In a message dated 5/20/99 3:11:11 AM !!!First Boot!!!, [EMAIL PROTECTED]
writes:

<<
 Bung Ramadhan,

 Mengenai ajakan Bung Ramadhan untuk berdiskusi tentang
 kekayaan Soeharto dan permintaan Ghalieb ke Deplu
 (KBRI & KJRI) untuk menyelidiki harta Soeharto di luar
 negeri, saya (sbg seorang mahasiswa dan sekaligus
 rakyat kecil) mungkin kurang pantas untuk memenuhi
 ajakan Bung Ramadhan, karena orang yang paling pantas
 adalah Bung Mahendra Siregar Kepala Bidang Penerangan
 KBRI Washington, D.C.

 Jadi gimana nih Bung Mahendra, apa tindakan KBRI atau
 Deplu dalam menindaklanjuti laporan TIME? Apakah KBRI
 akan membantah laporan tsb? Ataukah akan
 mendiamkannya? Dan kalo memang iya, apakah ini bukan
 berarti KBRI/DEPLU telah membantu Soeharto untuk
 mencuri uang rakyat?

 Mudah2-an pertanyaan saya di atas merupakan pertanyaan
 yang pantas.  Maksud saya, saya ini (seperti juga Bung
 Jossi yang menanyakan penggunaan Dana Sisa Anggaran
 KBRI) hanya ingin menggunakan hak tanya saya sebagai
 seorang warga negara.

 Mudah2-an jawaban yang saya antisipasi tidak datang
 dengan sebuah "penyesalan" dari Pak Dubes (Pak
 Dorojatun).  Karena dalam pertanyaan Bung Jossi, Pak
 Dubes sendiri sempat menyesalkan penggunaan internet .
 Saya sendiri menilai penyesalan tsb sebagai sesuatu
 yang kurang bijaksana karena Deplu/KBRI bukanlah
 sebuah CIA yang budgetnya is classified karena alasan
 national security.

 Wassalam

 Ali Simplido

  >>
Sebenarnya saya pusing mikirin issue tersebut. Semua saling lempar tanggung
jawab.
Habibie-Ghalieb-DEPLU-KBRI/KJRI/DEPLU-KEJAKGUNG-HABIBIE-DPR/MPR-HABIBIE dts,
dll, dslj..... Muter banget. Birokratis. Padahal kalau bilang, ''Saya/kami
nggak mau mengusut itu, Anda mau apa?!''. Gitu kan beres. INi nggak... muter
terus, njelimet banget.

Belum lama ini, lewat JAPRI-- seorang wanita minta saya ikut menelusurinya
sendiri. Walau dana terbatas, saya sempat juga melakukannya-- beberapa bulan
silam. Cuma dapat sedikit dan sangat terbatas:-) Awak ini apalah, lalat pun
tak hinggap:-)

Kembali ke soal KBRI/KJRI-- dengan dana gede dan wewenang gede-- 99,99% pasti
mampu melakukannya. Soal "kemauan"-- itu yang jadi masalah. Pasalnya, di sini
dibutuhkan keberanian dan komitmen moral. Tanpa itu, omong kosong lah.  Kalau
mau lebih mantap, tanya ke bung George J. Aditjondro saja deh.


salam,
ramadhan pohan
(penyimak)

Kirim email ke