...

>Irwan:
>Nah, yg terjadi sekarang itu ngga begitu bung Yusuf.
>Makanya saya pertanyakan dalam posting terdahulu.
>Kesalahan kita waktu jaman orba itu khan membiarkan
>terjadinya pengangkatan 600 orang dari 1000 orang
>anggota MPR/DPR.

Yw: Dulu jaman represif, sih... Jadi yg 600 orang
    mana berani bergerak berdasarkan nurani.
    Sekarang, jamannya lain. Anyway, in the next
    period (of MPR/DPR, like next year maybe)
    saya setuju, banyak yg harus diimprove.

    Anyway kalo voting diubah (lagi) jadi tertutup,
    peluangnya makin oke lagi (buat reformis).

    Ini asumsi saya: saya berprasangka baik,
    bahwasanya anak-anak bangsa menginginkan
    Indonesia tidak bubar perang saudara / chaos.

>>  Yw: Yg 38 itu, logisnya satu suara (kalo voting).
>>      Tapi kalo pembahasan/musyawarah, ya bisa macem-macem
>>      (karena misah-misah di berbagai komisi).
>>      Sekarang kita fokuskan saja dalam mengambil keputusan
>>      memilih presiden. Okay?
>
>Irwan:
>Fakta lapangan 38 anggota ABRI/TNI itu memiliki 38 suara.

Yw: Iya benar. Kalo voting terbuka, begitu 'the
    highest (in rank)' melirik, semua pendapatnya
    pasti uniform (kali 38). Tapi kalo voting tertutup...
    come on,... Pernahkah anda menyelami kehidupan
    tentara? Banyak di antara tentara itu yg pemberani
    dan nekat (even yg sehari-harinya di belakang meja).
    Voting tertutup,... wow, yg dulunya dekat Rudini,
    mungkin pilih Rudini, yg deket Tri Sutrisno,
    yg deket Wiranto, yg deket Amien Rais, dlsb.
    Slogannya sih: Tni itu satu suara, but it's not.

    Kalo voting terbuka, no chance: 38 suara
    akan uniform (sesuai direct ordernya).

    An order is an order (unless if nobody sees,
    then do whatever you need to do).

...

>>      Salah satu interest Tni adalah memperbaiki citra.
>>      Iya, kan? Dan utk itu, dalam posisi demikian mereka
>>      akan, insya Allah, memilih strategi tut wuri handayani.
>>      Karena handayani itu orangnya memang cantik.
>>      Eh, tapi itu handayani yg lain lagi, ding. ;-)
>
>Irwan:
>Seberapa jauh anda yakin akan hal ini?

Yw: Bisa dikonfirmasi ke Tni-nya sendiri, sih,
    dari sekarang. Atau kita tunggu saja.

>Wong masalah Trisakti dan Semanggi aja ngga berani
>diteruskan sampai tuntas. Bagaimana pula dengan
>kasus Aceh, yg tampaknya bukan makin kalem malah
>makin rame, apa ini usaha2 TNI yg sedang mencoba
>memperbaiki citra tersebut? Saya ragukan.

Yw: Nanti dulu. Trisakti, Semanggi, Aceh, dll,
    itu kemungkinan besar tidak melibatkan yg
    38 orang secara langsung. So, maybe they care,
    maybe they don't. BUT, better TNI (image) will
    benefit everybody (including those 38 reps).

>Setelah pemilu nanti, saya perkirakan akan terjadi
>tarik2an suara dengan adu tawar2an. Bukannya
>tidak mungkin nanti agar TNI mendukung salah
>satu kekuatan, maka akan ditawarkan jabatan, mungkin
>wapres.

Yw: Ya, memang bisa. Tapi Amien Rais juga bisa
    menawarkan jabatan yg wapres buat orang Tni.
    Everybody (who wins) can give an offer,
    as good or as bad as Golkar, practically.

...

>Irwan:
>Apakah sudah disepakati voting mendatang akan dilakukan
>secara terbuka? Khan bisa saja dilakukan secara tertutup.
>Kalau ngga salah isu yg saya dengar akan dilakukan secara
>tertutup.

