ok people,
Kasus "tauke" ini seperti kasus Monica Lewensky aja.
I think, we got enough of it already, sekarang marilah
kita discussikan mainan Bung Pohan yang sama sekali
saya nggak ngerti:-)
"main engklek, main ampera, main sabur"?
atau kalo nggak, kita disukusikan tentang "tokek"
aja:-)
salam
Ali Simplido
--- Ramadhan Pohan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Salam,
> Waktu saya kelas 3 SD di P. Siantar, ada beberapa
> tetangga kami yang
> Tionghoa. Salah satu keluarga Tionghoa itu adalah
> pengusaha roti ketawa
> (semacam cookies lah mungkin). Saya tidak tahu
> siapa namanya. Tapi, baik
> keluarga saya maupun orang-orang sekampung-- acap
> menyebut dia dengan
> panggilan "Si Tauke". Sedangkan isterinya, kami
> panggil "Si Nyonya".
>
> Si Tauke atau Toke itu baik sekali-- terutama kepada
> anak-anak kecil.
> Keluarga Tionghoa ini selain memasok roti ketawa ke
> pertokoan, mereka juga
> menjualnya secara eceran di rumah mereka. Di sini
> peran Si Toke amat
> menentukan-- meninggalkan semacam jejak kesejatian
> manusia sederhana dan
> terus terbayang di ingatan saya sampai sekarang.
> Kami sering diberinya "roti
> ketawa" secara cuma-cuma. Bercanda dengan kami.
> Dulu, terutama pada sore-sore
> jelang senja, sudah menjadi kebiasaan kami menyapa
> dia dengan riang gembira.
> Pada sore-sore seperti itu, Si Tauke pulang (entah
> darimana) dengan bersepeda
> dan itu merupakan jam-jam bermain kami (main
> engklek, main ampera, main
> sabur).
> ''Tauke.. Tauke... Tauke...,''demikian kami,
> anak-anak 7-11 tahun menyapanya.
> ''He-he-he....,''jawab dia, dengan wajah berseri,
> sumringah, penuh cinta.
>
> Si Tauke ini baiknya minta ampun, tapi sayang
> isterinya, yaitu Si Nyonya
> malah bersifat kebalikannya Si Nyonya ini dikenal
> sangat pelit, cerewet, dan
> galak (tapi khusus kepada keluarga saya, si Nyonya
> ini baik kok, karena kami
> bertetangga baik sekali, dan tiap Cap Go Meh mereka
> kirim kue bakul ke rumah
> saya).
>
> Syahdan pada sebuah sore-- seorang teman saya
> berniat membeli roti ketawa.
> Saya lihat di sudah berdiri di depan rumah Si Tauke.
> Tapi teman saya itu
> berbalik, dan tak jadi membeli.
> ''Kenapa? Kok nggak jadi beli?,''tanya saya, polos.
> ''Nggak jadilah. Rupanya Si Toke nggak ada. Tadi
> yang ada Si Nyonya,''kata
> teman itu.
>
> Jika mau dibilang rasis, sebagaimana bung Vincent S,
> saya juga nggak
> menemukan "kebencian rasis" dalam perkataan Tauke--
> apalagi dalam konteks
> posting bung Jaya. Tauke itu istilah biasa dan nggak
> aneh-aneh--
> setidak-tidaknya bagi saya yang berlatar belakang
> orang Siantar dan Medan
> yang tetangga dan lingkungan kesehariannya selalu
> bersama Tionghoa.
>
> Waktu SMA di Medan, setahu saya istilah Tauke juga
> berlaku di antara teman
> sepergaulan kami. Bagi anak yang punya duit dan
> diharapkan mau mentraktir
> beli rokok atau Mi Tiau, biasanya kami bilang
> begini: ''Kaulah yang traktir.
> Percumalah jadi Tauke.''
>
> Padahal teman-teman SMA saya itu Jawa, Sunda, Batak
> dan kebetulan tidak ada
> Tionghoa nya. Namanya anak sekolahan, tentu belum
> bekerja, dan jelas bukan
> Tauke sama sekali.
>
> Saya tidak tahu mau menempatkan di posisi mana
> posting saya ini. Yang pasti,
> gara-gara kalian mendiskusikan istilah "Tauke" itu--
> saya jadi terbayang
> wajah dan penampilan Si Tauke penjual roti ketawa
> itu. Saya terharu betapa
> Tuhan begitu dahsyat berkeinginan "mengenalkan"
> orang sebaik Si Tauke kepada
> saya dulu. Kemana Si Tauke itu sekarang, ya?
>
> salam,
> ramadhan pohan
> p/s: Kalo ade kate-kate yang sale, maapin aye ye...
>
_________________________________________________________
Do You Yahoo!?
Free instant messaging and more at http://messenger.yahoo.com