kata
teman itu.

Jika mau dibilang rasis, sebagaimana bung Vincent S, saya juga nggak
menemukan "kebencian rasis" dalam perkataan Tauke-- apalagi dalam konteks
posting bung Jaya. Tauke itu istilah biasa dan nggak aneh-aneh--
setidak-tidaknya bagi saya yang berlatar belakang orang Siantar dan Medan
yang tetangga dan lingkungan kesehariannya selalu bersama Tionghoa.

Waktu SMA di Medan, setahu saya istilah Tauke juga berlaku di antara teman
sepergaulan kami. Bagi anak yang punya duit dan diharapkan mau mentraktir
beli rokok atau Mi Tiau, biasanya kami bilang begini: ''Kaulah yang traktir.
Percumalah jadi Tauke.''

Padahal teman-teman SMA saya itu Jawa, Sunda, Batak dan kebetulan tidak ada
Tionghoa nya. Namanya anak sekolahan, tentu belum bekerja, dan jelas bukan
Tauke sama sekali.

Saya tidak tahu mau menempatkan di posisi mana posting saya ini. Yang pasti,
gara-gara kalian mendiskusikan istilah "Tauke" itu-- saya jadi terbayang
wajah dan penampilan Si Tauke penjual roti ketawa itu. Saya terharu betapa
Tuhan begitu dahsyat berkeinginan "mengenalkan" orang sebaik Si Tauke kepada
saya dulu. Kemana Si Tauke itu sekarang, ya?

salam,
ramadhan pohan
p/s: Kalo ade kate-kate yang sale, maapin aye ye...

Kirim email ke