Assalamualaikum wr.wb

Membaca berita dibawah ini, saya mulai berpikir kembali tentang "makna
sebenarnya" dari istilah pro status quo dan reformis.


Bagaimana rekan-rekan, ada yang bisa menjelaskan standar apa yang dipakai
dalam menilai seseorang/partai politik itu sebagai pro status quo atau
reformis ..?

Apa hanya sekedar didasarkan pada ada tidaknya hubungan masa lalu dengan
Soeharto dan rejim ORBA (atau "orang lama"...meminjam istilah bung
bridwan)... ?

Atau lebih didasarkan pada ada tidaknya kesamaan ide,pola pikir,dan
tindak-tanduknya dengan Soeharto dan rejim ORBA ?


Bagaimana dengan "orang/partai politik lama" (eks bagian dari pemerintahan
orba) yang mau bertobat dan mulai melakukan perbaikan dan perubahan untuk
membawa masyarakat ke arah yang lebih baik..., apakah mereka masih tergolong
pro status quo..?

Dan apakah "orang-orang/parpol baru " yang meski tidak punya hubungan tapi
masih menunjukan kesamaan  pandangan,pola pikir, sikap, dan prilaku dengan
Soeharto dan rejim Orba, masih bisa dikatakan reformis..?


Mudah-mudahan dengan adanya kejelasan "standar penilaian" pro status quo dan
reformis ini, kita dapat melihat secara jernih dan mengatakan secara jujur
mana pihak-pihak yang pro status quo dan mana pihak-pihak yang disebut
reformis. Janga sampai kita mengatakan sebaliknya....


Wassalam,
Mohamad Rosadi
Virginia


>From: "Faransyah Jaya" <[EMAIL PROTECTED]>
>To: [EMAIL PROTECTED]
>Subject: Re: [bincang] Pabottingi: PDI Mega Anti Reformasi
>Date: Tue, 01 Jun 1999 07:31:28 PDT
>
>Apa bener ya ??
>
>Moga aja nggak deh ..
>kalo beneran terjadi bisa serem juge ..
>Artikel ini mirip sekali dengan hal-2 yang di bahas di "santiaji" yang di
>laksanakan kemarin.
>
>Faran
>
>------------------------------------------------
>Pabottingi: PDI Mega Anti Reformasi
>Reporter Budi Sugiharto
>detikcom, Surabaya.

PDI Perjuangan sudah loncat pagar. Dulu mengaku
reformis, ternyata tindak-tanduknya anti reformasi. "Saya sangat
khawatir dengan langkah PDI Perjuangan yang sudah lompat pagar," kata
pengamat LIPI Mochtar Pabottingi di Surabaya, Selasa (1/6/1999).

Reformasi itu jelas dalam tindakan dan pemikirian. Dan ternyata,
pemikiran >PDI Perjuangan seperti dalam programnya tidak mau mencabut dwi
fungsi ABRI dan tak mau mengamandemen (mengubah) UUD 45. Padahal amandemen
itu perlu,menurut Mochtar untuk menciptakan rasionalitas perundang-undangan
dan supremasi hukum.

Pendapat Mochtar ini bukan satu-satunya pengamat yang mengatakan
demikian. Sebelumnya, pengamat politik yang lagi naik daun Eep Saifulloh
Fatah pun menilai bahwa Mega pro status quo karena tindakannya. Begitu pula
Hermawan Sulistio mengatakan demikian. Sedang Nurcholish Madjid secara
tersamar bahwa yang dimaksud status quo bukan pada organisasinya tapi
pemikirannya.

Dengan tidak maunya mengamandemen UUD 45, yang memiliki banyak
kelemahan, maka peluang Megawati untuk menjadi diktator besar. Ia bisa
menumbuhkan otoritarianisme baru karena dalam UUD pasal 7 misalnya, Presiden
dipilih lima tahun sekali, tapi tak jelas untuk berapa kali masa jabatan.
Dan masih banyak kelemahan lainnya sebab UUD memang dibuat dalam masa
darurat."Saya tidak sependapat dengan pernyataan Megawati yang mengatakan
bahwa tak mau mengubah UUD 45 karena alasan demi persatuan bangsa. Saya
harap itu hanya taktik PDI perjuangan saja untuk memenangkan pemilu.
Tapi,kalau ternyata amandemen dan pencabutan dwi fungsi ABRI tidak
terlaksana, maka terbukti PDI Perjuangan sudah meloncat pagar sebagai yang
anti  reformasi,"
katanya. "Dulu mengaku partai reformis, ternyata tindakannya menjadi
anti reformis," tambahnya agak kesal.

Apakah kemenangan PDI Perjuangan akan memunculkan Rezim Orba Seri
II, Mochtar mengatakan mungkin saja. Namun, menurut peneliti senior LIPI
ini, banyak sekali peluang tampilnya Rezim Orba seri II. Antara lain melalui
ICMI, Golkar, Parpol yang melanggengkan dwifungsi ABRI, Utusan Daerah di
MPR, dan partai-partai kecil yang melanggengkan status quo.

Tentang adanya politisasi agama oleh kelompok Habibie bahwa kalau
bukan orang Islam yang memimpin negara akan rusak, menurutnya partai Islam
jika mendukung Habibie salah kaprah. Sebab hal ini mengesankan bahwa orang
Islam dan non Islam harus berhadapan. Padahal, menurut Mochtar, orang Islam
dan non Islam harus bergandeng tangan membangun pemerintahan yang
berkualitas.


>Hak Cipta � detikcom Digital Life 1999
>
>
>_______________________________________________________________
>Get Free Email and Do More On The Web. Visit http://www.msn.com
>
>
>
>-----------------------------------------------------------------------------
>Kongres dan Seminar PERMIAS Nasional 1999
>3-5 September 1999
>Host: PERMIAS Washington, DC
>-----------------------------------------------------------------------------


______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

Kirim email ke