...

>Mengenai dugaan anda bahwa voting dengan cara tertutup
>tidak akan diketahui siapa memilih siapa, ternyata masih
>belum tepat.
>Sekedar informasi saja, walaupun voting dilakukan secara tertutup
>dengan cara mencoblos kertas calon presiden yg diinginkan,
>akan tetap bisa diketahui siapa memilih siapa.

... dst.

Yw: Ya, kalo itu sih namanya bukan voting tertutup.
    I mean literally, yg namanya voting tertutup itu
    bukan demikian. ;-)

    Anyway, kalo votingnya dibuat 'seolah-olah'
    tertutup begitu. Bukan hanya 'arranger' yg bisa
    'main', pemilih pun bisa main. Di orde yll,
    memang sulit, karena 'sangsi'-nya represif,
    tapi ini orde reformasi... ;-) Beda.

    Let say, yg 200 orang, vote tidak sesuai instruksi.
    (Instruksinya misalnya memenangkan status quo).
    Eh, tapi dasar, status quo tetep menang! So what?

    Apa yg 200 orang mau ditegur? (dalam arti uangnya
    yg udah dikasih diminta lagi) Kan tidak. Kalo
    ditegor, ya sama artinya mereka mengakui telah
    melakuan cheating selama voting dong... Terus
    rakyat tahu... Cilaka butul...

    Kalopun mereka dipinggirkan, kan udah terima duit.
    Udah terima duit, udah menurutkan nurani...
    Jadi puas (walopun kalah). Dan kalopun dipinggirkan,
    mereka bisa 'nyanyi'... (bahwa dulu 200 orang
    dikasih duit, dlsb).

    Peluang sih (masih) ada, tapi dibanding dulu, udah
    jauh sekali.... Jauh lebih sulit. Itu kesimpulan
    saya.

...

>jabat erat,
>Irwan Ariston Napitupulu

Yw: Salam.

Kirim email ke