Yw: Okay, sekarang asumsikan voting tertutup.
    Makin asik, dong. Yg 200 orang nggak akan bisa
    'menjilat'. Kalopun golkar menang, mana orang
    tahu siapa yg milih apa... Dan karena itu,
    ngapain yg 200 orang tdk mengikuti hati nuraninya.
    Bagi mereka malah lebih asik. Uang dapet
    (andaikan dikasih), idealisme tetap bisa
    diwujudkan (sesuai hati nurani, karena voting
    tertutup). Dan kalo ikut hati nurani... 200
    orang... masak sih pilih Habibi semua di jaman
    gini? Even kalo yg 200 itu misalnya jelas-jelas
    anggota Golkar!

>Yusuf:
>>      Habibie pun, tdk akan secara vulgar memilih
>>      200 orang yg semuanya jelas-jelas pro dia, dan
>>      siap mati utk membela dia. Iya nggak?
>
>Irwan:
>Kalau saya jadi Habibie, saya ngga akan berspekulasi
>demikian. Saya akan pilih orang2 yg kelak akan memilih
>saya. Tinggal cari orang2 yg pandai beraktif saja yg pura2
>tidak mendukung saya tapi nanti dalam voting tertutup
>tersebut akan memilih saya. Tentunya iming2 uang akan
>terus berlangsung.

Yw: Gimana hal itu bisa dipastikan?
    (Kalo votingnya tertutup)

...

>Irwan:
>Saat ini saya sudah sulit untuk bisa percaya dengan
>tokoh2 tersebut. Sebentar bilang A, sebentar lagi
>bilang B. Sebentar dukung A, sebentar lagi dukung B.
>Bisa berubah2 seperti arah angin saja.

Yw: Setuju 100%. Orang berkembang/berubah.
    Remember Harmoko? Dia bisa sgt pragmatis sekali,
    dan dia bukan satu-satunya yg demikian.
    Dari yg 351 orang... bisa ada Harmoko-Harmoko
    yg lain...

>Yusuf:
>>      1. Habibie
>>      2. Wiranto
>>      3. Rudini
>>      4. Tri Sutrisno
>>      5. Nurkolis Majid
>>      6. Mar'ie Muhamad
>>      7. Amien Rais
>>      8. Gus Dur
>>      9. Mega
>>
>>      Terus voting... Kalo sampe 351 orang itu
>>      semuanya milih Habibie... saya yakin itu
>>      bukan terjadi di Indonesia.
>
>Irwan:
>Bisa saja demikian, tapi ujung2nya suara Habibie
>yg akan paling banyak di antara yg lainnya.

Yw: Dalam voting tertutup?

    Saya justru tidak akan heran kalo misalnya
    di antara yg Tni diam-diam ada yg simpati
    ke Amien Rais atau Megawati. Demikian pula
    di yg 200. Hati orang siapa tahu...

    Di depan muka, sih: yes, sir, I, I, sir,
    tapi begitu udah di belakang punggung,
    ngumpat-umpat... Voting tertutup justru
    tdk memungkinkan memaksa orang utk:
    'Aye, aye, sir'.

    Jadi repot, kan: (buat status quo)
    - Kalo voting tertutup: orang akan bergerak
      berdasar nurani. (Yg umumnya, karena saya
      berprasangka baik: nurani mereka anti st.quo).
    - Kalo voting terbuka: orang bisa 'dibina'
      utk pro status quo, tapi diancurin di
      jalanan. Jadi tetep st.quo nggak akan menang.

    Walopun anda benar, Habibie juga masih
    ada kesempatan (utk menang dlm voting tertutup).

>Yusuf:
>>      Apa anda yakin kekuatan status quo sekompak
>>      itu? Andaikan mereka sekompak itu,
>>      Mereka tdk akan lengser at the first place...
>>      Perpecahan di dalam itu luar biasa. (I suspect)
>
>Irwan:
>Apa yg kelihatan dari luar belum tentu sama
>dengan di dalam. Mungkin ada satu dua suara yg membelot,
>tapi saya ragukan jumlahnya akan banyak.

Yw: Ya, saya sih berprasangka baik aja:
    Nurani orang Indonesia umumnya pro reformasi... ;-)

...

>Irwan:
>Apakah anda sudah mendengar adanya bundelan
>kertas suara yg hilang?
>Saya juga sudah mendengar bahwa dengan bermodal
>fotokopi KTP saja dan tanpa yg bersangkutan hadir,
>sudah bisa mendaftar ikut pemilu.
>Tampaknya cara2 lama kemungkinan besar akan
>dilakukan kembali.

Yw: Jangan disangka bahwa itu SEMUA kerjaan
    pro Habibie. Logisnya, itu kerjaan sejumlah
    pihak, misalnya: yg niatnya menggagalkan pemilu.
    Katakanlah itu semua kerjaan pro status quo,
    tapi pro status quo itu tidak satu suara,
    munaslub Golkar yll mungkin cukup mewakili.
    PKP misalnya, boleh dibilang ini Golkar
    baru versi 2, tapi apakah milih BJH?

...

>>  Yw: Mana uangnya? Dan di jaman apa-apa bocor seperti sekarang,
>>      apakah mungkin gerakan sebesar itu tdk ketahuan?
>>      Menutup mulut orang 10, emangnya gampang? (Not to mention
>>      67 or 351). Kekuatan riil sekarang ada di jalanan
>>      (mahasiswa etc). Mereka sampe tahu, trik vulgar seperti
>>      itu, nggak ada gunanya menang di senayan...
>
>Irwan:
>Lha, kalau yg akan dapat duit berlimpah itu dijamin aman,
>apa ngga mungkin mereka mau menerimanya?

Yw: Kalo dijamin aman: mau, mau banget (most of them).

    Tapi berikutnya:
    ingat Pak, voting tertutup... nobody can control
    apa yg akan mereka pilih. Kalo ujungnya terus
    uang diungkit-ungkit... ya, itu artinya tidak
    dijamin aman, dong...

    Dan setelah misalnya Amien Rais terpilih presiden,
    orang (yg terima duit) bisa berkilah: "Saya mengikuti
    saran Amien Rais, kalo ada yg kasih duit: terima,
    tapi waktu voting, saya pilih Pak Amien Rais...
    Yg ngasih duit saya si anu. Money politics terbukti
    dilancarkan oleh kelompok anu. Sekarang uangnya
    saya salurkan utk kepentingan rakyat..."

    Wow,... luar biasa. Kalo anda si anu itu (dan udah
    keluar 8 trilyun),... gimana rasanya, Pak?
    Rencananya terlalu gampang dijungkir.

...

>Kalau saya jadi Soeharto, kekayaan yg 15 milyar dolar AS itu
>tidak akan menjadi masalah bila berkurang sekitar 1 milyar dolar
>asalkan sisa hartanya terjamin selamat. Satu milyar dolar AS
>itu khan sama dengan 8 triliun rupiah. Jadi apa yg sempat
>dilontarkan oleh bung Efron, tampaknya cukup besar kemungkinan
>terjadinya.

Yw: No, no, no... You won't do it. Kalo anda beneran
    punya 15bil, dan diuber 50% orang Indonesia dan
    didukung 50% orang Indonesia... Ya, udah, pindah
    hidup di Cleveland, Ohio aja... ;-) Nggak sampe
    1 bil biayanya.

    Value dari kekayaan status quo (yg tersembunyi),
    bisa lebih dari 15bil; mungkin; tapi likuiditasnya
    (kebebasan membelanjakannya) (utk tujuan politik
    yg sangat spesifik di suatu sidang terbuka),
    sulit, Pak.

    Tidak semua hal bisa dibeli dg uang.
    Dan kalo orang udah dianggap lacur, malah
    uangnya dianggep nggak laku... Ini hukum alam.
    Optimis, lah Pak.

...

>Irwan:
>Saya harap pun demikian, bung Yusuf. Hanya saja saya lebih
>senang memilih jalur aman dengan membatalkan kebijakan
>yg memberikan kesempatan pengangkatan atas 200 + 38 orang tsb.

Yw: That's even better. Suatu assurance.

>Saya tidak berharap terjadi ramai2 di tanah air, tapi saya
>juga tidak berharap kekuatan Golkar cs kembali memimpin
>negeri kita.
>
>jabat erat,
>Irwan Ariston Napitupulu

Yw: Udah dulu, deh.

Kirim email ke